Asa Damai di Yaman

sebanyak 4,5 juta dari 29 penduduk Yaman terutama anak-anak mengalami kelaparan akibat perang berkepanjangan antara milisi Houthi melawan rezim Presiden Abdurrabuh Mansour Hadi yang meminta perlindungan di Arab Saudi.

PIHAK-pihak yang terlibat pertikaian berdarah di Yaman sejak 2014 bersedia melangkah ke meja perundingan di Stockholm, Swedia, walau sejumlah pengamat pesimistis, pertemuan bakal mampu membuahkan perdamaian.

Delegasi kelompok Houthi yang sekarang menjadi penguasa de-fakto di Yaman sudah tiba di Stockholm (4/12), sementara lawannya, delegasi rezim Presiden dalam pengasingan Abdurrabuh Mansour Hadi dilaporkan sudah berangkat dari Riyadh, Arab Saudi.

Delegasi Hadi memang sengaja menunggu dulu kepastian kehadiran delegasi Houthi sebelum memutuskan untuk hadir dalam pertemuan itu.Pimpinan delegasi milisi Houthi, Mohammed Abdelsalam berjanji, pihaknya bertekad menyukseskan pertemuan itu dan juga menghentikan agresi (Arab Saudi-red).

Milisi Houthi merebut ibukota Yaman, Sanaa pada 2015 dari tangan pasukan pemerintah Hadi, termasuk pelabuhan satu-satunya Hudaidah yang sangat strategis karena menjadi pintu masuk laut 80 persen impor negara itu.

Pasukan koalisi Saudi didukung kekuatan udaranya, berulang kali membombardir Hudaidah, namun sampai hari ini belum berhasil mendudukinya, padahal korban jiwa cukup besar. Paling tidak, pada November lalu saja, 1.500 warga sipil tewas , sedangkan 150.000 orang mengungsi

Sebelumnya, pada September lalu, prakarsa dialog juga dilakukan di Swiss, namun gagal karena ketidak hadiran wakil-wakil Houthi dengan alasan tidak ada jaminan keamanan bagi mereka dari masyarakat internasional.

Sejumlah pihak juga merasa skeptis pertemuan kali ini akan membuahkan hasil yang signifikan, namun paling tidak sedikit akan meredakan ketegangan untuk memulai proses politik.

Intelektual Yaman, Hisham al-Omeisy juga merasa sangsi akan keberhasilan pertemuan kali ini. “Lebih baik (ada pertemuan-red) ketimbang tidak sama sekali, tetapi tidak banyak (hasilnya-red), “ ujarnya.

Signal positif juga muncul menjelang pertemuan, seperti janji kedua belah pihak untuk membebaskan tawanan mereka. Milisi Houthi akan membebaskan orang terdekat Presiden Hadi yang ditahannya yakni mantan Menhan Mahmoud al-Subaihi dan petinggi intelijen, Jenderal Nasser, sebaliknya pihak Hadi berjanji akan membebaskan 1.500 milisi Houthi

Yang paling menderita akibat konflik berkepanjangan itu tentu saja warga sipil, bahkan menurut laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), 8,4 juta dari 29 juta penduduk Yaman mengalami kelaparan akibat blokade ke akses pelabuhan Hudaidah sehingga melambungkan harga BBM di luar jangkauan daya beli rakyat.

Belasan ribu warga sipil terutama anak-anak tewas akibat terjebak di tengah konflik bersenjata, kelaparan atau terkena penyakit akibat fasilitas kesehatan yang porak-poranda.
“Elit saling berebut kekuasaan, rakyat menjadi korban di tengahnya” (AP/AFP/Reuters,NS)

Tragedi Yaman: 11,9 Juta Orang Kelaparan
CAMPUR tangan internasional untuk segera mencarikan solusi perang sipil berlarut-larut yang berkecamuk di Yaman dan mengakibatkan jutaan penduduk terutama anak-anak terancam kematian akibat kurang gizi dan kelaparan diperlukan.
Nada putus asa bahkan diteriakkan oleh Badan Pangan PBB (WHO) yang menyebutkan, sudah tidak ada waktu lagi bagi lembaga-lembaga kemanusiaan internasional untuk menyelamatkan warga Yaman dari bencana kelaparan.
dan BBM. Menurut laporan teranyar WHO, sebanyak 8,4 juta dari 29 juta penduduk Yaman mengalami kelaparan, bahkan jumlah tersebut diperkirakan akan bertambah 3,5 juta orang lagi menyusul anjloknya mata uang negara itu sehingga melambungkan harga sembako
Lembaga sosial dan kemanusiaan yang bermarkas di London, Save the Childern – SC (19/9) bahkan mengingatkan, seluruhnya satu generasi bangsa Yaman sedang diambang kemusnahan akibat bencana kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Berdasarkan hasil indentifikasi SC, dari catatan sebelumnya, ada 4,2 juta anak-anak di Yaman mengalami kelaparan, sehingga ditambah korban baru sekitar satu juta anak-anak lagi akibat kenaikan harga sembako dan BBM, total 5,2 juta anak-anak menderita kelaparan.
Konflik berdarah di Yaman antara milisi Houthi dan loyalis rezim petahana pimpinan Presiden Abdurrabuhh Mansour Hadi telah berkecamuk sejak 2015 dan semakin parah setelah intervensi koalisi Arab Saudi dan UEA yang berada di belakang Hadi dan milisi Hisbullah Iran yang mendukung Houthi.
Sejumlah upaya damai dilakukan PBB sejak 2015 semua berujung kegagalan, termasuk perundingan resmi yang digelar antara pimpinan Houthi dan rezim Mansour Hadi di Kuwait pada 2016 dan yang terakhir perundingan di Jenewa awal September lalu.
PBB menawarkan tiga draft solusi yakni gencatan senjata menyeluruh berupa penghentian serangan rudal ke wilayah Arab Saudi oleh Houthi, pembentukan pemerintah transisi menyertakan Houthi dan penyerahan seluruh senjata termasuk rudal balistik.
Tercatat 10,000 korban tewas selama konflik Yaman, sebagin besar warga sipil termasuk anak-anak, sementara bantuan internasional sulit masuk karena akses melalui pelabuhan satu-satunya, Hodeida menghadap Laut Merah yang dikuasai Houthi tertutup akibat blokade Saudi dan UEA .
Akibat blokade koalisi Arab tersebut, 80 persen impor Yaman dan bantuan kemanusian tidak bisa masuk melalui pelabuhan Hodeida yang menjadi ajang pertempuran dan diperebutkan oleh pihak-pihak yang bertikai.
Selain terancam kematian akibat kelaparan, penduduk Yaman terutama anak-anak dan kaum perempuan juga bisa jadi korban bom atau terkena peluru nyasar, terjebak di tengah pertempuran.
SOS… komunitas internasional harus segera turun tangan menyelamatkan Yaman dari angkara murka peperangan dan kelaparan. (AFP/AP/NS)

Advertisement