Awas!  Cacar Monyet

Penyakit cacar monyet berasal dari Afrika sudah ditetapkan oleh WHO sebagai darurat global karena menyebar di 97 negara. Indonesia sejauh iani masih aman, walau harus tetap waspada dan mengantisipasinya.

PANDEMI Covid-19 belum usai, bahkan diperkirakan sedang menuju puncaknya akhir Juli nanti didominasi subvarian Omicron BA4 dan BA5, kini muncul ancaman cacar monyet (monkeypox) asal Afrika.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) malah sudah menetapkan, cacar monyet yang berupa penyakit infeksi virus langka ditularkan oleh hewan ke manusia (zoonosist) sebagai darurat kesehatan global.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan hal itu di Jenewa, Minggu (24/7) dengan menyebutkan, sejak Mei lalu cacar monyet sudah menyebar di 74 negara dengan sekitar 15-ribu kasus.

Kasus pertama kali penularan  dari monyet ke manusia ditemukan  di Kongo, Afrika Selatan , 1970. Gejalanya mirip penyakit cacar (smallpox) seperti demam, pusing, ruam merah di sekujur tubuh terutama telapak tangan dan kaki serta pembengkakan pada kelenjar getah bening ketiak.

Keberadaan cacar monyet pertama kali dikonfirmasi di Inggeris Raya pada 6 Mei lalu berasal dari warganya yang bepergian ke Nigeria, Afrika Barat dimana penyakit ini pada level endemis.

Para pakar WHO sendiri terbelah dua terkait pro-kontra status cacar monyet, yang sebagian menganggap sudah menjadi wabah dunia, namun sebagian lagi menganggapnya belum, sedangkan Ghebreyeus menetapkannya sebagai wabah agar dunia bersiap sedia.

Di Afrika, pola penyebarannya terjadi melalui kontak antara manusia dan hewan pengerat liar seperti bajing atau tikus, namun sejauh ini penyakit tersebut belum pernah ”menyeberang” ke benua lain.

Namun kini, ada pola penyebaran baru yang masih didalami oleh para pakar kesehatan mengingat orang-orang yang terpapar saat ini tidak pernah bepergian ke Afrika atau bersentuhan dengan hewan pengerat liar penyebabnya.

Sementara Ketua Tim Kajian Cacar Monyet WHO Rosamund Lewis menjelaskan, 99 persen pasien cacar monyet adalah kaum pria yang tertular setelah berhubungan intim dan sebagian mereka dari kalangan orang yang berganti-ganti pasangan.

Namun demikian, menurut Lewis, masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk memastikan, cacar monyet sebagai penyakit menular seksual dan tidak tertutup kemungkinan, ada pola penyebaran lain.

Yang menggembirakan, saat ini sudah ada vaksin produksi perusahaan farmasi Bavarian Nordic di Denmark, sementara Uni Eropa mengajukan pada WHO penggunaan vaksin cacar air Invamex untuk melawan cacar monyet.

Cacar monyet dilaporkan dapat sembuh sendiri dalam tiga pekan, namun pada kelompok usia lebih muda juga dapat memicu kematian sampai 11 persen dari pasien terpapar.

Walau pun sudah ditemui kasus-kasus penularannya di sejumlah negara, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, cacar monyet belum terdeteksi keberdaannya di Indonesia, namun demikian pihaknya terus memonitornya.

Siap-siap lagi menghadap serangan cacar monyet!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement