BANJARAN DURNA (55)

Begawan Durna dan Patih Sengkuni tiba di Balekambang, tempat Prabu Kresna bertapa.

SEJENAK suasana sidang menjadi hening, para hadirin dan hadirot saling pandang. Untung Resi Bisma sebagai peserta sidang paling sepuh, segera memecah kebuntuan dialog itu dengan melempar gagasan agar Perang Baratayuda Jayabinangun itu ditunda saja, sukur-sukur dibatalkan secara permanen. Cara ini praktis bisa menekan pemborosan APBN Ngastina yang selalu defisit selama pandemi Corona, sekaligus bisa memayu hayuning jagad (menciptakan ketentraman dunia).

Kemudian negeri Ngastina diserahkan baik-baik kepada keluarga Pandawa Lima pewaris negeri itu berikut dokumen pemilikan lahan berupa girik Leter C-nya. Adapun rakyat bala Kurawa bisa ditampung pada pulau reklamasi di tepian samodra Jalanidhi yang berada di tepian pantai Tegal Kurusetra. Negeri baru itu nantinya bisa diberi nama Badra Kurawa. Mengingat terbatasnya lahan, rakyat kecil Badra Kurawa bisa ditampung di apartemen berbayar murah, sukur-sukur digratiskan.

“Lalu tanah urugnya ngambil dari mana?” potong Patih Sengkuni, nadanya tidak sreg dengan solusi Resi Bisma.

“Itu mah gampang, bisa kerjasama dengan Pemprov DKI. PLT Gubernur Heru kan sedang menormalisasi kali Ciliwung yang sempat ditelantarkan Gubernur Anies. Lumpur hasil kerukan kali Ciliwung itu buat ngurug lahan reklamasi Badra Kurawa. Jika kurang bisa kerjasama dengan Pemda Bogor untuk mengeruk lumpur sepanjang aliran sungai Ciliwung bagian selatan.

Para hadirin kembali bertepuk tangan, tetapi Patih Sengkuni tidak setuju gagasan tersebut. Di samping bikin pulau reklamasi anggarannya juga tidak sedikit, kan harus izin pula pada Sanghyang Baruna penguasa laut Jalanidhi. Diapun tak kan mau kawasan lautnya dicaplok orang begitu saja, pasti dia minta kompensasi berupa ganti untung. Sebab kalangan para mina (ikan) kan juga terkurangi lahan operasionalnya.

Tetapi Resi Bisma membantah argumen Patih Sengkuni. Bumi Pangeran (Tuhan) jembare ngilak-ilak (tanpa batas), sehingga takkan menyempit hanya gara-gara munculnya negeri baru hasil reklamasi. Percayalah, orang yang memudahkan urusan orang lain, akan dimudahkan pula urusannnya oleh Pangeran Kang Akarya Jagad.

“Sudah, sudah. Kita jangan seperti DPR saat RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Mahfud MD, jadi melebar ke mana-mana. Kita semua bukan murid TK.  Kita kembali ke topik utama.” Kata Prabu Salya memotong pembicaraan mencoba menengahi.

Usul menunda Perang Baratayuda kok jadi mirip isyu menunda Pemilu di Indonesia yang diperkuat keputusan Pengadilan Negeri Jakpus. Jika isyu aneh itu sampai terdengar oleh Amien Rais, Said Didu dan Syahganda Nainggolan, bisa digoreng dadakan macam tahu bulat Rp 500,-. Apa lagi jika Rizal Ramli dengar pula, bisa kena kepret si rajawali eks mentri seumur jagung.

Saran Prabu Salya ternyata diindahkan para peserta, sehingga Prabu Duryudana melanjutkan persidangan. Sehubungan dengan kabar Prabu Kresna bertapa di Balekambang, bagaimana jika dia digugah atau dibangunkan. Intinya, aksi bertapa itu harus digagalkan, sehingga Prabu Kresna tak bisa intervensi segala skenario produk kahyangan Jonggring Salaka. Sebab skenario hasil intervensi itu pasti sangat merugikan kubu Kurawa tapi menguntungkan kubu Pendawa.

“Sebagai tokoh senior dan berpengalaman, dengan hormat ingsun menugaskan Bapa Durna untuk memimpin delegasi dibantu patih Sengkuni,” titah Prabu Duryudana kemudian.

“Lho kok saya, memangnya nggak ada yang lain yang lebih berkapasitas dan berkompetensi.” Jawab Begawan Durna.

“Yang lain banyak memang, tapi yang masih rosa-rosa macam Mbah Marijan tinggal Wakne Gondel.” Potong Patih Sengkuni.

“Oo, begitu. Ya nggak papa kalau begitu, namanya tugas negara, akan saya laksanakan dengan baik dan benar. Mohon doanya kalian semuanya.”

“Paman Durna memang oye….!” ujar Prabu Baladewa mengacungi jempol, pertanda setuju atas keputusan Prabu Duryudana.

Demikianlah, Begawan Durna didampingi Patih Sengkuni segera berangkat ke Balekambang Solo lewat tol keluar di Kartosura. Tiba di TKP ternyata tempat bertapa Prabu Kresna ditunggui oleh Samba dan Patih Udawa secara bergantian. Bagi Begawan Durna, kedua sosok ini terlalu sepele, takkan membahayakan. Paling dicemaskan bila mana penunggunya adalah Haryo Setyaki si kawat Dwarawati,  salah-salah kupluk Begawan Durna tak muat lantaran kepala benjol kena hajar Setyaki. Ini memang musuh lama Begawan Durna.

“Yang bener Di Cuni, yang nunggui kok hanya Patih Udawa aplusan sama Samba….,” bisik Begawan Durna.

“Aman, aman, pokoknya. Maka Wakne Gondel harus bisa berdiplomasi dan melobi, sehingga sukses kita punya misi.

Begawan Durna senyum dikulum, kok jadi macam cari Wapres saja, melobi ke sana kemari. Ujung-ujungnya siap mendukung Capres asalkan Cawapres dari partainya. Padahal Cawapres jagoannya hanyalah jago bajakan dari parpol lain. Kok nggak malu ya? Tapi bagaimana lagi, politisi gledhegan (kakap) memang harus tahan malu, asalkan tidak malu-maluin, apa lagi tergoda kemaluan.

Kehadiran Patih Sengkuni disambut dengan ramah oleh Samba yang  bergiliran piket. Meski tahu bahwa biasanya kehadiran duet Durna-Sengkuni suka cari gara-gara, sebagai tamu tetap dilayani dengan baik. Sekedar Akua gelasan dengan rengginang di kaleng Kong Guan, tetap disuguhkan. Namanya juga menghormati tamu, apa lagi masih suasana Lebaran.

“Gigi sudah banyak yang ompong, makan rengginang bisa jithungan di mulut.” Bisik Durna lagi.

“Ya diemut saja, kenapa. Gitu saja kok repot….” jawab Patih Sengkuni juga sambil berbisik. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement