
ARMENIA di ambang kekalahan dalam sengketa wilayah Nagorno-Karabakh melawan tetangganya, Azerbaijan sehingga terpaksa menerima gencatan senjata dimediasi oleh pasukan Rusia.
Sekitar 400 dari 1.900 kontingen Satuan Penjaga Perdamaian negara beruang merah itu dan perlengkapan militer termasuk kendaraan lapis baja diterbangkan dengan pesawat-pesawat angkut IL-76 menuju ibukota Armenia, Yerevan (9/11) lalu.
Menurut catatan, Rusia memiliki pangkalan militer di Armenia yang merupakan salah satu negara anggota Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif pimpinannya.
Dalam perjanjian tersebut Rusia dapat menyiapkan dukungan militer jika Armenia diserang pihak lain, tetapi tidak termasuk Nagorno-Karabakh atau wilayah Azerbaijan yang direbut oleh pasukan Armenia, sementara dengan Azerbaijan, Rusia juga memiliki hubungan erat.
Armenia dan Azerbaijan dulunya termasuk 16 negara di bawah naungan Uni Soviet dan juga sesama anggota Pakta Warsawa, lawan utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Kastaf Operasi Jenderal Rusia, Sergei Rudskoy seperti dikutip AFP melaporkan , satuannya bergerak menuju wilayah Lachin yang merupakan jalur penghubung antara Armenia dengan kawasan Nagorno-Karabakh.
Sebelumnya, PM Armenia Nikol Pashinyan berujar, dia menyepakati gencatan senjata dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Keputusan ini begitu menyakitkan bagi saya dan rakyat. Saya memutuskan setelah menganalisis secara mendalam situasi di medan tempur dan berdikusi dengan pakar lapangan,” tuturnya.
Perjanjian tersebut sementara resmi mengakhiri perang di Nagorno-Karabakh yang berlangsung sejak 27 September yang dilaporkan sudah menewaskan ribuan orang termasuk warga sipil.
Ajerbaijan Unggul
Azerbaijan sendiri mengklaim telah merebut Shusha, kota penting di Nagorno-Karabakh dan sejumlah wilayah lainnya yang diokupasi Armenia dalam perang pada 1989 – 1994.
Saat rakyat Azerbaijan di ibukota, Baku turun ke jalan-jalan merayakan kemenangan pasukan mereka, ratusan warga Yerevan berdemo ke gedung parlemen, menolak kesepakatan gencata senjata.
Rakyat, sebagian perempuan Armenia, bahkan ibu negara, Ibu Negara Anna Hakobyan isteri PM Nikol Pashinyan mendaftarkan diri program pelatihan militer untuk disiapkan dikirim ke garis depan.
Dalam konflik kali ini Azerbaijan secara efektif menggunaan drone-drone Kamikaze Harop buatan Israel dan Bayraktar Tb-2 Turki untuk menghancurkan bunker-bunker, situs rudal, tank-tank dan sasaran strategis Armenia lainnya.
Walau Armenia dan Azerbaijan sebagai sesama negara sempalan Uni Soviet memiliki koleksi persenjataan sama, Azerbaijan lebih unggul dalam jumlah alutsista dan personil (126.000 banding 67.000 personil) ditambah 20.000 pasukan separatis Nagorno-Karabakh.
Nagorno Karabakh dengan ibukota Stepanakert dengan luas 11.458 Km2, dihuni 151.000 jiwa, mayoritas Armenia telah mendeklarasikan kemerdekaan sebagai Republik Artsakh didukung Republik Armenia, namun hingga kini belum diakui int’l.
Sengketa wilayah di era now semestinya tidak diselesaikan melalui perang yang memakan korban jiwa, menjadi tragedi manusia dan menguras biaya, ujung-ujungnya juga harus dimediasi, baik melalui saluran PBB atau prakarsa negara lain. (NS/Berbagai sumber)




