Asa Perdamaian di Korea Berlanjut

Pertemuan ketiga kalinya antara dua pemimpin negara yang berseteru, Presiden Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Mon Jae-in digelar di Pyongyang, 18 - 22 Sept.

DUA pemimpin negara serumpun yang berseteru, Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in sepakat untuk bertemu kembali guna membahas lebih rinci program denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Pertemuan yang dijadwalkan digelar di Pyongyang, Korut 18 dan 22 September nanti adalah yang ketiga, setelah sebelumnya di kawasan demiliterisasi (DMZ) di Desa Panmunjom pada 27 April dan di Pulau Santosa Singapura pada 12 Juni lalu yang juga diikuti Presiden AS Donald Trump.

Sebelumnya kedua negara masih dalam status perang sejak Perang Korea (1950 – 1953) yang menyeret koalisi Barat pimpinan AS atas nama PBB di pihak Korsel dan Uni Soviet serta China di belakang Korea Utara. Diperkirakan tiga juta korban, terbesar warga sipil tewas dalam tragedi sejarah umat manusia tersebut.

Jika jadi diselenggarakan, KTT Pyongyang nanti diharapkan menjadi terobosan besar proses damai di Semenanjung Korea karena agenda pertemuan akan membahas tahapan-tahapan yang jelas dan lebih rinci terkait program denuklirisasi.

Jika pertemuan di Singapura sebelumnya tidak tidak ada pembahasan terinci, di KTT Pyongyang nanti diharapkan akan dibahas tolak ukur, kriteria dan cara mewujudkan denuklirisasi di kawasan itu.

Menurut Dosen Kajian Korut, Universitas Kyung Nam ( Korsel) Lim Eul-chul, masih ada perbedaan besar antara Korut dan AS terkait arti “ itikad baik “ yang disampaikan Korut seperti pemusnahan situs peluncuran rudal dan uji coba peluncuran rudal.

Pertemuan antara kedua pemimpin Korea itu, menurut Lim Eiul-chul, akan dimanfaatkan oleh Kim Jong Un untuk menyampaikan signal positif terhadap Presiden AS Donald Trump.

Perbedaan lain antara AS, Korsel dan Korut terkait status Perang Korea yang belum berakhir walau tidak ada lagi pertempuran sejak 27 Juli 1953. Korut menganggap “perang telah berakhir”, sedangkan AS dan sebagian kalangan di Korsel sebaliknya, karena status “perang belum berakhir” dapat melanggengkan keberadaan puluhan ribu pasukan AS di negeri itu.

Sementara Penasehat Keamanan Korsel Chung Eui-yong yang diutus untuk menemui Presiden Korut sebelum KTT Pyongyang mengemukakan, Kim tidak pernah mengaitkan pernyataan berakhirnya perang dengan penarikan pasukan AS di Korsel.

Menurt versi Chung, Kim tidak pernah mengubah pandangannya terhadap Trump, atau paling tidak, tidak berkomentar negatif terhadap presiden AS itu kecuali mengecam AS yang dianggap “sok jago” dengan menuntut perlucutan nuklir secara penuh, tidak bisa dibatalkan dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Namun Kim tetap berniat bekerjasama dengan AS untuk mewujudkan denuklirisasi sesuai kesepakatan antara pihaknya dengan Trump, “ kata Chung seraya menambahkan, Kim agaknya frustrasi atas sikap komunitas internasional yang tidak menghargai langkah signifikan yang dilakukannya seperti memusnahkan situs ujicoba nuklir di Punggye-ri.

Dunia menyambut baik berlanjutnya proses perdamaian di Semenanjung Korea yang tentunya paling tidak akan membebaskan kedua kubu dari perang kata atau saling ancam, dan terlebih lagi, jika perdamaian benar-benar terwujud akan membebaskan Korut dan rakyatnya dari isolasi pergaulan dunia.(AFP/Reuters/NS)

Advertisement