LAMPUNG – Badan Geologi Kementerian ESDM mengatakan akan memeriksa morfologi dan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diduga menyebabkan tsunami di Selat Sunda.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengatakan hingga kini masih menduga apakah ada longsor material dari lereng Gunung Anak Krakatau atau bukan.
Menurut Rudy, gunung tersebut secara visual dan morfologi berkemungkinan untuk longsor karena aktivitas vulkanik.
Dia menambahkan tipe letusan Gunung Anak Krakatau yang terpantau tim Badan Geologi bertipe “strombolian” atau melontarkan material vulkanis ke atas gunung.
Tim mencatat lontaran material vulkanis gunung itu bisa mencapai tinggi 1.500 meter ke atas.
“Kemudian tadi juga dilaporkan jam 21.03 WIB memang terjadi lagi letusan. Hanya karena cuacanya kurang mendukung untuk pemantauan visual, kita tidak melihat lontaran ketinggiannya,” ungkap Rudy, dilansir Antara.
Namun demikian, setiap letusan di Gunung Anak Krakatau juga dibarengi dengan lelehan lava yang turun mengikuti lereng.
Pihaknya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan memeriksa morfologi gunung itu untuk mengetahui penyebab gelombang tsunami yang bisa disebabkan karena longsoran material vulkanis di lautan.





