
SALING ancam antara Amerika Serikat dan Iran pasca tewasnya Jenderal Iran Qassem Soleimani di Irak sempat menciptakan eskalasi ketegangan yang bisa memicu konflik terbuka.
Militer Iran membalas kematian Soleimani dengan menghujani kam militer AS Ain-al Assad dan Harir di Irak dengan 22 rudal balistik (8/1) walau dilaporkan tidak ada korban karena kedua lokasi sudah keburu dikosongkan.
Soleimani yang menjabat panglima divisi al Quds, satuan elit Garda Revolusi Iran di Irak tewas dirudal drone AS saat berkendara dari bandara di Baghdad bersama dua petinggi milisi pro Iran lainnya (3/1).
Terlepas dari pro-kontra terkait serangan tersebut, di sisi lain bisa terbaca pula, dengan kecanggihan teknologinya, AS leluasa mengincar petinggi militer musuhnya dengan mudah.
Sebaliknya, jatuhnya pesawat Boeing B737-800 Ukraina bersama seluruhnya 176 awak dan penumpang akibat salah tembak oleh operator rudal Iran saat baru tinggal landas dari Bandara Teheran (8/1) juga menjadi salah satu indikator (kekurang) andalan teknologinya.
Begitu pula dengan serangan 22 rudal balistik Iran berharga triliunan rupiah, tanpa kerusakan atau korban jiwa satu pun di pihak lawan tentu juga bisa dijadikan bahan kajian.
Sementara itu, ribuan pekerja asing, terutama dari Korea Selatan dan Filipina di Irak sudah siap-siap dievakuasi ke negara masing-masing jika perang benar-benar pecah, namun ternyata ketegangan malah mereda.
Irak bisa jadi menjadi target serangan bila pecah perang antara AS dan Iran, karena Brigade al Quds Iran yang ditempatkan di wilayah tetangganya itu diperkirakan akan menyerang sasaran-sasaran AS di sana.
Namun kedua pemimpin negara yang berseteru, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani pada intinya tidak berniat untuk melanjutkan perang yang bakal menyengsarakan rakyat mereka.
Perang Membebani Ekonomi
Bagi Iran yang ekonominya makin terpuruk sejak dikenakannya lagi sanksi embargo ekonomi pasca penarikan diri AS dari Traktat Nuklir 2015, perang pasti sangat membebani, terutama rakyat yang harus memikulnya.
Di penghujung 2019 (28 – 30 Desember) terjadi gelombang aksi unjukrasa di sejumlah kota di Iran yang menelan beberapa korban jiwa untuk menuntut turunnya harga-harga dan penciptaan lapangan kerja.
Kehadiran Iran di Irak dengan divisi al Quds juga tidak bisa diterima oleh sebagian orang di Irak, terbukti dari unjukrasa anti Iran di sejumlah kota di Irak sejak Oktober lalu yang berbuntut lengsernya PM Adel Abdel Mahdi yang pro Iran.
Perang Iran melawan AS juga seolah-olah dilakukannya sendiri, karena sejumlah negara-negara kaya di Timteng seperti Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Kuwait, Qatar malah menjadi basis pangkalan militer AS.
Paling tidak sekitar 60-ribu pasukan AS ditempatkan di berbagai pangkalan di negara-negara Timur Tengah termasuk yang masih berada
di Suriah (sekitar 2.000) dan Irak (5.200).
AS menempatkan kapal induk USS Harry S. Truman dan 18 kapal perang termasuk tiga destroyer rudal (USS Lassen, USS Farragut dan USS Forrest Sherman), penjelajah rudal USS Normandy, empat skadron pesawat tempur F-18 Hornet , dua skadron Heli Seahawk dan sejumlah rudal jelajah (Harpoon dan Tomahawk) di sekitar perairan Teluk Persia.
Namun bagi Presiden Donald Trump dan AS, walau memiliki mesin perang raksasa dengan ranking terkuat di dunia sehingga agaknya tidak terlalu sulit menaklukkan Iran,apa pun hasilnya perang tentu lebih banyak mudharatnya.
Bagi Trump yang sedang dalam proses pemakzulan oleh Kongres AS terkait skandal penyalah gunaan wewenang dan dianggap menghambat penyelidikan oleh parlemen, tentu perang dengan Iran bakal membuat posisinya lebih terpuruk lagi.
Lebih dari itu, mitra-mitra AS terutama Uni Eropa juga tidak bakal mendukung AS berperang dengan Iran, apalagi jika banyak korban jiwa akibat serangan AS , pasti masyarakat dunia akan marah dan mengutuknya.
Perang adalah pilihan terakhir solusi persoalan, karena akan membawa malapetaka, kerusakan dan kematian, sehingga dialog, kembali ke meja perundingan, agaknya yang terbaik bagi AS dan Iran. (AP/AFP/Reuters/ns)




