DI TENGAH fokus masalah kesehatan pada upaya penanganan pandemi Covd-19 dalam tiga tahun terakhir ini, ancaman penyakit degeneratif terutama hipertensi yang banyak dialami penduduk di kota-kota besar, perlu juga diwaspadai.
Hipertensi atau darah tinggi yang selain disebabkan oleh pola gaya hidup, makan, kondisi lingkungan dan pekerjaan, juga dipengaruhi faktor metabolik, sedangkan pengidapnya, tak hanya lansia, kini juga makin banyak kaum muda.
Selain menurunkan kualitas hidup, hipertensi yang juga memicu komplikasi penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal, menjadi penyebab kematian dini, tak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia.
Menurut catatan, banyak warga yang menganggap enteng penyakit darah tinggi yang dideritanya, sebagian cukup hanya meminum obat sakit kepala (antianalgesic), padahal jika tidak diobati secara rutin bisa berakibat fatal, seperti memicu stroke atau terkena serangan jantung.
Hipertensi adalah “silent killer” atau pembunuh senyap karena sering tidak menunjukkan gejala, sehingga upaya terbaik adalah mencegahnya.
Yang perlu diperhatikan, melakoni pola hidup dan makan sehat, dengan membatasi konsumsi garam, lemak, karbohidrat serta memperbanyak serat, sayr dan buah, menjaga berat badan, olahraga cukup, mengelola stress dan tidak merokok.
Institute for Health Matrics and Evaluation (IHME) yang dikutip Kompas (4/12) mengungkapkan, faktor risiko penyebab kematian dan kecacatan warga DKI Jakarta sudah berubah jauh antara 2009 dan 2019.
Pada 2009 penyebab kematian tertinggi adalah malnutrisi, disusul hipertensi, obesitas, merokok, pola makan tak sehat, diabetes dan lainnya, sedangkan pada 2019, hipertensi menduduki tempat pertama disusul obesitas, merokok, diabetis, pola makan dan lainnya.
Sementara menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa Indonesia mencapai 34,1 persen atau artinya, 34 dari 100 orang dewasa mengidap hipertensi .
Yang yang lebih mencemaskan, saat ini makin banyak kaum muda yang terserang hipertensi.





