SAMA-sama putra Prabu Bathara Kresna, Setyaka adalah sosok yang tak begitu dikenal. Dia kalah pamor dan populer dibanding Raden Samba dan Setija. Karenanya dalam lakon atau cerita apapun jarang sekali dia dilibatkan. Bahkan nyalon anggota DPD saja tidak laku, karena secara alfabetis nama Setyaka ditaruh di bawah sekali dalam daftar nama calon.
Paling ngetop putra Prabu Kresna adalah Setija, ketika selalu berantem lawan Gatutkaca memperebutkan hutan Tunggarana. Samba juga beken dalam lakon ”Samba sebit” karena mati dibunuh Setija gara-gara selingkuh dengan Hagnyanawati istri raja Trajutrisno tersebut. Maklum, Samba ini memang tergolong wayang senior, dalam arti: senang istri orang!
”Pernah lho Samba nggrumut (masuk kamar) bini Pak RT. Karena tahu dia anak raja Dwarawati, warga tak tega menghajarnya.” kenang seorang warga yang tak mau disebut namanya.
”Kasusnya juga mandeg di Polsek. Untung saja nggak ada demo setelah salat Jumat,” tambah wayang kelas akar rumput lainnya di Dwarawati.
Belakangan, menjelang Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) Setyaka mulai dikenalkan pada publik. Diajak makan-makan Prabu Kresna di RM Warung Daun, bersama calon senapati PBJ, Raden Gatutkaca atau Harjuna. Disorot kamera TV dan diwawancarai pers. Kalangan wayang pun mulai menduga, naga-naganya Setyaka mau diortbitkan menjadi senapati juga.
”Bisa apa Setyaka jadi senapati? Jangankan perang, latihan baris saja nggak pernah.” kata kalangan LSM melecehkan.
”Biar saja, yang penting dia kan trah Dwarawati, titisan Hyang Wisnu. Wayangnya ganteng, tutur katanya santun, dan seiman lagi. Jadi sesuka-suka Prabu Kresna menunjuk, dong.”
Dugaan seperti itu memang tidak terlalu salah. Setelah Samba dan Setija binasa dalam lakon ”Gojali Suta”, Prabu Kresna sudah kehilangan putra-putra kebanggaan. Harapan satu-satunya untuk ”mikul dhuwur mendhem jero” bagi dirinya, kini tinggal pada Setyaka, anak muda yang selama ini kurang gaul. Kerjanya di rumah hanya main gadget, ngetwet dan WA-nan, tak ada lain. Prabu Kresna ingin melihat Setyaka tampil beda, bisa menjadi pengganti Samba dan Setija.
Menjelang PBJ tahun 2018 mendatang, Prabu Kresna diutus keluarga Pandawa ke kahyangan Jonggring Salaka, menanyakan seperti apa skenario PBJ itu. Ini sebetulnya domain kadewatan, tapi karena Prabu Kresna adalah titisan Wisnu, bolehlah dapat bocoran barang sedikit. Karena titisan Wisnu itu pula, Prabu Kresna banyak kenal dengan tokoh-tokoh penting di Jonggring Salaka. Kadang-kadang Krena kongkow-kongkow dengan dewa di Seven Eleven.
”Lho PBJ kan masih lama, kok kamu ke sini. Ngapain?” tegur Patih Narada saat melihat Prabu Kresna di Bale Marcakunda.
”Biasa, Pukulun. Mau ketemu Bethara Penyarikan. Sudah datang kan?” jawab Kresna seakan tanpa jarak.
”Hayo, mau cari bocoran skenario PBJ kan? Tuh baru disusun….”
Ini dia! Memang itu yang dicari Prabu Kresna. Lewat pintu samping dia segera menemui Sekretaris SBG (Sanghyang Bethara Guru). Tadinya Satpam menghalang-halangi, tapi setelah dikepeli uang Rp 150.000,- langsung diem. Prabu Kresna pun masuk ke Bale Marcakunda tanpa terkendala. Ngercapada dan Jonggring Salaka sama, asal ada duit semua jadi lancar.
Ternyata SBG dan Penyarikan sedang memelototi buku besar, yang dinamakan Kitab Jitapsara. Tak lama kemudian juga menyusul Patih Narada. Mereka kaget melihat Kresna slonongboi. Tapi begitu ingat dia titisan Wisnu, semua menjadi permisif.
”Kitab Jitapsara Perubahan sudah dikunci, Kresna. Kalian nantinya terima jadi saja, ini kan domain kami. Boleh masukkan program kamu dalam PBJ-2019, itu pun kalau ada” kata SBG serius.
”Maaf, kalau bisa saya ingin anak saya Setyaka dimasukkan, dan dimenangkan.” kata Kresna memohon.
SBG dan semua elit dewa yang hadir terperanjat, ternyata Prabu Kresna semangat KKN-nya masih begitu kental. Tapi SBG tegas, tak bisa menerima usulan itu. Sebab di samping usia Setyaka baru 20 tahun, juga belum pernah ikut kursus Lemhanas. Jangankan itu, kursus nyetir mobil saja nggak pernah, karena SIM A-nya bolehnya nembak.
Untung saja Prabu Kresna bisa menerima. Namun demikian dia minta dispensasi agar bisa melihat barang sedikit skenario PBJ tersebut. SBG pun mengizinkan, tapi tak boleh nyatat dan direkam pakai HP, kecuali dihafalkan saja kalau mampu.
”Jangan pula dimasukkan Youtube, bisa jadi viral nanti.” pesan Penyarikan.
”Iya, iya. Saya kan gapnet (gagap internet), Pukulun,” jawab Kresna.
Begitu melihat sepintas, raja Dwarawati ini langsung njegadul (cemberut) wajahnya. Soal A lawan B dan seterusnya, bisa menerima. Tapi jika Baladewa dilawankan dengan Antarejo, tentu akan draw, tak ada yang menang dan kalah. Sebulan juga takkan rampung, padahal PBJ dianggarkan hanya untuk dua minggu.
”Lalu bagaimana baiknya? Jika Baladewa tak dipasang, lalu Antarejo lawan siapa? Bingung kita.” keluh SBG. Aneh memang, raja kahyangan kok mudah bingung.
”Serahkan semuanya sama saya, semuanya beres. Begitu saja kok repot.” kata Kresna yang pengagum Gus Dur itu.
Prabu Kresna kembali ke bumi. Dengan tipu muslihatnya, Antarejo bisa diperdayakan, sehingga mau menjilat bekas jejak kakinya hingga tewas. Kini dia menyamar sebagai pengemis dan ketemu Prabu Baladewa di Mandura. Ternyata diberi uang pengemis itu tak mau, justru minta Dewi Erawati istrinya. Ini kan kurang ajar, istri hanya satu kok mau diambil. Pelecehan!
”Ambil tuh milik para aktivis poligami.!” ujar Baladewa sambil melempar senjata Nenggala. Tahu sendiri kan, Baladewa ini penderita bludreg, tapi jarang minum obat.
Lemparan senjata Nenggala itu meleset, dan pusaka andalan itu tertancap bumi tanpa bisa dicabut. Sudah digali dengan mengerahkan PPSU segala, tapi gagal.
”Sudah tua, jangan suka bludreg. JKS Kesehatan sudah tekor Rp 17 triliun,” sindir Prabu Kresna yang sudah kembali ke wujud aslinya, bukan lagi pengemis.
Untuk bisa mencabut kembali Nenggala, Prabu Baladewa harus berjanji, siap diasingkan di Grojogan Sewu, dekat Tawangmangu sana. Dia boleh kembali ke istana Mandura asal dijemput. Syarat lain, tak boleh bawa HP dan stel TV. Begitu sayangnya pada senjata Nanggala, persyaratan berat itupun dipenuhi.
Di Grojogan Sewu Prabu Baladewa ditemani Setyaka. Anak muda ini begitu ketat mengawasi Pakdenya, sehingga mata rantai informasi berhasil diputusnya. Sampai PBJ selesai, Prabu Baladewa sama sekali tidak tahu. Tapi tiba-tiba Kartomarmo datang ke Grojogan Sewu dengan tubuh luka-luka.
”Kenapa kamu sampai luka-luka seperti ini. Gerangan apa yang terjadi? Apakah perang Baratayuda jadi juga digelar?” Baladewa bertanya penasaran.
”Ya jadi dong Oom, malah sudah…..,” omongan Kartomarmo itu tak selesai, karena langsung ditusuk keris oleh Setyaka hingga wasalam seketika.
Tentu saja Prabu Baladewa non aktif marah sekali, terkesan ada sesuatu yang ditutupi. Jelas-jelas Setyaka sengaja menyembunyikan sesuatu. Minta diangket seperti KPK juga rupanya ini keponakan.
”Kenapa Kartomarmo kamu bunuh? Apakah Baratayuda sudah selesai? Ayo jawab, jangan purapura Bolot lu….!” ujar Baladewa.
Ternyata Setyaka diam membisu, malah pura-pura nge-WA. Dibentak-bentak sedemikian rupa tak juga menjawab, karena kedua telinganya memang tertutup earphone. Prabu Baladewa tambah emosi, sehingga senjata Nenggala langsung ditusukkan ke dada Setyaka, jleb……..
”Mampuslah kau!” maki Baladewa. Kasihan Setyaka, sudah jadi mayat masih juga dibully. Mudah-mudah tak ditolak disalatkan meski pendukung kubu Pandawa.
Prabu Baladewa segera berkemas-kemas. Berjalan kaki menuju jalan raya, baru naik angkot tujuan Mandura negeri kekuasaannya. Ternyata di jalan banyak spanduk bertuliskan: Perang Baratayuda selesai, maju kotanya, bahagia warganya. (Ki Guna Watoncarita)



