Konflik Frontal AS vs Rusia di Suriah

Seorang perempuan remaja tampak sedang memeluk balita (kemungkinan adiknya) yang terpapar zat kimia akibat serangan ke kota Douma, Suriah (7/4) , diduga AS dilakukan rezim Suriah pimpinan Bashar al-Assad bersama Rusia. AS berniat melancarkan serangan balik.

ESKALASI konflik di Suriah semakin meningkat menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menyerang negara itu sebagai pembalasan atas dugaan serangan zat kimia oleh rezim Presiden Bashar al-Assad terhadap kota Douma, Ghouta timur, Suriah akhir pekan lalu.

Trump mengingatkan, ia akan segera mengambil salah satu opsi militer untuk membalas penggunaan zat kimia dalam aksi serangan biadab pada Sabtu lalu itu (7/4).

“Apakah (pelakunya-red) Rusia, Iran atau rezim pemerintah Suriah, kami akan segera mengetahuinya, “ tutur Trump walau rezim al-Assad sendiri meyangkal, pihaknya telah menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil di kota Douma, propinsi Ghouta timur yang saat itu masih diduduki kelompok perlawanan Suriah.

Sedangkan Rusia yang merupakan sekutu utama al-Assad mengecam keras tuduhan AS dan balik menuding seterunya itu sedang berupaya meningkatkan ketegangan yang dapat memicu konflik frontal di kawasan Timur Tengah.

Presiden Rusia Vladimir Putin ketika ditanya wartawan terkait keterlibatan negaranya, tidak mengiakan atau menyangkalnya, hanya mengingatkan, jika AS menyerang, pihaknya akan membalas dengan sangat keras. “Siapa pun harus membayarnya, “ kata Putin.

Israel, musuh bebuyutan negara-negara Arab, memanfaatkan situasi dengan menyerang pangkalan AU Suriah di Homs yang diduga digunakan oleh militer Iran di wilayah tersebut. Beberapa waktu lalu pesawat-pesawat tempur Israel juga menyerang suatu lokasi di Suriah yang dianggap sebagai pangkalan pesawat tak berawak (drone) yang digunakan Iran untuk memata-matai wilayahnya.

Tidak diketahui apakah aksi Israel tersebut dikoordinasikan dengan pihak AS, namun yang jelas, selama ini AS berpihak pada kelompok perlawanan Suriah melawan rezim al-Assad, sedangkan Rusia berada di belakang al-Assad, sementara Israel adalah musuh bersama bagi negara-negara Arab. Iran yang juga berada di kubu rezim al-Assad menempatkan satuan milisi Hesbollah di wilayah Suriah.

Di front lain di Suriah utara, pasukan Turki yang sedang melancarkan operasi militer “Ranting Zaitun” untuk memburu kelompok separatis Kurdi di wilayah Afrin sejak 20 Januari lalu, mulai bergerak menuju kota Manbij.

Selain anjloknya indeks nilai saham utama Asia seperti Nikkei, Hang Seng, Shanghai Composite (China), Straight Times (Singapura) dan KOSPI (Korsel), potensi konflik AS dan Rusia juga ikut mengatrol harga minyak global beberapa persen menjadi sekitar 67 dollar AS per barrel.

Hubungan AS bersama negara-negara Uni Eropa dengan Rusia memang sedang bermasalah akibat saling usir diplomat pasca upaya peracunan mantan agen ganda Rusia yang bermukim di London, Sergei Skripal dan anaknya Yulia Skripal (4/3) diduga dilakukan oleh agen-agen rahasia pemerintah Putin.

Konflik Suriah yang berkecamuk sejak 2011, diawali perlawanan massa terhadap rezim al-Assad yang berkuasa puuhan tahun (sejak dipimpin oleh ayah Bashar yakni Hafez al-Assad) telah merenggut setengah juta nyawa manusia dan menciptakan jutaan pengungsi.

Entah sampai kapan derita dan kematian yang dihadapi rakyat Suriah akan berakhir. (AP/AFP/Reuters)

Advertisement