BANJARAN DURNA (25)

Ditanya Aswatama, jawab Panpel Kartomarmo selalu klise: peserta ribuan. Padahal .....

UNDANGAN lewat WA dari Ngastina itu tengah dibahas keluarga Pendawa Lima. Para peserta sidang terbatas ini rata-rata merasa kaget, tumben-tumbenan Kurawa-100 ngurusi soal beginian. Bener juga sih, tubuh yang proporsional akan mendorong kesehatan lebih terjamin. Tapi hal-hal beginian apa perlu masuk skala prioritas? Tubuh gemuk pendek macam Durmagati, itu kan sudah takdir dari sono-Nya. Masak suruh diet ketat, malah bisa mati kaliren (kelaparan) dia.

“Dimas Seno, bagaimana kita mau mengikuti lomba timbang badan di Ngastina?” kata Puntadewa minta pertimbangan adiknya, Bima.

“Ya ikutlah, buat ngguyubi keluarga. Tapi gue paling-paling tereliminasi juga.” Jawab sang Bima Seno sudah minder duluan.

Bagaimana nggak minder? Dengan TB 180 Cm, Bima ini BB-nya mencapai 90 Kg. Disarankan untuk olahraga jalan pagi tiap hari males-malesan, sedang hobinya ngemil sambil buka-buka WA, otomatis tubuhnya kurang gerak. Saking beratnya badan, bila Bima jalan terdengar suara bug….bug…..bug….., sehingga punakawan Gareng Petruk pun memanggilnya Bima Gedebug!

Bagi Puntadewa-Harjuna dan sikembar Nakula-Sadewa pede saja, sebab mereka memang bertubuh proporsional. Gemuk tidak, kurus juga tidak. Secara ekonomi, kaya tidak, miskin juga tidak. Oleh karena itu, ikutnya mereka dalam Lomba Timbang Badan di Ngastina itu bukan karena mengharapkan hadiah, tetapi sekedar menjaga persahabatan antara darah Kuru.

“Kangmas Bima tetap mau ikut lomba? Tapi diet dulu kangmas.” kata Sadewa setengah meledek.

“Mana sempat, waktu kan tinggal 2 minggu. Untung-untunganlah. Menang sukur gak menang juga nggak papa. Santai aja bro!” jawab Bima dengan gaya bahasa kekinian.

Demi menyemarakkan acara, Kartomarmo sebagai Panpel bukan sekedar pasang spanduk dan baliho, tapi juga bagi-bagi poster dan kaos bertuliskan: timbang badan langkah menuju Ngastina sehat! Dewi Dursilawati si bungsu Kurawa, juga ikut bantu bagi-bagi ribuan kaos pada rakyat. Uniknya, lha kok mirip Puan PDIP! Mukanya juga masam bin njegadul, sehingga kaos dilempar-lempar begitu saja. Untungnya Dursilawati ini tidak mau nyapres.

Tapi ya dimaklumi, si bungsu ini anak yang tak pernah ngrekasa (sengsara) sedari kecil. Dalam asuhan ibu Dewi Gendari dan ayah Destarata raja Ngastina yang tuna netra tapi tak tuna kantong, dia selalu sejahtera dalam keseharian. Apa pun yang diinginkan selalu terpenuhi. Maka bagi Gendari-Destarata, Dursilawati ini nggak nangis saja sudah meruapakan kebahagiaan luar biasa.

“Kaosnya nggak saya pakai, malah buat lap meja. Habisnya, cara membaginya tidak etis, hanya dilempar-lempar begitu. Memangnya kita ini wayang apaan?” ujar Tumenggung Kartomaya, Satpam di sebuah pabrik.

“Mungkin Dursilawati sedang ada masalah, sehingga tak bisa focus.” Jawab wayang akar rumput lainnya.

“Kalau ada masalah kan tinggal ke Kantor Pegadaian, dialah ahlinya ahli mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah.” Jawab Tumenggung Kartomaya lagi.

Karena Dursilawati tidak mau nyapres itulah, blunder pembagian kaos itu tak sampai menjadi viral, apa lagi spiral. Dengan demikian Dewan Kolonel di negeri Ngastina yang dipimpin Haryo Suman tak perlu angkat bicara. Dan,  di kala hari H lomba timbang badan tiba, rakyat tampil ke halaman Istana Gajahoya dengan mengenakan kaos full sponsor itu. Ikut lomba apa tidak, yang penting hadir. Toh jika haus dan laper Panpel Kartmarmo sudah siapkan nasi bungkus dan akua gelasan secara gratis, tanpa harus demo ke penguasa dulu.

Ternyata peserta lomba timbang badan itu tak begitu banyak. Dari Pendawa Lima, Puntadewa tidak tampil, dari kubu Kurawa-100 hanya sebanyak 71 orang. Total jendral hanya sekitar 75 orang, mirip dengan TGUPP-nya Gubernur Anies Baswedan di DKI Jakarta yang sebentar lagi mau bubar. Namun demikian Panpel Kartomarmo asal ditanya selalu menjawab klise, peserta ombyokan dan yang hadir sebagai penonton ribuan. Padahal jumlah wayang sekotak juga tak sampai 300 biji.

“Rupanya paman Kartomarmo kadrun juga ya, padahal bukan aktivis PA-212.” Sindir Aswatama yang sempat nonton juga.

“Diem lu ah, tinggal nonton saja kok rewel.” Sergah Kartomarmo.

Demikianlah, setelah sambutan Kartomarmo selaku Panpel kemudian disusul oleh Prabu Duryudana yang pada intinya ditekankan, lomba ini targetnya demi wayang Ngastina sehat. Jika para wayang sehat semuanya, niscaya BPJS-Kes tak perlu disubsidi dan dananya bisa dialihkan ke pos lain yang lebih bermanfaat. Sebab Prabu Duryudana punya prinsip, bahagia rakyatnya, majulah negaranya.

Lomba timbang badan pun dimulai. Sebagai kehormatan Pendawa Lima yang ditimbang dulu meski pesertanya hanya 4 karena Puntadewa absen.  Giliran wayang Ngastina mulai ditimbang, dipanggil satu persatu  sesuai nomer pendaftaran. Ternyata penonton di manapun sama urakannya, suka komentar macam-macam yang cukup nyakitin, tapi tak mungkin diprose secara hukum.

“Hoi, ini karung beras mau ngapaian?” ujar seorang penonton, ketika melihat wayang gemuk pendek maju ke depan menimbang badan.

“Busyet dah, penggalah ikut lomba juga!” sindir wayang lain ketika peserta tinggi kurus maju ke depan untuk timbang badan.

Penimbangan badan dilakukan dengan menggunakan timbangan digital, yang berfungsi sekaligus untuk BB dan TB. Jika setiap peserta memakam waktu 5 menit setiap penimbangan, membutuhkan waktu 7 jam-an untuk menyelesaikan lomba ini. Hasilnya kemudian diumumkan hari itu juga. Ternyata benar, Bima tereliminasi, karena timbangan hampir jebol diinjak olehnya, sehingga yang dapat hadiah hanya Harjuna dan sikembar Nakula-Sadewa.

Giliran peserta Kurawa-100, dari peserta 71 orang, yang tereliminasi sekitar 50 peserta, sehingga yang dapat hadiah keseluruhan hanya sebanyak 24 peserta. Kesimpulannya: wayang Ngastina banyak keberatan badan karena kurang olahraga. Prabu Duryudana pun merasa cemas, sebab itu artinya dana BPJS-Kes bisa tergerus dan harus disubsidi melulu. (Ki Guna Watoncarita)