ANOMAN OBONG (III)

Prabu Dasamuka marah, karena dikuliahi Anoman. Saking emosinya, Anoman diperintahkan untuk dibakar di alun-alun.

SEBAGAIMANA Anoman, Prabu Dasamuka juga penasaran sekali seperti apa sih sosok maling yang tengah malam menyatroni Taman Argasoka. Pastilah dia pencuri yang bosan hidup, sebab penjagaan di taman keputren tersebut ketat sekali. Jangankan wayang lain, sedangkan Prabu Dasamuka sendiri jika mau ketemu Dewi Sinta harus melalui pintu detektor. Pernah sekali waktu pintu detektor itu bunyi saat dilewati Prabu Dasamuka. Begitu digeledah Satpam, ternyata obeng mini untuk pengencang kacamata. Raja Ngalengka ini memang selalu bawa kacamata baca.

“Hai Satpam, gila kamu ya? Masak topeng monyet kamu bawa ke sini? Apa-apaan ini. Sudah, sudah……kamu kirim ke bonbin Ragunan sana.!” Sergah Prabu Dasamuka marah sekali.

“Bukan, paduka. Memang begitu wujudnya, tapi dia kera yang bisa ngomong. Coba saja paduka bertanya langsung, pasti mau jawab dia.” kata Satpam meyakinkan bos.

Prabu Dasamuka memang cukup kaget dibuatnya. Maling bentuknya kera besar, jenis baboon. Dia berpakaian lengkap. Di depan Prabu Dasamuka tak mau duduk nglekor di lantai. Tetap saja berdiri. Begitu borgol dibuka, kedua tangannya langsung masuk saku celana dengan gayanya yang pongah. Mengingatkan pada Rocky Gerung langganan ILC di TV One.

“Siapa namamu, bangsat!” dampratan perdana pada si maling berwujud kera.

“Lihat saja di Google, ketik saja  “sapukawat pancawati” akan tahu siapa gua…” jawab Anoman sambil mendesis, kedua tangannya terus dalam sakunya.

Prabu Dasamuka segera ambil kacamata dan buka HP androidnya barang sebentar, untuk melacak di Google. Habis itu tertawa terkekeh-kekeh, ternyata rupanya ini yang bernama Raden Anoman alias Ramandayapati, panglima pasukan kera di Pancawati. Penampilannya sederhana. Mobil dinasnya bukan sedan  Toyota Camry super salon, cukup pikup Esemka made in Boyolali, yang OTR hanya Rp 150 juta.

Beda sekali dengan Prabu Dasamuka, ke mana-mana pakai mobil mewah. Tapi karena raja pelit, dia cukup nggenteni bekas milik pengacara Hotman Paris, bahkan pernah pula beli milik H. Lulung saat di DPRD DKI. Beruntung nopolnya satu ganjil dan satunya genap, sehingga pas sekali untuk menyiasati aturan ganjil genap oleh Gubernur Ngalengka.

“Oo, kamu yang bernama Raden Anoman. Keren betul, pakai gelar ningrat segala. Lalu apa maksudmu malam-malam truthusan (ngelayap) masuk Taman Argasoka, ketemu Dewi Sinta?”

“Nggak usah banyak mulut. Kembalikan saja Dewi Sinta pada Prabu Rama raja kami. Ente kan raja kaya raya, nikahi artis sinetron sejuta episode juga bisa. Jangan ganggu bini orang, bisa mampet rejekimu, tahu!” ujar Anoman masih memasukkan kedua tangannya ke kantong celana, benar-benar duplikatnya Rocky Gerung.

“Dasar monyet!” maki Prabu Dasamuka sambil melempar sepatu ke muka Anoman. Tapi karena berkelit, yang kena justru Satpam.

“Hai Dasamuka, boleh kamu ngomel dengan kata apa saja, tapi jangan rasialis lho ya.” Anoman mengingatkan.

Prabu Dasamuka justru semakin kalap. Anoman langsung digebuk pakai potongan kaso 5/7, tapi ternyata tidak apa-apa. Mau diulang tahu-tahu dicegah oleh Gunawan Wibisono, adik kandung Dasamuka. Merujuk hukum internasional tentang diplomat, duta besar punya kekebalan diplomatik, tak boleh disakiti, apa lagi dibunuh. Jika Prabu Kertonegara memangkas kuping Menky, itu karena di abad itu Singosari belum meratifikasi perjanjian tersebut.

“Tahan saja Kangmas Prabu, tapi jangan dianiaya, ketimbang nanti Ngalengka dapat kecaman internasional.” Nasihat Gunawan Wibisono.

“Ya sudah, tahan saja di Rutan Guntur, jangan LP Sukamiskin. Nanti bisa kelayapan ke mana-mana.” Perintah Prabu Dasamuka pada Satpam.

Tapi begitu Gunawan Wibisono pergi, Prabu Dasamuka berubah pikiran. Satpam justru diperintahkan membawa Anoman  ke alun-alun Ngalengka, untuk dibakar. Anoman pun segera diikat pakai rantai, dikaitkan pada tiang bendera Bintang Jaka Belek, bendera negara kesatuan Ngalengkadiraja. Direncanakan akan dibakar siang hari nanti pas panas terik matahari membakar seantero wilayah negeri.

Prabu Dasamuka memang pelanggar Ham kelas nomer wahid. Dijemur seperti itu mestinya kan Anoman diberi buah-buahan segar sebangsa anggur, apel, buah naga beserta minuman Aqua. Tapi ini tidak, malah hanya diberi kue bolu kelumbeng bantat (keras). Tentu saja Anoman tak mau menyentuhhnya, karena bisa mendelik-mendelik mati keseretan!

“Kue apaan ini? Memangnya gue sedang melayat?” gumam Anoman.

Beruntung tak semua rakyat Ngalengka pro kebijakan Prabu Dasamuka, salah satunya punakawan Togok-Bilung. Mereka tak tega melihat Kapi Anoman diberlakukan demikian. Keduanya memberikan mentimun dan krai berikut air kendi, sehingga Anoman langsung makan dengan lahapnya.

“Terima kasih, ya. Kalian sudah berbaik hati sama saya. Siapa nama kalian?” kata Anoman sambil glegeken.

“Kami Togog-Bilung, pegawai honorer K-2 di Ngalengka. Kami sudah 25 tahun bekerja, tapi tak kunjung diangkat jadi PNS.” Jawab kedua punakawan itu malah curhat.

Anoman manggut-mangggut. Lalu sambil berbisik dia memberi tahu agar rumah keduanya diberi tanda apa kek, janur kuning atau bendera merah di bubungan. Nanti siang bakal ada sesuatu yang mengerikan. Tapi dengan tanda “bahaya udara”, dijamin keluarga Bilung dan Togok akan tetap selamat sejahtera.

Togok-Bilung bingung juga dibuatnya. Bahwa Anoman siang nanti mau diobong, keduanya sudah tahu, karena nonton beritanya di TV. Tapi jika Anoman memerintahkan pasang tanda “bahaya udara” apa hubungannya? Tapi karena tak enak dilihat orang lain, keduanya hanya mematuhi anjuran Anoman saja.

“Lung, apa ya maksudnya ini. Kalau di Solo, bendera merah kan pertanda ada orang meninggal. Siapa pula yang mati, kok Anoman tahu?” Togok penasaran.

“Sudahlah kang, ikuti saja. Kira orang kecil sami’na wato’na saja…..!”

Demikianlah, tepat pukul 12.00 waktu Ngalengka. Anoman langsung dibruki karton bekas, triplek bekas, baru disiram bensin. Selanjutnya Satpam melempar geretan belll…….api pun membakar tumpukan karton-triplek tersebut. Anoman  yang ada di dalamnya, mestinya mati. Tapi berkat ajian Maundri, dia mampu melepaskan diri dari rantai. Dengan membawa serpihan karton-triplek yang masih menyala-nyala, Anoman meloncat dari satu rumah ke rumah lainnya di Ngalengka.

Dalam waktu cepat api membakar seluruh negeri Ngalengka, tanpa mampu dijinakkan pasukan branwir. Sedangkan Anoman sendiri langsung terbang kembali ke Pancawati, melaporkan hasil surveinya ke Ngalengka. Anehnya, di kala hampir semua rumah rakyat di Ngalengka jadi arang, rumah Togok dan Bilung tetap utuh, terbebas dari kebakaran masif. Janur kuning dan bendera merah di bubunganlah yang jadi dewa penyelamatnya.

“Untung kita pasang bendera merah, ya Lung. Selamat kita.” Kata Togok sambil memeluk Bilung. (Tamat – Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement