
HUBUNGAN diplomatik Amerika Serikat dan Iran yang putus pasca revolusi Iran pada 1980 makin memburuk akibat tewasnya petinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) Brigjen Seyed Razi Mousavi di Suriah, Senin (25/12).
Mousavi dikenal dekat dengan Panglima Brigade Quds IRGC di Irak Letjen Qassem Soleimani yang tewas setelah kendaraan yang ditumpanginya dirudal oleh drone MQ-9 Reaper AS di sekitar bandara Bahgdad, 2 Jan. 2020.
Iran menuding AS di balik kematian Mousavi saat markasnya di kawasan Zeinabiya, pinggiran ibu kota Suriah, Damaskus akibat serangan pesawat-pesawat tempur Israel yang biasa menyasar pusat logistik, markas atau gudang senjata milisi IRGC di negara itu.
Mousavi diangat sebagai perwira Brigade Quds, penghubung antara IRGC dan militer Iran dan dengan kelompok milisi bersenjata di Suriah yang bertugas mengoordinasilan Kelompok Perlawanan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Presiden Iran Ebrahim Raizi seperti dikutip media Iran, menyebutkan, pelaku pembunuhan terhadap Mousavi merupakan tindakan keji oleh rezim illegal yang frustrasi. Mereka jelas harus membayar atas kejahatan itu, “ ujarnya.
Sementara Jubir pasukan Israel (ISDF) Laksamana Muda Daniel Hagari menyatakan pihaknya tidak ingin menanggapi berbagai laporan pihak asing tentang kejadian tersebut, karena tugas ISDF adalah untuk melindungi keamanan rakyat dan negara Israel.
Serangan terbaru dilancarkan oleh kelompok Khataib Hisbollah terhadap markas pasukan AS di Bandara Erbil, Irak utara, mencederai tiga personilnya sehingga Presiden AS Joe Biden memerintahkan serangan balasan ke Provinsi Wasit, Babilonia, Irak, Selasa dini hari, (26/12) menewaskan satu orang dan melukai 24 orang.
Di perairan Laut Merah, milisi Houthi, Yaman mulai menyerang kapal-kapal Israel dan negara-negara pendukungnya serta mengirimkan drone-drone ke wilayah Mesir.
AS baru-baru ini juga menggalang patroli internasional di Laut Merah dengan Bahrain, Inggeris, Kanada, Perancis,Itali, Belanda, Norwegia, Seychellles dan Spanyol .
Perimbangan militer
Situs globalfirepower mencatat, AB Iran yang berada pada posisi ke-21 dunia didukung 534 ribu personil tetap dan 400 ribu cadangan, sedang AD-nya memiliki sekitar 1.600 tank ex-Uni Soviet seperti T-72, T-62 dan T-54 dan T-55 yang relatif lawas. Anggaran militer Iran 2023 tercatat 5,5 milyar dollar AS (sekitar Rp86 triliun).
AL Iran cukup tangguh, diperkuat 33 kapal selam, beberapa unit kelas Kilo buatan Rusia dan sebagian lagi buatan lokal, ditambah tiga korvet, 230 kapal patroli dan 10 penyapu ranjau.
Sedangkan matra udara, Iran memiliki 137 pesawat tempur termasuk Mig-29, Sukhoi SU-24 dan SU-25 ex-Rusia, F-1 Mirage, Perancis, F-5 Tiger dan F-14 Tomcat buatan AS peninggalan era rezim Shah Iran Riza Pahlavi saat Iran masih berhubungan baik dengan AS pada era ‘70-an.
Di tengah isolasi Barat terutama AS pasca tergulingnya Shah Pahlavi oleh Ayatollah Khomeini pada 1979, Iran masih mampu membuat rudal-rudal balistik berjangkauan 300 sampai 2.500 Km, sementara sistem pertahanan udaranya dilengkapi rudal-rudal S-300 ex-Rusia.
Dibandingkan AS sebagai kekuatan militer terbesar dunia, dengan anggaran militer sekitar 877 milyar dollar AS (sekitar Rp13. 748 triliun), didukung lebih 1,35 juta tentara tetap, tentu saja kekuatan Iran tidak sebanding.
Mesin perang AS a.l. diperkuat 8.725 tank, ribuan rudal-rudal dan artileri, 13.500 kapal terbang berbagai jenis termasuk pengebom, penyergap dan lainnya, belum termasuk 6.400 helikopter, sedangkan AL-nya dengan 12 kapal induk, ratusan kapal perang dan kapal selam.
Tentu saja jika Iran terlibat perang melawan AS bakal menyeret negara-negara lain yang saling dukung antara keduanya, sehingga nilai kerusakan dan korban manusia yang ditimbulkannya bakal sangat luar biasa.




