BANJARAN DURNA (24)

Kartomarmo sebagai Panpel tertawa Durmagati yang macam ikan buntal mau ikut lomba timbang badan.

MENYAMBUT hari ulang tahun berdirinya negeri Ngastina 60 tahun lalu, Prabu Duryudana hendak menyelenggarakan berbagai lomba. Lomba ini bisa diikuti para Kurawa-100 khususnya dan rakyat Ngastina pada umumnya. Biasanya paling favorit lomba panjat pinang, balap karung. Tak ada lomba makan kerupuk dan bawa kelereng dalam sendok yang digigit, karena Kurawa-100 bukan lagi anak-anak.

Yang mengherankan, hari lahir negeri Gajahoya selalu diperingati, tetapi lambang negara pakai burung garuda, sama sekali belum dimiliki negri Ngastina. Mau meniru Indonesia yang lambang negaranya atas kreasi Sultan Hamid II, jusru merasa tidak berani. Sebab asal tahu saja, berdirinya negeri ini oleh Prabu Palasara dulu diyakini 8 Januari  1962, sehingga jika nyontek Indonesia hasilnya: bulu sayap cuma 8 dan bulu ekor hanya 1 lembar. Ini kan sama saja burung garuda berondol usai dibubuti.

“Nggak usah dululah, kita nanti habis dibully negara tetangga. Sambil tunggu ide-ide brilliant untuk lambang negara, kita fokus pada hari peringatan berdirinya saja dulu. Paman Sengkuni ada ide? Masak tarik tambang dan lomba panjat pinang melulu.” Ujar Prabu Duryudana dalam sidang kabinet sangat terbatas, karena hanya bersama Patih Sengkuni belaka.

“Kali ini anak prabu, saya usulkan lomba timbang badan saja. Semakin ideal berat badan kawula Ngastina, semakin sehat negara ini. Sebab makin sedikit yang klaim BPJS-Kes.” Jawab Patih Sengkuni mantul (mantab betul).

Prabu Duryudana manggut-manggut macam Pak Harto di jaman Orde Baru. Patih Sengkuni memang cerdas, cerdik sekaligus licik. Sampai disebut sedemikian negative, ya  karena liciknya tingkat dewa. Dulu dia pernah bernadzar mau jalan kaki  Ngastina – Ngalengkadiraja PP, tapi sampai sekarang tak pernah dilaksanakan. Asal disindir kubu sendiri si Durmagati, jawabnya enteng saja tanpa rasa malu: saya sudah tua, sudah mirip bebek lumpuh.

Dan sekarang kenapa Patih Sengkuni tampak kritis? Karena dia melihat bala Kurawa-100 tampak semakin hedonis. Demen pamer kekayaan meski tidak kaya-kaya amat. Sejumlah petingginya kelihatan serba gendut, ya gendut badannya yang gendut pula rekeningnya. Ini kan jadi sorotan rakyat, terutama Durmagati Fadli Zonnya Kurawa. Bisa dijadikan pembuktiaan terbalik, contohnya di luar Kurawa. Gubernur Papua yang gendut orangnya, gendut pula rekeningnya. Menko Polkam Mahfud MD menduga, Lucas Enembe bukan hanya Rp 1 miliar korupsi dana PON, tapi ratusan miliar.

“Untuk pemenang, hadiahnya apa Paman Sengkuni.” Ujar Prabu Duryudana lagi.

“Kalau mau keren anak prabu, uang tunai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Kalau mau ngirit ya cukp piagam saja.” Jawab Sengkuni dengan takjim.

Prabu Duryudana pada akhirnya memilih yang berhadiah uang saja, sebab jika sekedar uang kisaran Rp 100 jutaan, tak perlu membebani APBN, cari sponsor swasta juga dapat. Kalau ada yang nyinyir paling-paling juga Durmagati. Sebab dia pernah bilang, dana CSR masuk APBN dulu, baru dibelanjakan. Ini persis kalimatnya Fahri Hamzah rekan Fadli Zon DPR saat Ahok bangun jalan lingkar Semanggi.

Kartomarmo selaku Panpel Lomba Timbang Badan memperoleh alokasi dana Rp 80 juta, tapi tak mau mengambil sekaligus. Hanya pas perlu saja dia minta ke bendahara kerajaan. Soalnya dia takut terjebak korupsi macam dana PON Papua. Dia tak mau nanti diledek rakyat Ngastina sebagai Kartorupiah.

Sebaai Ketua Panpel Kartomaro kemudian mengeluarkan aturan, peserta yang tinggi badan (TB) 170 Cm, maka berat badan (BB) ideal harus 70 Kg. Sedangkan yang TB-nya 160 Cm, maka BB-nya harus 60 Kg. Mereka yang di luar rumus tersebut otomatis tereleminasi alias tak dapat hadiah.

“Saya mau ikut lomba, boleh nggak?” kata Durmagati ketika pendaftaran lomba timbang badan sudah dimulai.

“Ya bolah-boleh saja. Tapi model ikan buntal macam kamu, saya pesimis kamu nanti menang.” Jawab Kartomarmo bikin minder calon peserta.

Selepas mendaftar, di rumah Durmagati iseng-iseng mencoba menerapkan rumus Broca yang jadi acuan panitia lomba. Karena tak punya alat timbang badan yang bisa diinjak, terpaksa pakai timbangan duduk FA Gani punya juragan beras milik Bu Martono. Ternyata Durmagati yang TB-nya hanya 150 Cm, BB-nya sampai 70, ini kan sama saja cendek ipel-ipel macam karung beras. Karena Durmagati memang tak punya pinggang.

“Nggak punya pinggang nggak papa, kan malah tak pernah sakit pinggang,” batin Durmagati menghibur diri sendiri.

Gara-gara itu Durmagati tak melanjutkan ambisinya alias tak jadi berminat ikut lomba. Mending tetap jadi pengamat alias nyinyir tiap hari, mengkritisi hajatan keluarga besar Kurawa. Ketika nyinyir dan kritiknya masuk media online dan koran, barang buktinya dikirim ke luar negeri dan dapat transveran. Pekerjaan Durmagati memang mirip LSM yang plesetannya: Lembaga Suara Miring.

Pesertanya lumayan banyak, dari keluarga Kurawa-100 sampai rakyat biasa. Tapi tak semua Kurawa-100 ikut mendaftar. Sebab banyak juga yang kurang pede duluan, Citraksa-Citraksi misalnya. Baik TB maupun BB-nya jauh dari ideal. Dursasono juga ogah mendaftar, sebab BB dan TB-nya tak seimbang. Tapi dia tak ikut nyinyiran macam Durmagati. Bagi Dursasono, ketimbang hidup hanya main twiter melulu, mending santai di rumah sambil udud-ududan. Dursasono memang punya prinsip, asal slepen penuh tembakau hidupnya sudah tenang.

“Paman Sengkuni, sebaiknya jangan hanya keluarga besar Kurawa saja. Keluara Pandawa Lima juga kita minta partisipasinya untuk ikut.” Saran Prabu Duryudana.

“Oh iya ding! Oke anak prabu, tinggal saya kontak Panpel Kartomarmo.”

Sesuai dengan petunjuk Patih Sengkuni, Panpel Kartomarmo segera kirim undangan lewat WA. Ini untuk menunjukkan bahwa meski nantinya di Perang Baratayuda akan menjadi dua front yang akan saling bunuh, tapi sebelum peristiwa itu terjadi harus ditunjukkan rasa persahabatan antara Pendawa dan Kurawa. Perang Baratayuda kan ketentuan dewa, wayang Kurawa dan Pandawa tinggal menjadi pelaksananya. (Ki Guna Watoncarita)