ANTASENA WISUDHA

Werkudara siap dengan gada Rujakpolo, untuk menghajar kepala Antasena.

NEGRI Amarta ternyata masih sangat tergantung pada minyak bumi sebagai PAN (Pendapatan Asli Negara). APBN-nya selama ini 50 persen ditopang oleh hasil ekspor minyak bumi produksi Sumur Jalapatra. Separonya lagi dari pemasukan pajak, yang jumlahnya selalu mengalami pasang surut. Padahal Prabu Puntadewa sebagai penguasa Amarta, dalam urusan pajak terkesan ngrekes (hina) sekali. Masak, pedagang bakso keliling dan es pung dipajaki juga. Bahkan penulis di media masa dan online saja juga dikenai cukai sampai 15 persen.

Dulu Amarta sempat menjadi anggota OPEC (organisasi minyak dunia). Tapi sejak Sumur Jalapatra dipimpin Tumenggung Ranu Sutowo, ekspor BBM ke manca negara makin menyusut dan akhirnya nol. Ada bau korupsi di situ, tapi Prabu Puntadewa wayangnya nggak tegaan, sehingga Tumenggung Ranu Sutowo tak sampai dipenjarakan. Hanya diberhentikan kemudian dijadikan Kepala Rumahtangga Istana Indraprasta sampai pensiun.

“Dimas Werkudara, mungkin punya calon yang cocok pimpin BUMN Jalapatra. Kita sudah berulangkali ganti Dirut, tapi tak ada yang pas juga. Jika tidak korupsi, salah urus….,” keluh Prabu Puntadewa.

“ Maaf, kangmas Puntadewa, aku tak punya pilihan. Tapi kalau boleh menyarankan, jangan ambil orang dari partai, bisa bahaya. Dia akan bawa sejumlah staf khusus untuk cari uang di kementrian.”

“Ketimbang repot, dilelang saja kenapa?” saran Prabu Kresna raja Dwarawati.

Demikianlah, Patih Tambakganggeng yang kalah ngetop dibanding jubir istana Mochtar Ngabalin, selesai sidang kerajaan terbatas di Indraprasta segera mengumumkan dibukanya lelang jabatan Dirut BUMN Sumur Jalapatra. Yang ngelamar ternyata ombyokan. Persyaratannya tak hanya berpengalaman dalam bidang perminyakan, tapi juga pakai SKCK ditambah Surat Keterangan Bebas Paham Radikal.

Tapi setelah diseleksi, peserta tinggal 10 saja, karena tak memiliki kompetensi. Katanya berpengalaman bidang perminyakan, ternyata hanyalah tukang minyak keliling …..nyak minyaaaak! Dan paling banyak, mereka rata-rata tergiur oleh gajinya yang Rp 3 miliar sebulan. Padahal Prabu Puntadewa sendiri sebulan hanya terima Rp 100 juta, itupun jajaran genjang –tidak bulat– karena dipotong Pph 15 persen.

“Kalau begitu serahkan ke DPR untuk menjalani fit and proper test, Dimas Sena.” Kata Prabu Puntadewa pada Werkudara.

“DPR lagi, kenapa nggak kita tentukan sendiri. Biasanya mereka akan memilih kawan atau sosok yang aman bagi konco-konconya.” Jawab  Werkudara sambil mendesis, suranya mirip pesawat hendak tinggal landas.

Sementara itu di pertapan Gisik Narmada Dewi Urangayu sedang sedih karena anak lelaki satu-satunya hendak pergi merantau ke kota. Di samping mencari kerja juga ingin mencari bapaknya, yang katanya jadi pejabat di Amarta. Menurut data yang dilihatnya di Google, bapaknya itu Raden Werkudara, adik kandung raja Amarta Prabu Puntadewa.

“Itu hoax nak, itu Antasena yang lain. Bapakmu sih sudah mati. Sudahlah, kamu cari kerja di sini saja. Magang jadi jurutulis kecamatan kan bisa.” Saran Dewi Urangayu.

“Emak ini gimana, jadul banget deh. Masak sarjana geologi lulusan Trisakti disuruh kerja jadi jurutulis di kecamatan, itu kan pekerjaan jaman Belanda. Aku juga ingin jadi wayang top, terkenal kayak bapakku Raden Werkudara.”

Sebetulnya Dewi Urangayu senang juga anaknya ingin menggapai masa depan gemilang. Cuma yang dicemaskan, anaknya ini meski sudah sarjana tapi sopan santunnya kurang terpuji. Pada orang yang lebih tua tidak mau pakai berbahasa halus, ucapannya cenderung kasar. Emosian lagi, pernah debat mahasiswa di TV, lawan debatnya disiram pakai air teh celup. Ya basah kuyuplah……

Paling ditakuti Dewi Urangayu, dia dengar berita bahwa di Amarta banyak demo yang tak jelas, ingin menjatuhkan Prabu Puntadewa hanya dengan modal nasi bungkus dan uang transport barang Rp 50.000,- Urangayu khawatir Antasena diperalat mereka, diajak demo. Melihat karakter putranya selama ini, pastilah Antasena paling suka diajak begituan. Sungguh, Dewi Urangayu takut anak tunggalnya itu ditangkap polisi dan dibotakin seperti Pak Ogah.

“Sudahlah Mak, didadunga medot dipalangana mlumpat (baca: tak bisa dihalang-halangi), anakmu berangkat ke Amarta sekarang,” kata Antasena saat pamitan.

“Ya sudahlah Nak, apa boleh buat. Hati-hati di jalan, nyebrang lihat kanan dulu ya,” pesan Dewi Urangayu sambil bercucur air mata, nangis Bombay.

Dengan membawa tas punggung dan HP canggih, berangkatlah Antasena ke Amarta. Menurut petunjuk Google, jarak pertapan Gisik Narmada – Amarta itu sekitar 500 Km, seperti Jakarta-Yogyakarta. Dia sengaja jalan kaki saja. Di samping untuk menghemat ongkos, juga mau uji nyali. Dia ingin membuktikan pada Amien Rais, bahwa jalan kaki Jakarta-Yogyakarta itu urusan kecil asal tiap pagi minum temulawak.

Lima jam dalam perjalanan, dia ketemu sekelompok orang berjubah dan berjenggot, celananya cingkrang pula. Mereka adalah Pendita Durna, Resi Bisma dan Begawan Krepa, kesemuanya dari negeri Astina. Di tangannya ada besek besar, rupanya habis menghadiri Mauludan Betawi.

“Mau tanya Mbah, negeri Amarta sudah dekat belum ya Mbah?” kata Antasena tanpa mengangguk, apa lagi merunduk, padahal para begawan itu duduk lesehan menggelar tikar plastik.

“Kamu ini anak muda ujas-ujus, tanya pada orangtua tak ada sopan santunnya. Kami ini begawan yang sangat dihormati umat wayang. Paham…..?”  omel Pendita Durna kesal.

“Pemahaman nenek lu…..!” jawab Antasena sambil ngeloyor pergi, dia kesal sekali karena bertanya baik-baik malah diomeli. Dia kemudian berlari, setelah lebih dulu mleding memantati tiga begawan tersebut.

Syahdan, seminggu kemudian Antasena telah tiba di perbatasan Amarta. Tanya sana sini kebetulan sekali yang ditanya justru Gatutkaca yang siang itu tengah patroli seperti Satpol PP. Melihat surat keterangan jalan, ditambah postur tubuh Antasena yang mirip Werkudara, Gatutkaca tak meragukan bahwa ini adiknya yang tinggal di Gisik Narmada. Langsung saja dia diajak sowan ayah Werkudara yang kala itu sedang menghadiri sidang kerajaan, untuk membahas calon Dirut BUMN Sumur Jalapatra. Dan hasilnya, tak satupun yang diloloskan DPR.

“Dimas Werkudara, bagaimana ini, kok tak ada yang lolos. Ya sudah, Dimas saja yang jadi Dirut Sumur Jalapatra.” Ujar Puntadewa setengah putus asa.

“Ogah, nanti dituduh KKN lagi. Cari yang lain sajalah.” Jawab Werkudara juga angin-anginan, karena sesungguhnya juga sedang mangsuk angin.

Tiba-tiba nyelonong Gatutkaca sambil membawa anak muda mboys, pakai kacamata hitam, celana jins. Yang lain pada duduk, dia tetap berdiri nganyur di depan para petinggi Amarta. Kata Gatutkaca, dia adalah Antasena anak Werkudara sendiri, berasal dari istri Dewi Urangayu di kampung Gisik Narmada. Wah, tentu saja Werkudara jadi malu sekali, ditelanjangi soal poligami atau “madu bersyariah” di depan publik.

“Kamu berani mengaku anakku, harus berani menerima pukulan gada Rujakpolo dari Jodipati. Ayo keluar…..” perintah Werkudara.

“Itu mah kecil, Coy!” jawab Antasena enteng.

Di alun-alun lor dekat warung sate Pak Amat, uji kekuatan Antasena oleh Werkudara dilakukan. Dalam posisi membungkuk, kepala Antaseno segera digetok pakai gada Rujakpolo, bum! Ternyata tidak apa-apa. Bukannya gegar otak, justru tubuh Antasena yang ambles, karena seperti paku usuk dipalu saja laiknya. Werkudara segera merangkul Antasena dengan gaya Surya Paloh Nasdem merangkul Sohibul Iman PKS.

“Kamu memang betul anakku. Sesuai dengan ijazahmu, ya sudah kamu saja yang jadi Dirut BUMN Sumur Jalapatra. Minggu depan diwisudha….” Kata Werkudara.

“Terima kasih ayahku. Mafia BBM akan saya sikat habis.” Ancam Antasena.

Segera pangangkatan Antasena sebagai Dirut BUMN Sumur Jalapatra jadi berita nasional, termasuk di dunia maya. Banyak yang mendukung banyak yang nyinyir. Pendita Durna Cs mendengar berita itu mencak-mencak. Memangnya tak ada wayang lain. Antasena kan wayang tidak sopan, suka omong kasar, dia sudah menghina begawan, kenapa diangkat jadi petinggi Sumur Jalapatra? Itu sangat menyakiti hati umat begawan.

“Kalau dilantik juga, awas! Gue mau kerahkan para begawan dan bekerja sama dengan  PA 212 untuk demo di depan Istana Indraprasta….!” Ancam Pendita Durna yang jadi kordinator pendemo. (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement