
LONJAKAN tak terkendali jumlah pengunjung Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat akhir pekan lalu jika tidak diantisipasi di tempat-tempat lainnya di seluruh Indonesia bisa memicu kluster-kluster baru penyebaran Covid-19.
Bertambah dekat menjelang hari “H” Idul Fitri 1442H yang diperkirakan jatuh pada 13 Mei nanti, hasrat warga untuk berbelanja “at any cost” agaknya sukar dibendung, apalagi jika aparat dan pemda setempat tidak konsisten atau setengah-setengah dalam menegakkan peraturan.
Ada tiga unsur yang terlibat dalam subyek bagi tegaknya protokol kesehatan 3M di pasar-pasar tradisional, mal dan pusat-pusat perbelanjaan yakni aparat penegak hukum, pengunjung dan pelaku usaha yakni pemilik kios, toko, lapak.
Selain petugas yang harus konsisten, tegas dan tak kenal lelah, para pengunjung pasti bakal lebih fokus mencari “buruannya” kebutuhan lebaran, sementara pelaku usaha, secara naluriah pasti berharap akan datang sebanyak mungkin pengunjung yang menjadi calon pembeli.
Ujung-ujungnya, yang harus dan bakal kerja keras memang ya cuma para petugas yang biasanya terdiri dari unsur-unsur gabungan seperti Satpol PP, kepolisian dan anggota TNI, baik teritorial mau pun yang di-BKO-kan.
Pasar Tanah Abang yang menjadi destinasi utama para pemburu kebutuhan lebaran yang pada hari-hari minus “H” lebaran dikunjungi 35.000-an orang, melonjak pada Sabtu lalu (1/1) sampai 87.000 orang, bahkan Minggu melampaui 100.000 orang.
Kepadatan kerumunan juga berimbas dari Pusat Grosir Tanah Abang yang terkoneksi melalui jembatan penyeberangan multi guna (JPM) ke Pasar Binaan Warga Jati Baru dan selanjutnya ke area sekitarnya.
Yang membuat lebih parah, dalam upaya menghindari tumpukan calon penumpang, KRL tidak stop di Stasiun Tanah Abang pada pukul 15.00 – 19.00, padahal mayoritas pengunjung dari wilaya Jabodetabek memanfaatkan moda transportasi tersebut.
Bisa dibayangkan, repotnya para calon penumpang dengan bawaan berat usai belanja harus mencari angkutan lain menuju stasiun-stasiun terdekat seperti Palmerah, Dukuh Atas dan lainnya.
Kepadatan pengunjung juga dilaporkan di sejumlah mal dan pusat perbelanjaan di sekitar wilayah Jakarta seperti Lippo Mal Kramat Jati dan Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur dan juga di sejumlah kota-kota di ibukota provinsi dan kabupaten di berbagai lokasi.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman dan Dirut Perusahaan Umum Daerah Pasar Jaya Arief Nasrudin Minggu (2/5) tampak rapat di lt 12, Blok A Pasar Tanah Abang untuk berkoodinasi.
Tidak Ingin seperti di India
Indonesia mencemaskan terjadinya serangan gelombang kedua pandemi Covid-19 seperti terjadi di India yang membuat sistem kesehatan kolaps.
Di negeri Bollywood itu, korban paparan Covid-19 memecahkan rekor dari hari ke hari sampai menembus 400.000 orang dan rata-rata di atas 3.000 orang meninggal per hari pada (4/5) sehingga sistem kesehatan kolaps dan crematorium kewalahan melayani kremasi korban meninggal.
Selain, kluster pasar dan pusat-pusat perbelanjaan, kucing-kucingan warga yang berusaha mudik dengan berbagai cara walau pun pemerintah sudah membangun 333 titik penyekatan sepanjang Lampung, Jawa dan Bali juga bisa memicu penyebaran Covid-19.
Ancaman outbreak Covid-19 sudah di hadapan, kesadaran warga untuk tidak memaksakan diri belanja dan mudik diharapkan. Jangan sampai kita meniru apa yan terjadi di India.


