AS dan Barat Patok Harga Minyak Rusia

Amerika Serikat dan Barat mematok harga minyak ekspor Rusia agar kemampuannya membiayai perang dengan Ukraina melemah.

PERANG tak hanya sebatas adu taktik dan strategi atau keunggulan militer di medan tempur, namun juga upaya untuk menekan ketahanan ekonomi lawan.

Amerika Serikat dan sekutunya terutama (UE) secara sepihak mematok (capping) harga jual minyak mentah produksi Rusia sebesar 60 dollar AS per barel yang efektif berlaku mulai 5 Desember.

Tentu saja, Rusia melalui jubirnya, Dmitry Peskov (4/12) menolak harga yang ditetapkan oleh lawan-lawannya yang mendukung Ukraina tersebut dan saat ini sedang mengkaji untuk meresponsnya.

Kepada Kantor Berita TASS, Peskov menegaskan, pemerintahnya tidak bakal menyetujui ketetapan harga tersebut dan segera akan meresponsnya begitu kajian selesai dilakukan.

Harga minyak produksi Rusia yang diangkut dengan kapal tanker ditetapkan oleh UE sebesar 60 dolar AS per barel dalam pertemuan mereka di Brussel, Jumat lalu (2/12) . Gagasan yang diprakarsai oleh AS itu juga diikuti seluruh negara G7 (AS, Kanada, Perancis, Jerman, Jepang, Italia dan Inggeris.

Pembatasan harga oleh pihak Barat tersebut tetap memungkinkan negara-negara non-UE mengimpor minyak mentah Rusia melalui laut.

Namun mereka melarang perusahaan asuransi dan maskapai kapal kargo Rusia di seluruh dunia menangani kargo minyak mentah Rusia kecuali jika harga jualnya di bawah 60 dollar AS sehingga negara-negara non-UE yang tidak mengikuti kesepatan juga bakal terimbas.

Sementara Presiden Ukraina Volodymir Zelensky menilai pematokan harga minyak ekspor Rusia 60 dolar AS per barel atau hanya selisih sedikit dibandingkan harga pasar (67 dolar) tidak banyak dampaknya bagi perekonomian Rusia.

Untuk itu Zelensky menyarankan pematokan harga 30 dolar AS per barel bagi harga ekspor minyak mentah Rusia agar membuat negara beruang merah itu kesulitan membiayai perang dengan Ukraina.

“Rusia (dengan menginvasi Ukraina ejak 24 Feb.) telah menyebabkan kerugian besar bagi seluruh negara di dunia, karena dengan sengaja menciptakan instabilitas pasar energi, “ ujarnya.

Negara-negara UE sendiri yang semula mengimpor sampai 60 persen kebutuhan energi dari Rusia terpaksa mengorbankan perekonomian mereka dengan risiko diprotes rakyat karena melambungnya harga-harga dan inflasi akibat embargo yang mereka kenakan pada minyak mentah Rusia.

Sebaliknya, Rusia masih berupaya mendapatkan devisa dari ekspor minyaknya dari negara-negara sahabat seperti China dan India dengan harga diskon.

Bagi Rusia, perang dengan Ukraina selain menimbulkan kerugian besar dengan kehilangan ribuan nyawa pasukan dan juga peralatan tempurnya, juga membebani ekonomi, akibat embargo dan berbagai restriksi yang dilakukan AS dan Barat.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda perang bakal mereda apalagi berakhir, karena Rusia bersikeras tidak akan bersedia melangkah ke meja perundingan apalagi menarik pasukannya dari Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada awal Oktober lalu bahkan secara resmi mendekarasikan aneksasi empat wilayah Ukraina lagi yakni Luhanks, Donetsk, Zaporizhia dan Kherson, menambah Krimea yang dicaploknya pada 2014.

Adu kuat, ketahanan ekonomi dan kekuatan militer antara Rusia di satu pihak dan Ukraina yang didukung AS dan Barat terutama Uni Eropa dan banyak negara lainnya.

Siapa pemenangnya? Wait and See!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement