Bahaya Konsumsi Gula Berlebih, Kecanduan hingga Depresi

Ilustrasi gula. (Foto: FREEPIK/JCOMP)

JAKARTA – Mengonsumsi makanan atau minuman manis sering dianggap dapat meningkatkan suasana hati. Ketika gula dikonsumsi, otak melepaskan serotonin dan dopamin, neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan otak, sehingga seseorang merasa bahagia dan lebih bersemangat.

Namun, di balik efek tersebut, gula juga memiliki potensi menyebabkan kecanduan. Ketika rasa bahagia mereda, otak cenderung menginginkan sensasi tersebut kembali.

Hal ini membuat seseorang sering kali menginginkan (craving) makanan atau minuman manis, terutama saat kadar glukosa dalam tubuh menurun. Akibatnya, konsumsi gula yang berlebihan dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan.

Menurut dr. Rozana Nurfitria Yulia, Spesialis Gizi Klinik RS Pusat Otak Nasional (RSPON), konsumsi gula berlebih tidak hanya memicu kecanduan, tetapi juga berhubungan dengan peningkatan risiko depresi dan gangguan mental.

“Gula terkait sekali dengan depresi. Kadang jadi orang menyebutkan ‘karena saya depresi maka kita suka makan banyak minum manis’ ternyata kondisi itu bukan suatu solusi,” kata Rozana dilansir dari Antara, Kamis (33/1/2025).

Rozana menjelaskan bahwa gula tinggi dapat memicu pelepasan hormon kortisol akibat peradangan dalam tubuh. Kortisol, yang dikenal sebagai hormon stres, justru dapat memperburuk depresi.

Penelitian terhadap 1,3 juta orang menunjukkan bahwa konsumsi gula sebesar 100 gram per hari meningkatkan risiko depresi hingga 28 persen.

“Ternyata asosiasi penggunaan gula bukan hanya terkait sama penyakit metabolik, ternyata kesehatan mental juga suatu hal yang perlu diperhatikan juga karena asupan tinggi gula gitu,” ujarnya.

Rozana juga menyoroti bahwa konsumsi gula yang berlebih juga dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk memori.

Sebagian besar glukosa dari karbohidrat digunakan sebagai energi oleh otak, namun kadar glukosa yang terlalu tinggi dapat berdampak negatif.

Gula yang tinggi dapat merangsang pelepasan dopamin, menciptakan efek kecanduan yang mirip dengan zat adiktif seperti narkotika.

“Akibatnya dia minum atau makan gula hatinya senang, akhirnya membuat kita merasa bahwa itu adalah suatu solusi mau lagi-mau lagi,” ujar dia.

Efek kecanduan ini dapat membuat seseorang terus meningkatkan konsumsi gula untuk mendapatkan efek yang sama. Bahkan, konsumsi gula berlebih juga dikaitkan dengan gangguan memori, seperti sering lupa.

Rozana menyarankan agar masyarakat memerhatikan asupan gula, terutama dari minuman manis yang sering kali mengandung gula tersembunyi.

Untuk menjaga kesehatan, penting membatasi konsumsi gula tambahan agar tetap ideal, yaitu kurang dari 10 persen dari total asupan energi harian. Dengan begitu, dampak buruk konsumsi gula yang berlebihan terhadap kesehatan fisik dan mental dapat dihindari.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here