LOMBOK – Kebahagiaan tengah menyelimuti Munawar dan suaminya (Mustiadi) di Sembalun. Pasangan lansia itu bahagia karena anak pertamanya baru melahirkan cucu ke empat mereka. Seminggu kemudian gempa berkekuatan 6,4 SR menghantam kampung mereka.
“Bingkai foto yang terpajang jatuh dari dinding, bangunan rumah bergetar. Kami semua panik dan keluar rumah. Ternyata di jalan sudah ramai dengan warga yang juga ketakutan, gempa bumi,” tutur Munawar (9/8).
Ia juga bercerita, bahwa hari itu seluruh keluarganya sedang berkumpul di rumahnya untuk menikmati libur akhir pekan. Kepanikan yang ia rasakan, dialaminya setelah melakukan shalat Subuh bersama suaminya. Setelah itu mereka hendak membangunkan seluruh keluarga, termasuk para cucu yang masih terlelap, untuk melaksanakan ibadah bersama.
Walau kerusakan pada rumah mereka tidak separah korban terdampak gempa lainnya, tetapi mereka belum berani untuk tinggal di dalam rumah lebih lama, terutama saat malam hari. Untuk sementara, mereka tinggal di luar bangunan rumah, di balik sebuah bilik kayu kecil yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil pertanian bawang putih, kentang, dan cabai.
“Setiap hari masih ada gempa susulan, besar-kecil, pagi-malam. Bahkan bisa 5 sampai 10 kali gempa yang terasa dalam sehari. Dinginnya Sembalun terasa sekali kalau tidur malam di sini,” ujar Munawar, sambil bergurau.
Ya, benar. Bagi Munawar dan suaminya, kebahagiaan masih menyelimuti keluarga kecilnya di Sembalun. Walau kini terdampak gempa, mereka tetap bersyukur, seluruh anggota keluarganya masih selamat dari peristiwa gempa bumi tersebut. Melalui musibah ini, terdapat sisi lain bagi Munawar.
Ia dan keluarganya mempersilahkan keleluasaan, berbagi tempat untuk mendirikan pos komando (posko) bagi para relawan aktivis kemanusiaan, tim Respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa. Seakan tak peduli dengan keadaannya yang juga sedang membutuhkan bantuan, tapi Munawar percaya, membuka kebaikan akan memberikan kebaikan lainnya.
“Adalah, kebahagiaan jika tetap saling tolong-menolong walau dalam keadaan sempit,” aku Munawar, sambil menggendong cucunya dan menikmati matahari pagi di Sembalun.





