Api dan Air Republik

Ilustrasi Api dan Air

Kekisruhan dan kekalutan yang mewarnai kehidupan Republik boleh jadi karena kita mengabaikan api dan air kebajikan publik. Apinya adalah nalar sehat, sedang airnya adalah moral terpuji. Tanpa nalar dan moral, suatu negara kehilangan obor-penerang dan marka-haluan perjalanan.

Kesenangan bisa diperoleh dari kemenangan pemilihan, kenaikan kedudukan dan pendapatan, peningkatan popularitas dan pengikut, pelipatgandaan profit dan aset. Namun, kesenangan tak pernah mengenal kata cukup.

Kebahagiaan abadi hanya bisa diraih dengan mengembangkan jiwa dan pikiran dengan tujuan moral yang membuat manusia menjalani kehidupan yg baik.

Apa itu kehidupan yang baik? Aristoteles dalam uraiannya tentang kebahagiaan (eudaimonia), menjelaskan bahwa sesuatu dikatakan baik jika memenuhi tujuannya. Jam yg baik menunjukkan ketepatan waktu, anjing yg baik dapat menjaga tuannya.

Manusia baik yg mampu bertindak seusai dgn nalar yg benar dan menggunakan nalar itu utk menginvestigasi alam dan tujuan keberadaannya di alam.

Dengan demikian, kita bisa menghidupi kehidupan yg baik tatkala mampu menemukan tujuan moral dlm mengembangkan nalar yg benar serta menggunakan nalar itu utk bertindak scr bajik (virtues).

Maka, bertindaklah secara baik dan benar sejalan dengan nilai sebagai makhluk rasional, maka kehidupan akan bahagia.

Prasyarat nalar dan moral itu pula yg melandasi rumusan sila keempat Pancasila. Cita kerakyatan hendak menghormati suara rakyat dlm politik dgn memberi jalan bagi peranan dan pengaruh besar yang dimainkan oleh rakyat dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan.

Cita permusyawaratan memancarkan kehendak untuk menghadirkan negara persatuan yg dapat mengatasi paham perseorangan dan golongan, dengan mengakui adanya kesederajatan/persamaan dalam perbedaan.

Cita hikmat-kebijaksanaan merefleksikan orientasi nalar-etis, bahwa kerakyatan yg dianut oleh bangsa Indonesia bukanlah kerakyatan yg mencari suara terbanyak saja, tetapi kerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.

Orientasi nalar-etis ini dihidupkan melalui daya nalar deliberatif- argumentatif, kearifan konsensual dan komitmen keadilan yg dapat menghadirkan sintesis konstruktif bagi kebajikan publik.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here