DALAM Ilmu Hayat atau Biologi istilah sekarang, dikenal istilah hermaprodit, yakni hewan berkelamin ganda. Pada dunia perwayangan, sosok semacam itu adalah Sarpakenaka, anak ketiga Begawan Wisrawa-Sukesi dari Alengka. Secara pisik dia berwujud wanita, tapi sepakterjang dan pembawaannya seperti lelaki. Suaranya juga begitu, bukan alto atau mezzo sopran, tapi bariton!
Sebagai adik kandung Prabu Dasamuka, dia cukup terkenal dan ditakuti rakyat, tapi sangat dekat dengan kontraktor. Semua proyek APBN di Alengkadiraja, dia yang menentukan siapa pelaksananya. Tapi karena tak ada makan siang gratis di dunia perwayangan, kontraktor yang mau dimenangkan harus siap dipotong 10 persen dari nilai proyek. Misalkan proyek jembatan atau jalan itu seharga Rp 10 miliar, Rp 1 miliar masuk kantong Sarpakenaka.
“Paman Prahasto, ke mana itu Sarpakenaka? Seharian saya tak melihatnya, ngelayap melulu kerjanya.” Ujar Prabu Dasamuka pada patih Prahastho.
“Nggak tahu, anak Prabu. Biasanya sih main ke Taman Lawang, ngumpul sama teman-temannya. Tapi sejak Satpol PP suka patroli di sana, Taman Lawang jadi sepi.” Laporan patih Prahastho apa adanya.
Meski adiknya ini badungnya minta ampun, Prabu Dasamuka tak ingin juga adiknya kenapa-kenapa, kena musibah misalnya. Apa lagi sekarang sedang ramai dibicarakan, Reynhard Sinaga pengidap LGBT diadili di Inggris gara-gara perkosa 159 lelaki. Jangan-jangan Sarpakenaka bernasib seperti itu.
Prabu Dasamuka segera panggil suami Sarpakenaka, yakni Karadusana dan Kala Nopati. Lho, masak suaminya dua, poliandri dong! Lho, baru tahu, memang begitulah Sarpakenaka. Pisiknya wanita tapi jiwanya lelaki, sehingga dia ambil dua lelaki sekaligus untuk rekanan LGBT. Dan karena jiwanya pria itulah, meski dikerubut dua lelaki tak pernah hamil dan punya anak.
“Kalian saya panggil sekaligus, karena ingin tahu di mana keberadaan istrimu. Di mana sekarang Sarpakenaka, ayo jawab!” kata Prabu Dasamuka galak sekali.
“Maaf sinuwun, kita nggak tahu. Sarpakenaka pulang kan sekedar untuk numpang tidur saja, habis itu, habis itu…… ngelayap lagi.” Jawab Karadusana dan Kala Nopati terbata-bata, takut disalahkan dan dihukum.
“Payah lu semua. Suami kok nggak tahu di mana istrinya, suami cap apa kalian?” hardik Prabu Dasamuka, yang rupanya pengagum Asmuni pelawak Srimulat.
Sesungguhnya Sarpakenaka nggak ke mana-mana, apa lagi sampai ditangkap polisi Inggris. Dia hari-hari belakangan ini rajin ke hutan Dandaka, karena di sana dia melihat dua lelaki ganteng ditemani seorang wanita cantik. Mereka adalah Raden Rama dan Dewi Sinta, sementara seorang lelaki yang lebih muda adalah Raden Lesmana.
Mereka adalah ksatria muda dari negeri Ayodya, tengah berburu menyalurkan hobi. Sarpakenaka nepsong sekali melihat penampilan kedua lelaki ini. Orangnya serba tampan, beda sama sekali dengan suaminya di rumah, Karadusana maupun Kala Nopati, semua sama seperti mercon bantingan. Maka prinsip Sarpekenaka, dinikahi yang lebih tua mau, dikawini yang lebih muda juga oke.
“Apa tidak capek berburu rusa seharian, raden? Silakan istirahat di pondok kami, ngopi-ngopi dulu.” kata Sarpakenaka santun. Dia telah mengubah wujud menjadi wanita cantik, laksana pemain sinetron sejuta episode.
“Maaf, kami sudah bawa termos sendiri.” Jawab Rama tak kalah santunnya.
Tapi dalam hatinya merasa curiga, masak di tengah hutan belantara kok ada perempuan cantik. Ini pasti penjelmaan lelembut sebangsa peri atau kuntilanak. Rama lalu melirik punggung si jelita, ternyata tidak bolong. Kalau begitu manusia beneran, tapi kok ada di tengah hutan belantara begini. Apakah dia bidadari kahyangan yang mandi di telaga lalu kehilangan baju kahyangannya, gara-gara dicuri Jaka Tarub. Baik Lesmana maupun Rama semakin meningkatkan kewaspadaaan nasionalnya.
“Maaf jangan menghalangi jalan kami bertiga, silakan minggir…” kata Rama mengusir Sarpakenaka secara halus.
“Kok gitu sih? Orang-orang cakep begitu, sebel deh…..” jawab Sarpakenaka, tapi tak urung menyingkir juga.
Tapi bukan Sarpekenaka penderita LGBT, jika langsung menyerah begitu saja. Kini dia mencari kesempatan, ketika keduanya pas tak jalan bareng. Nah saat Rama menyelinap ke lokasi lebih sepi karena hendak buang air kecil, kembali dia mendekati Rama. Sekarang to the point saja, kepengin diambil istri Raden Rama.
“Bener ini raden, saya siap diambil istri. Dipoligami juga nggak apa, tak diberi blanja (jaminan hidup) juga nggak papa, wong aku punya penghasilan sendiri.” Kata Sarpakenaka penuh rayuan gombal.
“Maaf, aku tak mau mengkhianati istriku, Dewi Sinta. Aku penganut azas monogami, coba saja kamu datangi Lesmana adikku….,” ujar Rama sambil membetulkan resluiting celananya.
“Oo, begitu raden? Terima kasih, mohon doanya.”
Sarpakenaka segera mencari satria muda yang katanya bernama Lesmana itu. Sambil tengok kanan kiri, dia tak lupa menyalakan rokok, khas pria sejati, rokok kretek Gudang Garam merah. Klepas-klepus nikmat sekali. (Ki Guna Watoncarita)



