SELANJUTNYA Begawan Durna memberi jawaban yang muter-muter laksana gasing, persis politisi Ahmad Yani dari PKS (DPRD DKI) ketika diminta bukti proyek naturalisasi karya Gubernur Anies. Muak dan kesal atas jawaban pating pecothot Bambang Kumbayana tua, Prabu Kresna langsung meninggalkannya tanpa pamit. Namun demikian raja Dwarawati ini masih sempatĀ meludah cuhhh…… sambil melengos.
Prabu Kresna segera melanjutkan perjalanan ke Ngastina, untuk ketemu Prabu Duryudana. Ini bagian dari misi diplomatik raja Dwarawati dalam kapasitas sebagai Timses atau botoh kubu Pandawa. Sebagai ksatria titisan Wisnu yang cinta kedamaian, membaca isi Kitab Jitapsara seluruhnya sungguh mengerikan. Sebab isinya saling bunuh, membunuh balas dibunuh, meskipun juga sebagai akibat hukum karma. Maka jika bisa, Prabu Kresna hendak mencegah jangan sampai terjadi. Caranya hanya satu, negeri Ngastina dikembalikan secara baik-baik kepada Pendawa, dan otomatis Perang Baratayuda batal.
āMaaf, sebagai juru damai sinuwun Prabu Kresna bawa proposal perdamaian nggak?ā tanya pers ketika raja Dwarawati itu sudah tiba di halaman Istana Gajahoya.
āNggaklah, memangnya saya Menhan Prabowo? Salah salah saya kan malah dibilang Kresna badut. Ini kan celaka.ā Jawab Prabu Kresna, menjawab pertanyaan Detikcom.
Ya, heboh Menhan Prabowo dari Indonesia memang sampai juga di dunia wayang. Sampai-sampai Prabu Kresna pun mengritiknya lewat mulut kidalang tentu saja. Urusan usul perdamaian negara orang kan merupakan domain Menlu, paham nggak lu? Atau malah memang disengaja agar mendongkrak elektabilitas sebagai Capres. Faktanya angka keterpilihan Prabowo memang terus naik, melibas Ganjar Pranowo, apa lagi Anies Baswedan semakin keponthal-ponthal (tertinggal jauh).
Prabu Kresna tiba di Istana Gajahoya sudah pukul 11:30. Beliaunya disambut Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni. Yang bikin Prabu Kresna heran, Begawan Durna yang beberapa jam lalu barusan diomeli, eh ternyata hadir juga. Ditilik dari jubahnya yang belum ganti, kemungkinan Bambang Kumbayana tua ini belum sempat mampir ke Sokalima untuk mandi mandi dan ganti baju.
āLho, paman Durna sudah ada di sini juga. Naik apa tadi?ā ujar Prabu Kresna.
āBiasa, nyetop KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung).ā Kata Begawan Durna, maksudnya untuk menunjukkan bahwa dirinya tokoh yang hebatan, sehingga KCJB pun bisa dicegat macam taksi.
Perundingan dimulai setelah makan siang bersama. Itupun Prabu Kresna tak mau kembul bujana (makan bersama) dengan alasan sedan puasa Senen-Kemis. Padahal aslinya takut sejarah berulang tentang tragedi Bale Sigala-gala puluhan tahun lalu.Ā Kala itu Pendawa Lima yang juga minta kembalinya negeri Ngastina, dijebak dengan minum bir Cap Tikus sampai mabok. Dalam kondisi Pendawa Lima plus Dewi Kunthi mabok, gedung Bale Sigala-gala langsung dibakar. Untung saja dewa kahyangan ikut cawe-cawe, sehingga Pendawa Lima selamat.
Agenda perundingan intinya tak jauh beda dengan Bale Segala-gala dulu. Mewakili keluarga Pendawa Prabu Kresna minta agar negeri Ngastina bisa diserahkan ke Ngamarta secara baik-baik. Dengan demikian Perang Baratayuda tak perlu terjadi, dan tak perlu banyak tokoh dan kesatria jadi martir dalam memperebutkan negeri Gajahoya. Tak perlu juga lahir janda-janda baru akibat perang. Lalu janda-janda terlantar itu siapa yang menyantuni, karena KH Zainudin MZ yang selalu menganjurkan soal itu sudah meninggal.
āJika negeri Ngastina kami kembalikan, Kurawa-100 berikut keluarga dan jajarannya tinggal di mana? Lagi pula sudah banyak infrastruktur yang kami bangun, dari jalan raya, jembatan, bendungan, lapangan terbang dan jalan tol. Enak dong Pendawa, tinggal pakai.ā Kata Prabu Duryudana, diotaki oleh Patih Sengkuni.
āItu soal mudah yayi Duryudana. Semua akan diganti untung sesuai apraisal (harga pasaran). Jika Kurawa-100 mauĀ direlokasi di rumah susun, bisa kami salurkan di Rusun Pulogebang. Kalau mau agak mewah, bisa pindah ke Kalibata City.ā Ujar Prabu Kresna dengan gerakan tangan sering menunjuk ke dada sendiri, mirip SBY.
āJangan mau dhing! Kresna kan ahli menata kata, omongannya seempuk apem, realisasinya belum tentu. Ingat kasus rumah lapis DP nol rupiah,ā potong Begawan Durna, sambil pamit ke toilet. Persis debat Rocky Gerung lawan Dian Napitupulu PDIP.
Sebagai duta Pendawa Lima, Prabu Kresna mencoba meyakinkan betapa mulianya Prabu Duryudana jika mau mengembalikan negeri Ngastina tanpa syarat. Jika Baratayuda tak sampai terjadi, berarti telah menyelamatkan peradaban. Wayang Ngastina tak perlu tumpes kelor (punah). Nantinya Prabu Duryudana akan dikenang sebagai raja cinta damai, dan Prabu Kresna siap mengusulkan mantan raja Ngastina ini untuk memperoleh Nobel Perdamaian.
Ternyata Begawan Durna pamitan ke toilet hanya alasan belaka. Sesungguhnya dia keluar istana, mengerahkan bala Kurawa untuk siap-siap mengeroyok Prabu Kresna bila mana perundingan menemui jalan buntu. Dan ternyata memang demikianlah jalannya perundingan, Prabu Duryudana bersikeras mempertahankan negeri Ngastina. Yang bikin Prabu Kresna marah, pasukan bala Kurawa langsung menyerbu ke dalam Istana Gajahoya.
āJangan biarkan Kresna lolos, mari kita mutilasi ramai-ramai.ā Kata Dursasono yang rupanya jadi komandan pasukan.
āKita ambil nyawanya, kita ambil pula istri-istrinya, ha ha ha……ā ujar Durmagati asal njeplak. (Ki Guna Watoncarita)



