
DI TENGAH tren terus menurunnya angka penyebaran Covid-19 saat ini, flu burung (H5N1) yang pernah mewabah di Indonesia Agustus 2003 sampai Feb. 2004 mulai terdeteksi lagi keberadaannya.
“Masyarakat harus mewaspadai penularan virus tersebut dari hewan ke manusia (zoonosist), meskipun potensinya masih rendah, “ ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta (03/3).
Virus H5N1 dikhawatirkan bisa memicu pandemi berikutnya jika bermutasi sehingga dapat menular dari hewan ke manusia, lalu antarmanusia.
Di Indonesia, flu burung clade (kelompok) baru 2.3.4.4b sejauh ini sudah terdeteksi di peternakan bebek Peking komersial di satu wilayah di Kalimantan Selatan yang belum divaksinasi pada Mei 2022, sementara lonjakan kematian ternak bebek dan itik dilaporkan terjadi antara April – November 2022.
Flu burung pada periode antara Agustus 2003 sampai Feb. 2004 menyebabkan kematian 6,4 persen unggas di P. Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali dan Lampung dan pada April 2005 terjadi lagi peningkatan kasus di P. Jawa, Sumatera Utara dan Kalimantan Timur dan pada Juli 2005 merebak di 136 kabupaten di 21 propinsi.
Kemenkes sendiri bekerjasama dengan Kementan akan berusaha meningkatkan kesehatan masyarakat dengan melakukan deteksi dini pada unggas peliharaan mereka dan meminta masyarakat yang terkena flu segera melaporkan pada fasyankes terdekat.
Menkes juga meminta agar masyarakat khususnya peternak unggas agar tidak cemas berlebihan, menjalankan pola hidup sehat dan melaporkan jika ada kematian unggas peliharaan mereka dalam jumlah besar dalam waktu bersamaan.
Sementara itu, Guru Besar Fak. Kedokteran Universitas Hasanuddin yang juga Komite Ahli Standarisasi Biologi WHO, David Handojo Muljono clade flu burung yang menulari manusia dan menyebabkan seorang meninggal di Kamboja sudah beredar di Indonesia sejak lama.
“Sampai ini hari memang belum ada bukti penularan dari orang ke orang, tapi risiko tersebut ada, “ katanya mengingatkan. (Kompas/ns)




