spot_img

Ancaman Perang Nuklir Masih Ada

ANCAMAN perang nuklir masih belum pupus sama sekali 73 tahun pasca tragedi yang merenggut sekitar 214.000 nyawa manusia akibat dijatuhkannya bom atom Amerika Serikat di Hiroshima dan di Nagasaki, Jepang pada Agustus 1945.

Sejumlah konflik regional di Timur Tengah seperti Israel melawan Palestina dan negara-negara Arab, konflik internal Suriah yang melibatkan kekuatan regional (Iran, Turki dan Arab Saudi) dan juga kekuatan global AS dan sekutu-sekutunya dengan Rusia, sewaktu-waktu bisa bereskalasi menuju perang nuklir.

Kabar yang menggembirakan, berlangsungnya proses peredaan ketegangan antara Korea Utara yang juga memiliki kekuatan nuklir dengan seterunya, negara serumpun, Korsel yang didukung AS dengan dilangsungkannya pertemuan antaraketiga pemimpin negara tersebut di Panmunjom dan Singapura beberapa bulan lalu.

Namun di balik kesepakatan pengurangan senjata nuklir antar AS dan sekutu-sekutunya dan Uni Soviet pasca berakhirnya era Perang Dingin (dekade ’90-an), perlombaan persenjataan global bahkan terus meningkat.

Seperti diungkapkan Sekjen PBB Antonio Guterres, pada 2017 saja tercatat lebih 1,7 triliun dollar AS (sekitar Rp26.400 triliun) dibelanjakan untuk keperluan pesenjataan dan militer di seluruh dunia.

Bisa dibayangkan, uang sebanyak itu jika dialihkan penggunaannya untuk mengentaskan penduduk miskin dunia yang pada 2017 jumlahnya 767 juta orang (terbanyak di wilayah sub-sahara Afrika 388,7 juta orang, kemudian di Asia Selatan 256,2 juta orang).

Bom atom pertama dengan kode “Little Boy” berkekuatan 13 kiloton TNT dijatuhkan dari pesawat pengebom B-29 Superfortress bernama sandi Enola Gay di atas kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 menewaskan 140.000 orang . Tiga hari kemudian, pesawat sejenis dengan kode Bockscar menjatuhkan bom atom kedua “Fat Man” berkekuatan 21 kiloton TNT di atas kota Nagasaki, menewaskan 74.000 orang.

Daya rusak lebih hebat
Senjata nuklir saat ini dengan hulu ledak berkekuatan sampai 700 kiloton TNI atau puluhan kali dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki 73 tahun lalu, bisa diluncurkan dengan rudal balistik dari silo-silo di bawah tanah, kapal selam atau pesawat pengebom yang berada ribuan km dari sasaran.

Ancaman perang nuklir bisa saja sewaktu-waktu muncul walau lima negara pemilik senjata pemusnah massal itu yakni AS, Rusia, China, Inggeris dan Perancis telah menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir (TNT) yang berintikan program perlucutan, non proliferasi dan penggunaan nuklir untuk damai.

Seluruhnya ada 62 negara yang menandatangani TNT pada 1968, sedangkan empat negara kekuatan nuklir lainnya yakni India, Israel, Korea Utara dan Pakistan belum melakukannya. Korut memang pernah masuk TNT pada 1985, namun keluar pada 2003.
Kecemasan terulangnya kembali senjata pemusnah massal disampaikan oleh Walikota Hiroshima Kazumi Matsui saat memperingati tragedi kemanusiaan di kedua kota di Jepang itu, Kamis ((9/8) lalu.

Menurut dia, ancaman perang nuklir semakin menguat belakangan ini seiring bangkitnya kembali nasionalisme di sejumlah negara dan upaya untuk memordenisasi arsenal nuklir mereka.

PBB sendiri pada 1996 mengadopsi Traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) memuat larangan ujicoba nuklir di permukaan dan bawah tanah, di atmosfir dan di bawah permukaan laut.

Lima negara pengembang senjata nuklir yakni AS, China, Mesir, Iran dan Israel menandatangani CTBT namun tidak meratifikasinya, sementara empat pemilik senjata nuklir yakni India, Israel, Korut dan Pakistan menolaknya.

Dunia diambang Perang Dunia III pada 1962 akibat penempatan rudal-rudal berhulu ledak nuklir Uni Soviet di Kuba yang mengancam wilayah AS. Beruntung, PM Soviet Nikita Kruschev mengalah dari ancaman Presiden AS John F Kennedy dan bersedia membongkarnya hingga dunia terhindar dari malapetaka.

Bercermin dari tragedi Hiroshima dan Nagasaki, di tengah peradaban dan di era now yang diwarnai semangat kemitraan global, pengembangan senjata pemusnah massal selayaknya dihentikan. (NS/berbagai sumber)

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles