AS – Iran Saling Ancam Soal Pengawasan Selat Hormuz

Pasca gagalnya dialog damai AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4), kedua belah pihak saling ancam terkait pengawasan dan pengelolaan selat sempit itu. (BBC)

PASCA gagalnya perundingan antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi Pakistan di Islamabad, Sabtu (11/4), kedua pihak saling mengancam terkait pengawasan dan pengelolaan Selat Hormuz yang merupakan alur utama lintasan kapal-kapal tanker pengangkut minyak global.

Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) seperti dilaporkan AFP dan NDTF (13/4) Iran menyatakan, seluruh lalu lintas di Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh mereka.

“Setiap kesalahan langkah pihak lawan akan berujung fatal. Musuh akan terjebak dalam pusaran mematikan di Selat Hormuz jika membuat langkah keliru,” demikian bunyi pernyataan IRGC di platform X (12/4) disertai video memuat kapal-kapal yang dijadikan sasaran.

Pernyataan keras ini datang menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memblokade wilayah itu dengan kekuatan angkatan laut.

Namun, Iran menegaskan bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi kapal sipil. Dalam pernyataan terpisah, disebutkan bahwa Selat Hormuz “terbuka untuk pelayaran aman kapal sipil yang mematuhi peraturan terkait.”

Sebaliknya, Iran memperingatkan bahwa kapal perag  yang mendekat dengan alasan apa pun akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan direspons dengan keras.”

Ancaman Iran dilontarkan setelah Presiden Donald Trump memerintahkan AL AS untuk segera melakukan blokade di Selat Hormuz, selat sempit selebar  antara 33 sampai 39 km yang menjadi alur pelayaran seperlima tanker pengangkut minyak mentah global dari kawasan itu.

Tujuannya adalah mencegah kapal masuk atau keluar dari jalur tersebut, sekaligus menekan Iran agar tidak mengambil keuntungan dari kendalinya atas perairan itu.

Trump menyatakan bahwa tujuan akhirnya adalah membersihkan selat dari ranjau dan membukanya kembali untuk semua pelayaran, namun untuk sementara, ia menegaskan bahwa Iran tidak diizinkan memperoleh keuntungan ekonomi dari jalur tersebut.

“Kami tidak akan membiarkan Iran mendapatkan uang dari penjualan minyak kepada pihak -pihak yang mereka sukai. Ini akan berlaku untuk semua atau tidak sama sekali,” ujar Trump.

Ia juga menegaskan bahwa siapa pun yang membayar biaya kepada Iran untuk melintas tidak akan mendapatkan “jalur aman di laut lepas.”

Eskalasi ini terjadi setelah perundingan damai yang berjalan 21 jam antara AS dan Iran di Islamabad, Sabtu (7/4) berakhir tanpa kesepakatan.

JD Vance menegaskan bahwa Washington menuntut komitmen tegas dari Iran. “Faktanya sederhana, kami perlu melihat komitmen nyata bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mencari sarana untuk mencapainya dengan cepat,” ujarnya.

Kegagalan negosiasi ini membuat status gencatan senjata dua minggu yang baru disepakati menjadi semakin tidak pasti.

Guncang harga energi

Sementara itu, konflik yang telah memasuki pekan ketujuh ini dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar global, terutama harga energi.

Harga minyak global kembali melonjak delapan persen, Senin (13/4). Jenis Brent menyentuh 102 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) 104,51 dolar per barel.

Sementara menurut investing.com, nilai tukar rupiah ikut terperosok dari Rp17.000 ke Rp17.122,5 per dolar AS pada transaksi pembukaan Senin pagi (13/4).

Iran sebelumnya juga memberlakukan blokade de facto Selat Hormuz sejak perang dengan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, yang memicu lonjakan harga energi dunia.

Trump juga melontarkan ancaman tambahan, termasuk kemungkinan tarif 50 persen bagi negara yang memasok senjata ke Iran. China disebut sebagai target utama.

Ia memperingatkan bahwa AS siap mengambil tindakan lebih jauh jika Iran tidak menghentikan program nuklirnya.

“Dalam setengah hari, mereka tidak akan memiliki satu jembatan pun yang berdiri, tidak ada pembangkit listrik yang tersisa, dan mereka akan kembali ke zaman batu,” kata Trump.

Lonjakan harga minyak mentah yang pada gilirannya bakal memicu resesi ekonomi dan inflasi masih bakal   membayang-bayangi situasi global. (AFP/NDTF/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here