
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memiliki sejumlah opsi untuk merespons gejolak politik di Iran, mulai dari tekanan diplomatik dan ekonomi hingga operasi militer terbatas.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump terus mengancam akan mengambil opsi militer sambil melontarkan kritiknya terhadap kepemimpinan Iran.
Iran menjadi musuh bebuyutan AS sejak Revolusi Islam dipimpin Ayatullah Khomaini ditandai penggulingan Shah Iran Reza Pahlevi yang pro-Barat pada 1979.
Situasi ini, seperti dilansir AFP (19/1) membuat publik dan analis bertanya-tanya siapa yang akan menjadi target jika AS benar-benar jadi menyerang Iran.
Analis menduga, jika AS memilih jalur militer, target utama kemungkinan adalah militer Iran, khususnya Pasukan Garda Revolusi (IRGC) yang dianggap memimpin aksi penindasan terhadap para pengunjuk rasa yang turun di berbagai kota di Iran sejak akhir Desember lalu.
Dorong nyali pendemo
Ray Takeyh dari Council on Foreign Relations mengatakan: “Intervensi bisa menghilangkan rasa takut warga Iran dan memengaruhi rakyat yang masih ragu untuk bergabung dengan aksi protes melawan pemerintah.”
Sedangkan pengamat lainnya, Behnam Ben Taleblu menambahkan, “Tantangan serangan adalah memastikan efeknya mendukung aksi protes, bukan menakut-nakuti demonstran.
“Namun jika intelijen atau targetnya salah, bisa berdampak sebaliknya,” tuturnya.
Pendapat serupa disampaikan Sanam Vakil dari Chatham House. Menurut dia, langkah Trump bisa memberi momentum baru bagi para pendemo, namun, ia juga mengingatkan risikonya.
“Sebaliknya, ini juga bisa dimainkan oleh rezim (Iran) yang paranoid dan justru membuat persatuan internal mereka makin solid, lalu mendorong aksi penindasan yang lebih keras lagi,” ujarnya.
Serangan terhadap IRGC atau fasilitas militer Iran dianggap lebih realistis dan aman dibandingkan langsung menarget Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Tekanan ekonomi
Selain opsi militer, Trump dapat menggunakan tekanan ekonomi dengan mengenakan tarif impor 25 persen terhadap mitra dagang Iran.
Kedua negara juga tetap berkomunikasi melalui utusan khusus, menunjukkan bahwa diplomasi tetap menjadi bagian dari strategi AS.
Pada Juni lalu, Trump memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran untuk mendukung kampanye militer Israel.
Sementara kali ini, putra mendiang shah Iran yang hidup di pengasingan di AS, Reza Pahlavi, secara terbuka mendorong Trump agar tidak mengulangi sikap Presiden Barack Obama pada 2009, yang kala itu ragu mendukung aksi protes warga Iran karena khawatir dianggap mencampuri urusan domestik Iran.
Perimbangan militer
Di atas kertas, AS yang bertengger sebagai negara terkuat menurut Global Fire Power (GFP), dari sisi militer segala-galanya mengungguli Iran, baik dari kecanggihan maupun koleksi alutsista.
Dari belanja militer, menurut GFP 2025, AS di ranking I sebesar 895 miliar dollar AS (setara Rp16.641 triliun), dibandingkan Iran 15,4 miliar dollar AS (Rp261,6 triliun) ( 1USD = Rp16.895) atau anggaran militer AS berarti lebih dari 63 kali Iran.
AS memiliki 1.328.000 personel dibandingkan Iran dengan 610.000 personel aktif (termasuk 190.000 anggota IRGC), sedangkan komponen cadangan, AS 799.500 personil, sementara Iran 350.000 orang.
Matra Udara
AS mengoperasikan 13.000 unit ragam pesawat (termasuk drone dan aset udara lainnya), sementara Iran hanya didukung oleh 561 unit.
AU AS a.l didukung 5.843 unit helikopter (1.000 unit helikopter serang seperti AH64 Apache dan UH-54 Black Hawk).
Ada pengebom lawas yang belum tertandingi sejak era 1950-an yakni B-52 Stratoforress, pesawat tempur generasi 4.0 seperti F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon, SR-71 Black Bird, dan generasi ke-5.0 siluman F-35 Lightning II , pengebom anyar B1 Lancer dan B2 Spirit serta berbagai pesawat misi khusus seperti pembunuh tank A-10 Thunderbolt dan pemburu radar EA-18G Growler.
Sebaliknya, pasca diembargo AS dan Barat sejak Revolusi Iran pada 1979, Iran hanya memiliki belasan pesawat tempur sisa warisan AS buatan dekade 60-an dan 70-an seperti Pantom F-4, Tiger F-5, dan Tomcat F-14, serta peninggalan eks-Uni Soviet seperti MiG-29, Sukhoi SU-24, dan buatan China F-4 dan F-14 serta beberapa puluh unit helikopter.
Matra Darat
AD AS didukung 4.640 unit tank tempur utama (MBT) yang terbaru Abrams M1 dengan berbagai varian yag terus dimodernisir dan 392-ribuan unut kendaraan lapis baja,
Sebaliknya, Iran berkekuatan 1.713 tank MBT sebagian besar buatan Rusia atau peninggalan Soviet seperti T-62 dan T-72 ditambah Karrar, buatan lokal plus sekitar 66 ribu unit kenaraan lapis baja.
Jumlah meriam tarik milik Iran (sebagian besar buatan Rusia/Soviet) lebih banyak dari AS (2.070 berbanding 1.212 ), begitu pula kendaraan peluncur roket multi (MLR), 1.517 unit berbanding 841.
Matra Laut
AL AS sebagai penguasa samudera,mengoperasikan sekitar 400-an kapal perang termasuk 11 kapal induk pesawat bersayap tetap dan sembilan kapal induk pengangkut helikopter, sembilan kapal serang amfibi, tujuh penjelajah, 74 perusak, dua fregat, 26 korvet dan 70-an kapal selam nuklir.
Sebaliknya AL Iran mengoperasikan sekitar 100 kapal, a.l. tujuh fregat, lima korvet, 20 kapal serang cepat dan 30 kapal serang amfibi serta beberapa kapal selam konvensional.
Namun Iran, walau diembargo AS dan Barat, terus mengembangkan belasan jenis rudal-rudal darat ke darat sampai berjarak 3.000-an km yang bisa menjangkau Israel dan pangkalan AS di Arab Saudi, Bahrain, Kuwat dan Qatar.
Kabarnya Iran memiliki 4.000-an rudal balistik di mana 1.000 diantaranya digunakan untuk menyerang Israel dalam konflik Juni lalu walau efektivitasnya diragukan karena hanya beberapa yang menimbulkan kerugian di pihak lawan.
Serangan AS ke Iran jika jadi dilancarkan seperti saat menyerang Venezuela, 3 Januari lalu jelas melanggar Piagam PBB dan hukum internasional, walau mungkin malah didukung oleh mayoritas warga Iran yang ingin perubahan.(AFP/ns)




