BANJARAN DURNA (21)

Patih Sengkuni geregetan. Meski dirinya bukan Trimedya Panjaitan PDIP, terpaksa mengatakan: Durmagati memang kemlinthi.

PATIH Sengkuni benar-benar kaget, kok seperti itu ya jawaban Durmagati? Kementhus (sombong) betul dia. Bagaimana kalau diberi kekuasaan struktural macam dirinya, pasti Durmagati tambah kemethak (congkak). Haryo Suman pun mulai khawatir, jika dibiarkan lama-lama Durmagati tambah dapat kepercayaan besar daripada Prabu Duryudana. Ini harus dihambat. Sebelum sempat membentuk koalisi besar sehingga mengancam kedudukan wrangka dalem Ngastina, Fadli Zon-nya Kurawa ini harus dijegal.

“Saya ini Patih Ngastina lho, Dur! Setinggi apapun kekuasaan yang diberikan padamu, kamu masih di bawah kendali saya.” Tegur Patih Sengkuni secara baik-baik, tapi sambil menuding muka Durmagati.

“Nggak bisa! Satgasus Kurawa-100 bertanggunjawab langsung pada Prabu Duryudana, bukan pada sampeyan. Kalau perlu, demi Satgasus saya bisa pecat patih Ngastina, he he he…..” Jawab Durmagati tak mau kalah gertak.

Meski bukanlah Trimedya Panjaitan anggota Fraksi PDIP di Senayan, kali ini patih Sengkuni harus mengatakan makin kemlinthi saja Durmagati ini. Mentang-mentang baru dapat kepercayaan dari Prabu Duryudana, lalu menganggap kecil dirinya yang patih Ngastina. Untungnya Patih Sengkuni masih bisa mengendalikan emosi, meski omongan Durmagati begitu jumawa, dia memilih menyingkir tidak meladeni. Sebab ngeyel pada Durmati lama-lama malah ora kajen.

Ternyata tak semua klaim Durmagati benar, sebab hanya sebagian kecil bala Kurawa-100 yang tunduk dalam kendalinya. Dari sekian Kurawa yang jelek, masih banyak juga Kurawa yang baik. Berdasarkan survei yang dilakukan LSM “Cari Untung”, ternyata yang masuk Satgasus Durmagati hanya: Dursasono, Citraksi-Citraksa, Kartomarmo, Kartodenda, Kartipeya dan emak-emak si Nenok Warsiman. Dia ini komplotannya Buniyanto tokoh di luar garis Ngastina.

Sedangkan yang masih loyal pada Patih Sengkuni adalah: Gardapati, Gardapura, Wresaya, Wikarpo, Suseno, Wiwingsati, Jayawikatha, Citramarma, Durmenggala, Durgasura, Duryuda,  Jayaboma, Jayadenta, Wiryajaya, Wiryomartono, Argosara, Dirgasura, Bomawikatha, Wikathaboma, Bimasuwala, Danurdara, Bimarata, Citrakunda, Surtayuni, Surtaya, Surtayu, Surtanah, dan masih buanyak lagi.

“Anak prabu Duryudana, benarkah Durmagati sudah direstui jadi Ketua Satgasus Kurawa-100?” kata Patih Sengkuni kepada Prabu Duryudana melalui HP.

“Ndak benar itu! Nggak ada satgasus-satgasusan, tangkap dia!” jawab Prabu Duryudana tegas.

Tul, kan? Dari awal Patih Sengkuni sudah curiga akan kelakuan Durmagati yang demen ngerjain orang itu. Sebagai wayang satu kubu, tapi dia selalu nyinyir pada kebijakan Prabu Duryudana-Patih Sengkuni. Jadi semua omongan Durmagati ini selalu dijiwai semangat Rocky Gerung dan Fadli Zon dari Indonesia. Program TV Kurawa Ngiler Club yang diasuh Murni Bias jadi tak seru bila Durmagati tidak dimunculkan.

Ditemani sejumlah wayang kepercayaannya, Patih Sengkuni menggerebek pabrik migor curah yang konon berbasis Lenga Tala tersebut. Ternyata banyak juga parpol yang ambil barang ke sini, karena migor itu mau dijadikan alat pendongkrak elektabilitas. Buat orang kampung, “disogok” migor 2 liter saja langsung siap mendukung dan mencoblos parpol “dermawan” itu. Mereka tak tahu bahwa hanya dijadikan steger atau bancikan untuk meraih kekuasaan.

“Durmagati, hanya ada dua opsi untukmu. Tutup pabrik migormu, atau tetap boleh buka tapi jangan catut nama Lenga Tala. Jika nekad, silakan bawa handuk kecil dan sikat gigi, polisi akan segera menjemputmu.” Ancam Patih Sengkuni pada Durmagati yang kebetulan kontrol pabrik migornya.

“Masak sama kawan sendiri setega itu, Oom. Mbok janganlah, kasihan para pekerjanya. Mareka baru bangkit lagi setelah terimbas Covid-19.” Ujar Durmagati melunak, kesannya minta kebijakan.

Tapi karena Patih Sengkuni harga mati pada keputusannya, Durmagati pun memilih opsi kedua. Usaha migornya tetap jalan, namun tak lagi pakai merk mencatut nama Lenga Tala. Dan pengaruhnya luar biasa. Mendadak migor curah produk Satgasus Kurawa-100 itu tidak laku, karena ternyata aslinya hanya lenga klentik biasa, diproduksi dari parutan kelapa yang dijemur.

Heboh migor curah produk Durmagati usai seminggu kemudian. Lalu muncul kabar baru bahwa botol Lenga Tala yang dilempar Begawan Abiyasa telah ditemukan pada sebuah sumur mati Jalakarta. Disebut demikian karena bentuknya mirip sumur resapan di Jakarta atas idenya Gubernur Anies. Bedanya, sumur resapan Jakarta berkedalaman hanya 3 meter sementara sumur Jalakarta dalamnya tak terhingga. Tapi permukaan airnya tampak nyata, sehingga botol Lenga Tala yang mengambang bisa dilihat dengan jelas.

“Siapkan galah dan Lenga Tala itu harus kita ambil segera.” Perintah Patih Sengkuni pada Kurawa-100. Mereka telah melupakan Satgasus migor.

“Galah bambu kurang praktis, mending pakai jangkar saja.” Saran Dursasono.

Sumur berdiameter 1,5 meter tanpa tembok melingkar itu dikelilingi para bala Kurawa, semua muka tertunduk ke bawah, ke sumur Jalakarta. Galah lalu dimasukkan, tapi meskipun kelihatan dekat, tapi tak kunjung kena juga. Kemudian dicoba pakai jangkar, tapi hasilnya sama: nol besar! Akhirnya, karena sudah tidak sabaran lagi, Citraksi yang sok jago mau terjun langsung masuk ke dalam sumur.

“Jangan! Berbahaya itu Cit. Kedalamannya tidak jelas, sedangkan kamu tak bisa berenang. Bisa tenggelam dan hilang kamu.” Kata Patih Sengkuni lagi melarangnya.

“Bisa kok man saya berenang, pakai gaya batu!”

“Ya sama saja kamu klelep, goblok…!” omel Patih Sengkuni saking jengkelnya.

Demikianlah, sampai berjam-jam usaha pengambilan botol Lenga Tala selalu gagal. Kemudian Patih Sengkuni ingat pada Begawan Durna. Beliaunya kan dikenal punya kesaktian luar biasa. Siapa tahu bisa mengambil Lenga Tala di sumur Jalakarta itu dengan mudah. Maka segera diambilnya HP, dan berdialoglah keduanya pakai gatget canggih itu.

“Maaf Wakne Gondel, masa berkabung telah lewat kan?” tembak Haryo Suman.

“Jelas saya maafkan, meski sedikit kata-katamu, tapi sengak didengar.” Jawab Begawan Durna, karena kesannya Patih Sengkuni mengingatkan dirinya yang patah hati kalah bersaing rebutan Dewi Rukmini tempo hari. (Ki Guna Watoncarita)