RAKSASA Brahala ngrucat (mengubah) dirinya ke bentuk aslinya sebagai Prabu Kresna, bagaikan balon dikempeskan. Sebagai diplomat ulung, ternyata dia gagal mendamaikan Pendawa dan Kurawa. Maka hadiah Nobel Perdamaian yang sudah di depan mata, gagal diterima oleh raja Dwarawati. Itu artinya perang perang Rusia-Ukraina bakal pindah ke Tegal Kurusetra, yakni peperangan antara Keluarga Pendawa dan Kurawa. Mau tak mau skenario Kitab Jitapsara bakal berlaku.
Tewasnya Destarata-Gendari menjadikan suhu politik di Kurawa memanas. Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni sungguh tidak terima, sosok sesembahan yang dipuja dan dihormati, mati gepeng gara-gara ulah Prabu Kresna.Utang lara nyaur lara, utang pati nyaur pati, begitu prinsip Prabu Duryudana. Karenanya, tak hanya Prabu Kresna si biang kerok, Pendawa Lima yang jadi musuh utama juga harus dibinasakan dalam waktu cepat.
“Paman Sengkuni, untuk memperkuat alusista, kita perlu beli jet tempur dari Qatar.” Ujar Prabu Duryudana pada patih Sengkuni dalam sidang kerajaan.
“Jangan anak prabu, itu barang bekas. Jangan ikut-ikutan macam Menhan Indonesia, pesawat rongsokan mau dibeli sampai Rp 12 triliun. Bisa bangkrut kita.” Jawab Patih Sengkuni, ada rasa ngeman (sayang) di dalam kalimat tersebut.
Panasnya suhu politik di Ngastina, bikin panas pula otak Prabu Kresna. Sesuai skenaria Kitab Jitapsara yang sudah dikantongi secara rahasia, dia harus membinasakan Antareja dan Antasena putra Jodipati (Werkudara). Mereka ini sosok anak muda yang sakti wudhu tanding (tak ada yang berani melawannya). Omongannya lugas dan sederhana, tak mau clometan macam Ketua BEM UI Melki Sadek Hoang.
Seperti janjian saja. Ketika Prabu Kresna sedang ngadhem di bawah pohon beringin, mendadak kakak beradik Antarejo – Antaseno datang menemui. Melalui medsos mereka telah mendengar kabar bahwa Perang Baratayuda akan segera dimulai. Keduanya siap bertempur menjadi senopati, berjuang bagi kejayaan Pendawa Lima. Dalam hati Prabu Kresna merasa iba, dua anak muda itu tulus berjuang demi negara. Tapi sayang, menurut Kitab Jitapsara keduanya tak dikehendaki tampil di Perang Baratayuda.
“Nakmas Antasena, ingsun Prabu Kresna tak bisa memutuskan. Kamu lebih cocok di pos mana, yang tahu persis Sanghyang Wenang, cobalah kau bertanya ke sana.” Saran Prabu Kresna pada Antaseno.
“Kalau saya jelas memenuhi syarat ya Pakde. Saya siap membinasakan setiap musuh Pendawa Lima junjunganku.” Kata Antareja.
Ketika Antaseno pamitan untuk menemui Sangyang Wenang di Ngondar-andir Bawana, Prabu Kresna menegur Antarejo, jangan terlalu pede jadi senopati Baratayuda. Yang pengin belum tentu dapat, yang tidak pengin justru bisa ketiban sampur (mendapat tugas berat). Maka pakailah prinsip orang Betawi: kalau sedang milik, rejeki takkan lari ke mana.
Prabu Kresna terus terang, sebetulnya masih meragukan pisik dan mental Antarejo sebagai senapati Baratayuda, sejak putra pertama Werkudara ini punya jejak rekam yang kurang menggembirakan. Dia pernah terprovokasi Pendita Durna untuk bikin “people power” di Pendawa, sehingga berontak pada ayah sendiri. Untung saja berhasil disadarkan, namun demikian kondite Antarejo sudah kadung tercoreng.
“Percayalah Pakde, saya punya kesaktian super hebat. Siapapun orangnya, asal saya jilat bekas telapak kakinya, langsung wasalam.” Ujar Antarejo sambil menepuk dada.
“Yang bener? Jangan terlalu jumawa kamu. Coba ini kamu jilat, sepertinya tadi ada wayang Kurawa melintas habis beli gas melon 3 Kg.” Ujar Prabu Kresna untung-untungan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua wayang di jagad pekeliran berjalan nyokor tanpa alas kaki, kecuali para dewa kahyangan dan kaum resi-begawan. Menyesuaikan diri dengan yang lagi ngetren, belakangan para dewa pakai sepatu yang bagian solnya berwarna putih, niru-niru Presiden Jokowi. Padahal, para dewa ini mayoritas males jika harus blusukan ke kampung-kampung.
Nah, Antarejo yang ke mana-mana nyokor, rupanya tak hafal dengan bentuk bekas telapak kaki sendiri. Maka sesui dengan tantangan Prabu Kresna, tanpa pikir panjang langsung saja dia jilat bekas telapak kaki orang yang katanya bekas jejak kaki pembeli gas melon 3 Kg. Dan ini akibatnya fatal, Antarejo langsung mbanyaki dan kemudian tewas.
“Maafkan anakmas Antarejo, ini bukan kemauan saya. Tapi semua tugas kadewatan, saya hanya sekedar pelaksana tugas. Tapi bukan petugas partai….” kata Prabu Kresna menunduk di atas mayat prunan sendiri.
Sementara itu Antaseno yang diperintahkan Pakde Kresna sowan Sanghyang Wenang, dengan cepat telah tiba di Ngondar-andir Bawana. Kebetulan dia melihat promosi KA Cepat Jakarta – Bandung, yang masih bebas naik gratisan. Pakai KA itulah Antaseno berangkat, wush…….hanya 20 menit sudah tiba di tempat tujuan. Sama sekali tidak capek, karena KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung) yang diolok-olok Roy Suryo sebagai kecebong (kereta cepat bohong-bohongan) memang nyaman sekali. Uang logam pun ditaruh miring takkan roboh, begitu kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
Sanghyang Wenang kala itu sedang ngopi, kehadiran Antaseno diterima dengan ramah. Sebagai dewa papan atas jauh di atas plafon, beliaunya langsung tahu maksud kedatangan Antaseno Rakabuming. Ya, dia memang seperti Walikota Solo Gibran, jika bicara to the point saja, pendek tapi langsung kena sasaran. Tidak seperti mantan gabener DKI, jika ngomong terlalu banyak kembangan. Dari Pulogadung mau ke Monas tapi muter-muter dulu lewat Lenteng Agung – Pesing – Tanah Abang.
“Maaf Pukulun, saya diperintahkan Pakde Kresna ke sini, ada apa ya? Tumben-tumbenan.” Ujar Antaseno sambil menghormat gaya militer. Dia memang tak bisa duduk, persis bapaknya, Werkudara.
“Nggak ada apa-apa Antaseno, cuma kangen saja.” Jawab Sanghyang Wenang sambil tersenyum.
Antaseno benar-benar bingung, tak pernah ada ceritanya dewa elit Sanghyang Wenang memanggil dirinya. Apa maksudnya? Ini mirip pertemuan Puan Maharani – AHY di GBK tempo hari. Apa ini isyarat juga bahwa Antaseno akan dipromosikan jadi senopati Perang Baratayuda? Ah, tapi Antaseno tak mau GR macam AHY yang ngebet jadi Cawapres. (Ki Guna Watoncarita)



