Bangsa Paling Cerewet

Ilustrasi: megaphone untuk demo.

SEMENJAK ditemukan teknologi internet di dunia maya, manusia di bumi sibuk berselancar di jagad nir raba. Setelah dikolaborasi dengan handphone, meski jagad maya tetap tak bisa diraba, tapi bisa dilihat, dibaca dan didengar. Sejak itu manusia di bumi makin tenggelam di dalamnya. Khususnya Indonesia, setelah ada kesibukan di jagad maya, anak mudanya mulai melupakan Luna Maya. Apalagi setelah ada HP jenis smartphone, semua sibuk main instagram, watschap dan twitter. Maka sebuah survei terbaru mengatakan, Indonesia sekarang merupakan negara paling cerewet di dunia.

Tweet itu artinya kicauan, sehingga aplikasinya berlogo burung. Lewat aplikasi ini orang bebas berkicau apa saja, sepanjang hanya 140 karakter. Dan inilah manusia Indonesia kurang pekerjaan, sekarang apa saja dikomentari selama 24 jam nonstop. Maka Country Head Twiiter Indonesia, Roy Simangunsong, berani menyebut Indonesia sebagai negara twitter. “Indonesia adalah negara twitter. Indonesia merupakan yang paling cerewet dari negara lainnya,” ujar Roy di Jakarta, Selasa lalu.

Istilah cerewet terpaksa digunakan, karena pengguna twitter Indonesia merupakan paling aktif dibandingkan dengan negara-negara lain. Dari 4,1 miliar kicauan per hari, 77 persen di antaranya merupakan pengguna aktif. Mereka itu didominasi kaum milenial, yang mencapai 76 persen. Untuk kaum milenial ini, twitter mengkategorikan pengguna yang berusia antara 18-35 tahun. Begitu menghipnotis dunia twitter itu, pengguna sebetulnya bukan saja para ABG, tapi juga para ABG dalam arti: Angkatan Babe Gue.

Juga lewat aplikasi Face Book, Instagram, Watschap (WA), apa saja kini bisa diunggah di jagad maya. Kesannya menjadi vandoorp alias kampungan, karena semua dimasukkan. Pindah rumah, baru makan di warung bakso, bahkan habis keramas mandi junub pun; diunggah ke internet. Orang bertengkar pun kini sudah biasa di dunia WA.

Tahun 1967-an, ketika tehnologi komunikasi belum secanggih sekarang, manusia paling cerewet hanyalah tantenya Titik Sandhora, sehingga penyanyi asal Solo itu mempopulerkan lagi “Tante Cerewet”. Kala itu hiburan manusia Indonesia baru bioskop, dan radio. TV memang sudah ada, tapi meski masih BW (hitam putih), belum semua orang punya. Radio transistor 3 batu, kala itu mewabah dan lagu “Tante Cerewet” merajai tangga lagu di radio-radio swasta dan RRI senusantara.

Berkicau atau “ngoceh terus” memang hak semua anak bangsa dan itu dijamin undang-undang. Dalam pasal 28 UUD 1945 dikatakan: Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Karena penetapnya adalah undang-undang, berpendapat juga tak boleh asal njeplak. Semua ada etikanya baik secara moral, adat maupun agama.

Diam itu emas, atau kata orang Inggris: Silence is golden. Tetapi bicara tepat waktunya juga berlian. Sebab cerewet tepat waktu itu juga bisa untuk mencegah kemungkaran di muka bumi. Hadits Nabi mengatakan: Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran maka cegahlah dengan tangannya, maka bila tidak mampu cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mapu juga cegahlah dengan hatinya, maka itulah selemah-lemah iman. (HR Bukhari Muslim)

Bisa mencegah lewat hati saja, kadang memang perlu. Sebab meski bebas berpendapat, salah-salah bisa menghilangkan pendapatan. Lihat saja sekarang Buni Yani, gara-gara komentarnya di medsos, dia berhenti jadi dosen. Sri Bintang Pamungkas, juga tak bisa mengajar lagi karena jadi tahanan Mabes Polri atas dugaan makar pada negara.

Cerewet pada negara memang boleh-boleh saja, tapi itu lebih baik disalurkan di lembaga DPR. Di sana politisi boleh ngoceh sevokal apapun, meski dulu tak pernah ikut “Bina Vokalia”-nya Pranajaya di TVRI tahun 1980-an. Tapi yang terjadi, dari 560 anggota DPR tak sampai 10 persen yang bisa digelari jadi “singa parlemen”. Kebanyakan hanya duduk diam, tiap bulan terima gaji Rp 60 juta. (Cantrik Metaram)

Advertisement