BANJARAN DURNA (23)

Patih Sengkuni dan Prabu Duryudana tak mau buka data olesan Lenga Tala, karena takut dibocorkan Bjorka.

BOTOL Lenga Tala isinya tinggal separo, diperebutkan sekitar 75 wayang Kurawa yang setara dengan TGUPP Gubernur DKI Jakarta yang nyaris bubar. Kesannya jadi seperti rebutan sembako Bansos. Mereka saling sodok, saling dorong, bahkan saling tarik. Lagi-lagi botol Lenga Tala itu pecah, sehingga isinya berantakan muncrat ke sana kemari. Maka yang berharap bisa blonyohan Lenga Tala seluruh tubuh, itu hanya mimpi. Dapat beberapa olesan saja sudah termasuk beruntung sekali.

Sungguh kasihan Patih Sengkuni, sudah tua masih juga ikut rebutan macam anak kecil. Akhirnya jadi ra kajen (tak dihormati). Masak iya sih, orang nomer dua di negri Ngastina kepalanya sampai terinjak-injak, hanya karena bela-belain minyak sakti dan nan perkasa kata Citraksi. Sakti maksudnya tahan bacokan, dan perkasa bisa tahan lama ketika menjalankan “sunah rosul” bersama istri.

“Di Cuni, kamu ini patihnya anakmas Prabu Duryudana lho, masak sampai sebegitunya. Dikerjain Citraksi kok mau juga ….!” Tegur Begawan Durna.

“Wakne Gondel nggak tahu sih, gara-gara diabetes, saya sudah 10 tahun lebih jadi “non aktif”. Siapa tahu berkat Lenga Tala ini, semua masalah jadi selesai. Jika dibacok tidak mempan, kan berarti bebas dari luka. Padahal penderita diabetes itu sekali terluka susah sembuhnya.” Jawab Patih Sengkuni.

Begawan Durna pun kemudian memberi advis berdasarkan pengalaman para penderita diabetes di Youtube. Katanya, hanya dengan mengkonsumsi telur 18 butir dalam sehari (6 X 3), bisa kembali normal dalam tempo 4 bulan. Ternyata Patih Sengkuni juga sudah tahu kabar itu. Tapi untuk makan telur bebek sehari 18 butir sungguh tidak sanggup. Telur rebus memang enak sih, tapi bau kentutnya itu lho. Padahal Patih Sengkuni ini bisa muntah-muntah hanya karena mencium bau kentut sendiri!

Perebutan Lenga Tala telah usai. Areal seputar sumur Jalakarta terlihat acak-acakan tak keruan, sementara para wayang Kurawa sudah pergi meninggalkan Durna-Sengkuni yang tengah diskusi tentang satu hal yang kata Menko Mahfud MD hanya boleh didengar oleh kalangan dewasa. Soal komitmen Kurawa yang dilanggar, Begawan Durna males untuk mempertanyakannya, karena nanti Patih Sekuni pasti cari kambing hitam, padahal Idul Qurban masih jauuuuh!

“Kamu tadi nginjek cengel (tengkuk) Patih Sengkuni ya? Kayaknya nafsu banget, disengaja ya?” kata Citraksi pada Durmagati.

“Memang iya. Habisnya jadi patih urusan beginian saja kok ikut-ikutan nimbrung. Gelombang I kan sudah dapat Lenga Tala banyak, kok gelombang II ikut lagi, rakus amat jadi patih. Ada orang ngobyek diusilin…..” Jawab Durmagati dengan bibir manyun bersungut-sungut, ada bau migor di dalamnya.

Sebetulnya tak hanya Durmagati yang jadi pembenci Patih Sengkuni, tapi mereka rak berani vocal dan frontal macam Durmagati. Jadi patih banyak bikin kebijakan yang merugikan rakyat, tapi Prabu Duryudana mengiyakan saja. Atau mungkin dapat bagian? Masak nama-nama jalan di Ngastina diganti seenaknya, penduduk kan jadi repot karena harus menyesuaikan dokumen-dokumen miliknya. Lalu sumur resapan dibangun di mana-mana, padahal nggak juga mengatasi banjir.

Yang meneken SK raja memang Prabu Duryudana, tapi otaknya sebetulnya ya Patih Sengkuni nan licik itu. Akibatnya yang dapat nama jelek Prabu Duryudana, padahal biangkeroknya Patih Sengkuni ini. Tapi Prabu Duryudana mau bertindak keras pada Patih Sengkuni juga tak berani, karena dia adalah pamannya. Kalau patih sampai digeser, nanti Dewi Gendari sang ibu bisa marah. Jelek-jelek Sengkuni atau Haryo Suman ini kan adiknya.

“Bagaimana paman Sengkuni, tadi ikut berebut Lenga Tala lagi ya? Memangnya yang kemarin belum cukup?” ujar Prabu Duryudana di Istana Gajahoya.

“Cukup nggak cukup sih. Ada bagian tubuhku yang belum sempat saya olesi minyak Lenga Tala, maka ketika ada gelombang kedua, ya saya nimbrung!”

Di mana bagian tubuh yang belum diolesi, sayangnya patih Sengkuni tak mau menyebut. Lagi-lagi pinjam istilah Mahfud MD, ini hanya untuk kalangan dewasa. Maunya Haryo Suman, seluruh tubuhnya teroleskan minyak keramat itu, sehingga dalam kancah Perang Baratayuda nanti, dijamin aman! Padahal meski Perang Baratayuda Jayabinangun itu merupakan program kahyangan tapi belum diskenario siapa lawan siapa. Lha wong anggarannya juga belum disetujui DPR.

Bagi Prabu Duryudana sih, tak terlalu memikirkan benar Lenga Tala itu. Sudah ikut berebut di gelombang I, sudahlah cukup. Tak semua tubuh sempat terolesi, tapi di mana itu barang yang kosong, itu menjadi rahasia Negara. Sebab jika kubu lawan sampai mengetahuinya, pastilah kelak akan menjadi sasaran di saat perang berkecamuk nanti. Semoga saja Bjorka tidak mengurusi soal beginian, takutnya nanti dibocorkan dan dijadikan duit.

“Kangmas Duryudana tak ikut memperebutkan Lenga Tala gelombang II. Memangnya seluruh tubuh sudah terlindungi minyak keramat itu?” Tanya Dewi Banowati sang permaisuri.

“Ssst, jangan tanya soal begituan, itu pamali. Sekarang tembok dan plafon pun bisa ngomong. Ini bahaya, saya bisa jadi obyek pemerasan wayang tak bertanggungjawab.” Potong Prabu Duryudana mengingatkan istrinya.

Dulu yang bisa ngomong itu kata penyanyi Dul Sumbang hanya bulan, itupun baru andaikan. Jika sampai bulan benar-benar bisa ngomong, wah…..,itu sangat berbaya. Bintang-bintang pun akan dia kantonginya bersama Nini Karlina. Sebab kata Dul Sumbang, “Karena engkau aku bangkit!” Padahal Patih Sengkuni sudah 10 tahun tak bisa bangkit.

Demikianlah, Begawan Durna kembali ke Sokalima dengan Grab yang dicarternya. Sepanjang perjalanan pulang dia mengucap syukur, karena nasibnya tak seburuk Patih Sengkuni, di mana selama 10 tahun tak bisa bangkit. Sedangkan dirinya, tetap normal-normal saja dalam usia 60 tahunan. Tapi ya apa gunanya bisa bangkit, jika mau mengawini Dewi Rukmini saja gagal total. Mending seperti Patih Sengkunilah, tak ada istripun tak jadi masalah karena memang tak bisa bangkit.

“Bagaimana rama, sukses dapat proyek ngangkat Lenga Tala di sumur Jalakarta? Banyak duit dong!” sapa Aswatama putra tunggal Sokalima itu setibanya ayah di pertapan.

“Kamu itu, duit melulu yang dipikirkan. Ini perjuangan kemanusiaan, sehingga semuanya nirlaba.” Jawab Begawan Durna dengan muka ditekuk. (Ki  Guna Watoncarita)