Awas Covid Muncul Lagi

WALAU tidak terjadi lonjakan massif seperti saat pandemi Covid-19 melanda dunia bermula dari Wuhan di China medio Desember 2019, tren jumlah paparan penyakit akibat virus SARS-Cov-2 itu akhir-akhir ini perlu diwaspadai.

Kabiro Komunikasi dan Layanan Publik, Dr. Nadia Tarmizi mengungkapkan, dari 30 – 40 pasien terpapar Covid sebelumnya, terjadi kenaikan selama sepekan menjadi 267 orang pada periode sepekan antara 28 November sampai 2 Desember lalu.

Selain disebabkan dugaan munculnya varian baru yang mempercepat transmisi atau penularan dari orang ke orang, lebih digencarkannya kegiatan surveilance juga berkontribusi terhadap kenaikan angka paparan  Covid.

Meningkatnya kasus-kasus penyakit saluran pernafasan (pneumonia) di China, menurut Nadia, mendorong kegiatan pemeriksaan terhadap pasien dengan keluhan batuk, pilek atau gejala influenza, sehingga kasus-kasus Covid ikut terdeteksi.

Namun yang melegakan, kata Nadia, kasus-kasus mortalitas atau kematian pasien pengidap Covid di rumah-rumah sakit cukup rendah (di bawah lima), bahkan  pasca dicabutnya status kegawat daruratan Covid-19 beberapa bulan lalu sering nihil kematian.

Sejauh ini, di Indonesia juga belum terdeteksi munculnya Covid-19 varian baru yakni BA2.86 yang muncul di sejumlah negara dan yang beredar saat ini serupa dengan yang terdeteksi di Malaysia dan Singapura yakni varian EG5 dan EG2.

Kenaikan paparan Covid dua kali lipat dari 10.726 kasus menjadi 22.094 kasus  selama kurun 19 – 25 November lalu dilaporkan pemerintah Singapura memicu kecemasan di Indonesia .

Menurut Guru Besar FKUI yang juga mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama (Kompas, 12/12), terdeteksinya kasus-kasus Covid baru di Singapura berkat kecermatan pendataan di negeri jiran itu, lagi pula angkanya masih jauh di bawah saat Singapura mengalami puncak pandemi.

Pada puncak pandemi, 22 Feb 2022 korban terpapar mencapai 26.032 orang  dan dalam sepekan bisa mencapai 150.000 orang, sehingga jumlah paparan November lalu masih 10 kali lebih rendah.

Sementara di negara jiran lainnya, Malaysia juga terjadi kenaikan 57,3 persen dari 2.305 kasus per minggu pada 12 – 28 November 2023 menjadi 3.626 kasus atau masih 10 kali lebih rendah dibandingkan pada puncak pandemi, 5 Maret 2022 dengan 33.406 kasus.

Penyebab kenaikan kasus Covid saat ini, menurut Tjandra, a.l. meningkatnya aktivitas perjalanan karena sudah tidak ada lagi pembatasan dan  menurunnya imunitas warga karena sudah lama divaksin.

Khusus di China naiknya angka Covid disebabkan munculnya kasus-kasus pneumonia dan perubahan suhu, memasuki musim dingin dan di Indonesia, Malaysia dan Singapura memasuki musim penghujan.

Tetap waspada, jangan sampai lengah dan kembali ke era pandemi Covid.

Advertisement