
PEMIMPIN Korea Utara Kim Jong-un telah menginstruksikan militernya untuk segera memproduksi secara massal rudal balistik Pukguksong II (Bintang Utara) yang dinyatakan sukses dalam uji coba yang digelar akhir pekan lalu (19/5).
Kantor Berita Korut, KCNA melaporkan, Jong-un mengungkapkan kepuasannya saat menyaksikan uji coba peluncuran rudal berakurasi tinggi tersebut dari suatu lokasi yang dirahasiakan.
Rudal jarak menengah Pukguksong II yang disebutkan mampu membawa hulu ledak (warhead) nuklir dan berjarak jangkau 500 Km, cukup mencemaskan musuh-musuh Korut, terutama tetangga serumpun Korea Selatan, Jepang dan tentu saja Amerika Serikat yang melindungi keduanya.
Uji coba yang digelar pertengahan Februari lalu mengalami kegagalan dan rudal tercebur di perairan antara Korut dan Jepang beberapa saat setelah diluncurkan.
Berbeda dengan rudal-rudal Scud ex-Uni Soviet yang dioperasikan Korut dan rudal-rudal Nodong, Rodong, Taepodong 1, Taepodong 2 serta Musudan yang merupakan “copy paste” teknologi Soviet era 1960′-an yang digerakkan dengan bahan bakar propelan cair, Pukguksong berbahan bakar padat.
Yang dicemaskan musuh-musuh Korut, selain proses peluncurannya lebih cepat, jarak jangkau lebih jauh, mobilitas rudal Pukguksong juga lebih tinggi karena bisa diluncurkan dari bawah permukaan laut (kapal selam) dan juga kendaraan taktis sehingga sukar dilacak.
Rezim Korut sebelumnya juga mengklaim telah mampu membuat senjata nuklir untuk dipasang sebagai hulu ledak di rudal-rudal seperti Pukguksong II walau AS, Korsel dan Jepang masih menyangsikannya.
Namun demikian, untuk tindakan berjaga-jaga, AS sudah menggelar sistem pertahanan rudal anti rudal Terminal High Altitude Air Defence (THAAD) yang berfungsi menghadang kedatangan rudal musuh saat masih berada di ufuk tinggi untuk memperkuat sistem rudal anti rudal, Patriot yang sudah digelar lebih dulu.
Korut sejauh ini tetap bergeming terhadap protes internasional dan sanksi embargo ekonomi yang diberlakukan DK PBB atas pengembangan senjata nuklir dan uji coba rudal-rudal balistiknya.
Bahkan rezim penguasa Korut menantang akan membumi hanguskan daratan AS jika Presiden Donald Trump berani mencoba-coba menyerang negaranya.
Sebaliknya, kans AS akan menyerang Korut lebih besar setelah AS menyerang pangkalan udara Shayrat, Suriah (6/4) yang sebelumnya digunakan oleh pesawat-pesawat tempur rezim Bashar Al-Assad membomi warga sipil di Desa Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib (4/4) .
Aksi “cowboy” Trump berikutnya dilakukan AS dengan menjatuhkan bom jumbo atau biang segala bom (mother of all bombs –MOA ) GBU-43B ke kompleks pangkalan dan markas utama pasukan NIIS di Distrik Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan (13/4).
Kedua serangan AS tersebut yang semula kemungkinan dijadikan “test the water” untuk mengetahui reaksi dunia, justeru direspons positif oleh sejumlah negara Arab dan bagian dunia lainnya yang mengharapkan tindakan lebih keras terhadap aksi-aksi terorisme kecuali dari Iran dan Rusia yang memang berseberangan dengan AS.
Jong un agaknya sedang bermain api, sehingga jika ada pihak-pihak yang tidak bisa menahan diri, risikonya Semenanjung Korea bisa terbakar menjadi lautan api (AP/AFP/Reuters/NS)



