BANJARAN DURNA (36)

Prabu Kresna tertawa, karena ternyata sakitnya Harjuna hanya kena penyakit malarindu.

BERITA sakitnya Harjuna sudah sampai juga ke Dwarawati, melalui siaran TV. Sebagai kakak ipar yang baik, tidak enak rasanya jika tak segera membezuk. Beliauya pun pergi ke Madukara dengan segera. Cuma bila biasanya terbang sendiri, kali ini terpaksa menyewa jet pribadi, karena kakinya sedang kaku-kaku gara-gara terkena asam urat. Untung saja ibu jari kakinya tak sampai njendhol macam penderita asam urat kronis.

Jarak Dwarawati-Madukara kurang lebih 220 Km, kira-kira sama dengan Jakarta – Cirebon lewat jalan tol. Ongkos carter jet pribadi Rp 150 juta PP. Bagi wayang akar rumput, itu tarif yang sangat wah, saking tidak terjangkaunya. Tapi bagi Prabu Kresna yang sedang berhalangan kaki, ya murah-murah saja. Sebab itu dibayar bukan pakai uang pribadi, tapi ada dana khusus dari kas kerajaan namanya DOR (Dana Operasional Raja). Dan itu jarang digunakan.

“Sinuwun nginep atau tulak (balik lagi) nanti di Madukara?” tanya Patih Udawa sambil menyembah takzim.

“Percuma pakai jet pribadi jika masih juga nginep. Ya pulanglah, paling di Madukara 1 jam saja.” Jawab Prabu Kresna.

Prabu Kresna sebetulnya tahu arah pertanyaan patihnya ini. Dikiranya sebagai pejabat tinggi negara jika ke daerah suka main cewek, karena “ditraktir” pejabat daerah. Untuk raja Dwarawati tidak sampai sebegitunya. Bagi Prabu Kresna mending poligami macam tokoh-tokoh PKS, ketimbang ngeteng di jalanan yang belum tentu bebas suci hama. Di samping itu, hal demikian kan menyakitkan istri pokoknya di rumah.

Tak sampai 30 menit Prabu Kresna sudah tiba di Madukara, dan langsung ke kamar tidur Harjuna yang ditunggui Wara Sembadra. Tapi begitu melihat penampilan Harjuna sedang sakit, raja Dwarawati itu malah tertawa ngakak, gayanya mirip  Tarto Kresna RRI Surakarta. Wara Sembadra pun sampai cingak (heran) dibuatnya.

“Sst, saya kasih tahu ya, suamimu ini kena penyakit malarindu.” Ujar Prabu Kresna, berbisik di telinga Sembadra.

“Malarindu? Berat mana dengan malaria  tertiana?” jawab Sembadra masih menunjukkan wajah bingung.

Sambil tetap berbisik Prabu Kresna menjelaskan, jika terkena malaria cukup diobati pil kina produksi Bandung, sedangkan malarindu harus diobati dengan kawin lagi. Lalu kata Prabu Kresna lebih lanjut, sebetulnya Harjuna sedang ketaman turidasmara (kasmaran berat) pada Wara Srikandi putri Pancala anak Prabu Drupada. Masalahnya sekarang, ridla dan rela nggak Wara Sembadra dipoligami lagi untuk sekian kalinya.

Ternyata di luar dugaan. Bila Teh Ninih dari Bandung tak rela dimadukan oleh Aa Gym, Wara Sembadra justru dianggap sebuah keberuntungan. Sebab dengan pertambahan istri baru, berarti tugas “piket” malamnya ada yang ngaplus. Asal tahu saja ya, Harjuna soal “bercocok” tanam di ladang istri doyan banget. Bisa tiga kali seminggu sesendok makan.

“Bener kamu nggak cemburu, lalu angkat palang pintu?” tanya Prabu Kresna.

“Ya enggaklah! Kangmas Prabu, saya malah seneng kok dipoligami. Pekerjaan itu kalau digarap rame-rame kan jadi ringan dan cepat selesai.” Kata Wara Sembadra santai.

Mendengar ucapan istrinya, mendadak Harjuna bangkit dari ranjang, rasa sakitnya hilang seketika.  Kini nampak segar bugar, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Wara Sembadra lalu dirangkul, sebagai tanda terima kasihnya. Dia baru mengerti bahwa istri jakalara-nya ini memang perempuan yang tulus, yang memahami kebutuhan suami. Baru kali ini ana perempuan madu dimadu kok ikhlas-ikhlas saja. Tahu begitu dari dulu dia mau buka rumah makan ayam bakar Wong Solo macam Puspa Wardoyo.

“Dimas Harjuna, meski istrimu merestui, kamu jangan lalu kemaruk, lalu demen koleksi bini. Soalnya, meski kuat di bonggol tapi benggol (uang) tak mendukung, rumahtangga takkan tenteram. Ribut melulu…..” ujar Prabu Kresna kasih nasihat.

“Betul kangmas Kresna. Tapi saya ini kan mengemban tugas kadewatan (dewa) sebagai satria lelananging jagad, sehingga harus banyak menikahi wanita demi memenuhi asas pemerataan…..” Jawab Harjuna tak mau kalah.

Memang begitulah ketentuan dewa dari Jonggring Salaka. Saking tampannya Harjuna dia banyak digandrungi wanita. Bahkan karena kesaktiannya, Harjuna pernah ditawari menjadi perwira menengah di Jonggring Salaka sebagai bala tentara dengan pangkat tituler. Tapi dia menolak, karena takut menyaingi Dedy Corbuzier dan diprotes sana sini.  Akhirnya dia memilih dapat gelar Satria Lananging Jagad saja, yang dapat legitimasi mengawini sejumlah wanita cantik, sepanjang mampu.

Demikianlah, atas restu Wara Sembadra dan didukung Prabu Kresna dan  pabrik sarung Gajah Selonjor, Harjuna berangkat ke Pancala. Di sana dia akan mengadu untung memperebutkan Wara Srikandi lewat sayembara revitalisasi Taman Maerakaca. Felingnya mengatakan, sepertinya dia bakal menang. Karenanya untuk memicu semangat sepanjang jalan menuju Pancala Harjuna menyanyikan lagu perjuangan karya Cornel Simanjuntak. “Maju tak gentar, membela yang benar, maju tak gentar membela yang benar, maju tak gentar membela yang benar, maju tak gentar…..!”

“Hoi, satriya lananging jagad kok nggak hafal lirik lagu Maju Tak Gentar,” kata wayang akar rumput di jalanan yang dilalui Harjuna.

“Kayak Anies bakal Capres Nasdem aja, ha ha ha……!” teriak wayang yang lain memperolokkkannya. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement