BERKAT keberhasilannya membunuh Resi Subali dan Dewi Tara kembali jadi milik Sugriwa, Ramawijaya berhasil menjadi penguasa Pancawati tanpa melalui Pilkada. Sugriwa pun sebagai pemilik asli negeri Pancawati rela hanya menjadi patih. Bagi dia, kenikmatan punya istri kembali lebih penting, ketimbang kenikmatan menjadi raja di Pancawati yang PAD-nya kecil, hanya sekitar buah-buahan berupa pepaya, mangga pisang jambu, yang dibawa dari Pasar Minggu. Tapi memang itulah makanan pokok kawula Pancawati yang terdiri dari kaum kera.
Sebaliknya Ramawijaya, meski telah menjadi raja di Pancawati, dia terus ngejomblo tanpa istri, gara-gara Dewi Sinta, dicolong oleh Prabu Dasamuka dari Ngalengkadiraja. Resikonya setiap malam kedinginan, tidur hanya ditemani guling tanpa makna. Pernah Patih Sugriwa menyarankan, dalam kondisi darurat kan bisa cari istri secara online. Tapi Prabu Ramawijaya tidak mau. Di samping mengkhianati cinta Dewi Sinta, juga membebani anggaran negara. Masa begituan saja 1 jam sampai Rp 85 juta.
“Jika tak mau pakai dana APBN, kan bisa pakai DOR (Dana Operasional Raja), Sinuwun,” saran Patih Sugriwa.
“Enggaklah, DOR lebih baik saya bawa pulang, buat tabungan di hari tua nanti.” Jawab Prabu Rama yang merupakan penguasa ekonomis.
Justru saking cintanya pada Dewi Sinta, seminggu setelah menjadi penguasa program kerja pertamanya adalah membebaskan kembali Dewi Sinta dari cengkeraman Prabu Dasamuka. Informasi ini dulu jelas diperoleh dari burung Jatayu yang nyaris mati setelah perang udara dengan Dasamuka. “Dewi Sinta dibawa kabur Dasamuka raja Ngaleng…..,” kata burung Jatayu kala itu, kemudian tewas. Oleh Prabu Rama dan Lesmana, mayatnya segera dikuburkan di TPU San Diego Hill.
Kala itu Ramawijaya masih bingung, Dasamuka dari Ngaleng itu tokoh apa dan dari mana. Untung ada Wikipedia di Mbah Google, sehingga dengan cepat diperoleh data-datanya. Ternyata Dasamuka adalah raja Ngalengkadiraja, yang sebetulnya telah memiliki istri Dewi Tari, tapi rupanya masih kurang, sehingga ingin mengawini Dewi Sinta titisan Widowati, demi melaksanakan program “wayuh bersyariah” (poligami).
“Kakang Patih Sugriwa, saya harus segera kirim utusan ke Ngalengka, untuk mengecek kebenaran istriku ada di sana. Lalu siapa kiranya yang bisa kita kirim?” kata Prabu Rama.
“Untuk menghemat anggaran, sebaiknya kita tugaskan saja kapi Anoman, ponakan saya sendiri, Sinuwun. Dia kan bisa terbang, jadi nggak perlu beli tiket pesawat, yang harganya sekarang naik tinggi sekali.”
Prabu Rama manggut-manggut macam Pak Harto penguasa Orde Baru dulu. Benar juga pertimbangan patihnnya ini, demi penghematan anggaran. Kenapa harus naik pesawat, jika terbang solo saja bisa. Ini jelas lebih praktis dan ekonomis. Tak perlu bawa koper dan ngurus paspor dan visa segala. Cukup isi ransel dengan buah-buahan dan 2 botol Aqua cukup.
Kapi Anoman yang hadir dalam sidang itu diminta maju ke depan, untuk ditanya kesiapannya menjadi utusan negara yang duta angrampungi (mampu selesaikan segala masalah). Tapi belum sempat ditanya, kapi Anggodo yang sepupu Anoman juga tunjuk jari, siap menjadi delegasi ke Ngalengka.
“Maaf Sinuwun, jika ukurannya bisa terbang, hamba juga bisa, malah punya jam terbang sampai 650 jam.” Kata kapi Anggodo membanggakan diri.
“Pernah terbang ke mana saja kamu?” Prabu Rama bertanya.
“London, Washington DC, Los Angeles terakhir Lenteng Agung.” Jawab Anggodo polos.
Gantian kapi Anoman tunjuk jari, untuk mematahkan alasan kapi Anggodo. Kata dia, banyak pengalaman terbang tak ada artinya, jika tak punya kesaktian memadai. Sebab raja Ngalengka ini terkenal kesaktiannya, apa lagi dia punya ajian Pancasona, sehingga terbebas dari kematian. Maka Anoman menjamin mampu menaklukkan Dasamuka manakala Dewi Sinta dipertahankan tak boleh dibawa ke Pancawati.
Benar juga alasan Anoman, sebagaimana kata Google, ajian Pancasona memang menjadikan pemiliknya terbebas dari kematian. Tapi masih kata Google pula, ajian Pancasona masih kalah ampuh oleh Pancasila, karena mampu mempersatukan semua wayang dalam kotak kidalang, baik dari golongan kesatria, begawan, kera maupun raksasa.
“Bagaimana patih Sugriwa, kita kirim Anoman apa Anggodo?”
“Demi adilnya, kita adu saja. Anoman-Anggodo disuruh berantem, dengan sponsor Udatimex seperti pertandingan tinju Mohammad Ali dulu.” Jawab Patih Sugriwa.
Demikianlah, kapi Anoman dan kapi Anggoda kemudian mengadu kesaktian di alun-alun Pancawati. Kedua anak muda milenial ini memang sama-sama kuat, mereka bersepupu, sebab Anoman adalah anak Dewi Anjani kakak Subali, sedangkan Anggodo anak Subali. Yang menjadi pertanyaan, kenapa Subali yang punya ajian Pancasona, justru diberikan kepada Dasamuka, bukan kepada anak kandung sendiri. Kabarnya, kala itu Subali terbelit utang bank, sehingga Dasamuka yang bisa menutupnya.
“Dimas Anggodo, kita berantem nggak perlu serius-serius amatlah. Ini formalitas saja. Jika Dimas yang menang, ya nggak papa, gua rela kok tak dikirim ke Ngalengka.” Ujar Anoman merendah.
“Ya enggaklah. Ini demi kehormatan kita bangsa kera di Pancawati. Kita harus bisa menjadi kera yang sukses, semua bisa berandil untuk kemajuan bangsa. Jangan sampai bangsa kita dilecehkan, sampai ada yang diperbudak orang jadi topeng monyet segala,” jawab Anggodo.
“Sssst, jangan bilang monyet begitu, kata-kata ini sedang sensitip.”
Dengan disaksikan panitia kecil, Anoman-Anggoda berantem. Anoman maunya formalitas saja, tapi Anggodo yang ingin menanjak kariernya sampai dipromosikan sebagai tokoh andalan, benar-benar serius dalam pertempuran ini. Dia memukul Anoman dengan kekuatan full. Tentu saja Anoman merasa kesakitan, akhirnya dia juga main gaspol, tak lagi memandang saudara.
Hanya dalam tempo 5 ronde, pertandingan selesai. Anoman menggunakan ajian Maundri dengam stelan setengahnya, itupun telah membuat pukulan tangannya menjadikan Anggodo pingsan. Itu artinya, kapi Anomanlah yang berhak menggondol tiket sebagai duta ke Ngalengkadiraja.
“Selamat Anoman, kamu besok pagi sudah bisa terbang ke Ngalengka,” puji Prabu Rama sambil menyalaminya.
“Terima kasih paduka,” jawab Anoman tersipu-sipu. (Ki Guna Watoncarita).



