BANJARAN DURNA (65)

Kata Prabu Kresna, Prabu Baladewa baru bisa bebas darii pasuangan bumi asalkan bersedia dideportasi ke Grojogan Sewu.

BERITA kematian Antarejo, Antaseno dan Wisanggeni disampaikan Prabu Kresna kepada Prabu Puntadewa hanya melalui chatingan WA saja. Beliaunya tak berani dan tak tega menyampaikan secara langsung, karena takut mendapat pertanyaan macem-macem. Padahal kematian Antarejo, secara langsung eksekutornya Prabu Kresna sendiri. Raja Dwarawati ini tak mau disebut sebagai duplikatnya Ferdy Sambo. Dia yang berbuat tapi tega mengorbankan anak buah dan sohibnya dalam profesi.

Tentu saja Prabu Puntadewa dan ke-4 adiknya ditambah Ibu Kunthi sangat berduka. Perang Baratayuda belum saja dimulai, kubu Pendawa sudah kehilangan tiga putra terbaiknya. Trio Antarejo, Antaseno dan Wisanggeni adalah putra-putra andalan. Mereka semua adalah anak-anak muda yang pemberani dan jujur. Tak ada ceritanya Antarejo, Antaseno atau Wisanggeni dipanggil KPK atau Kejaksaan Agung, baik sekedar saksi apa lagi tersangka.

“Meski ini semua kehendak jawata (dewa), masak kaka prabu tak bisa menyelamatkan anak-anak kita. Percuma Prabu Kresna titisan Wisnu yang ikut menggodok Kitab Jitapsara, jika tak bisa menyelamatkan anak-anak kita.” Protes Prabu Puntadewa hanya lewat WA juga.

“Ini yang terbaik dari semuanya yang terburuk yayi. Meski kita sedih, tapi harus bangga pada trio Antarejo, Antaseno dan Wisanggeni, karena mereka rela berkorban demi kejayaan Pendawa khususnya dan Ngamarta pada umumnya. Surga balasan bagi mereka yayi….” jawab Prabu Kresna.

Legalah Prabu Kresna, karena raja Ngamarta ini tak mengejar lebih lanjut atas semua narasinya. Bisa saja melayani berdebat jika Puntadewa ngeyel, tapi berdebat hanya di chatingan WA itu tindakan yang sama sekali tidak menguntungkan. Beda dengan debat di TV, selain meningkatkan elektabilitas bila Nyapres, juga ada honornya yang lumayan. Karenanya ketika Puntadewa menutup HP-nya, plong cumemplong rasanya.

Jika dipikir-pikir macam pelawak Basuki almarhum, antara Prabu Kresna dan Prabu Puntadewa ini memiliki benang merah yang sama, dalam soal suksesi kepemimpinan di negerinya. Anak Prabu Kresna si Setyaka dan Pancawala anak Puntadewa, sama-sama pangeran mangkubumi yang tak menjanjikan. Dua-duanya masih lholak-lholok (mbocahi) untuk jadi pewaris tahta, atau masih ingusan sebagaimana kata Panda Nababan politisi senior PDIP.

“Setyaku anakku, kamu ini kan nantinya calon pewaris tahta Dwarawati. Mbok berperilaku yang terukurlah, bergaul dengan wong cilik calon kawula-mu nanti. Jangan hanya nduwel (ngendon) di kamar main HP melulu.” Omel Prabu Kresna.

“Halah, begitu aja kok repot rama prabu. Kan ada patih, biar saja dia yang mikir. Tahunya saya nanti kan tinggal tanda tangan.” Jawab Setyaka seenaknya. Rupanya dia mau meniru Gubernur Anies dulu, jika ada masalah dilempar ke Wagubnya.

Kecewa sekali Prabu Kresna. Setelah Samba Wisnubrata tewas dalam lakon “Samba Juwing” gara-gara dibunuh oleh Setija kakaknya sendiri, harapannya, kini tinggal pada Setyaka, anak muda yang selama ini kurang gaul. Kerjanya di rumah hanya main gadget, ngetwet dan WA-nan, tak ada lain. Prabu Kresna ingin melihat Setyaka tampil beda, bisa menjadi pengganti Samba tapi sepertinya kok susah sekali.

Menjelang Perang Baratayuda Setyaka mulai dikenalkan pada publik. Diajak makan-makan Prabu Kresna di RM Warung Daun, bersama calon senapati PBJ, Raden Gatutkaca atau Harjuna. Disorot kamera TV dan diwawancarai pers. Kalangan wayang pun mulai menduga, naga-naganya Setyaka mau diorbitkan menjadi senapati juga.

”Bisa apa Setyaka jadi senapati? Jangankan perang, latihan baris saja nggak pernah.” kata kalangan LSM melecehkan.

”Biar saja, yang penting dia kan trah Dwarawati, titisan Hyang Wisnu. Wayangnya ganteng, tutur katanya santun, dan seiman lagi. Jadi sesuka-suka Prabu Kresna menunjuk, dong.” Bela buzer-RP dari Dwarawati.

Pancawala putra tunggal Prabu Puntadewa idem dito, sama lholak-lholoknya dengan Setyaka. Hobinya pamer kekayaan orangtuanya. Ke mana-mana pakai mobil Robicon macam Mario Dandy. Tak hanya suka ngebut di jalan protokol Ngamarta, tapi suka melanggar lampu merah. Jika ditilang polisi langsung tunjukkan siapa dirinya. Anehnya,  meski masih mbocahi, karena dia anak Prabu Puntadewa, nyaleg DPR laku juga. Tapi sekali ngomong karena ditanya pers, jawabnya nyeleneh: “Wahai rakyatku…..!”

Demikianlah, Prabu Kresna telah berhasil meredam kekecewaan Prabu Puntadewa. Kini dia ingat kembali akan tugasnya berkaitan dengan Kitab Jitapsara yang ikut menggodoknya. Buru-buru raja Dwarawati ini berangkat ke Mandura istana Prabu Baladewa dengan menyamar sebagai pengemis miskin. Soalnya di Mandura atau Dwarawati ada juga lho pengemis kaya, yang berhasil mengumpulkan uang Rp 500.000,- dalam sehari.

Paring-paring den sak rilanipun…” kata pengemis itu ketika tiba di Istana Mandura dan ketemu langsung dengan Prabu Baladewa.

“Nih saya kasih Rp 1 juta, buat modal UMKM, tapi jangan ngemis lagi ya.” Jawab Prabu Baladewa sambil mengeluarkan uang segepok.

Ternyata diberi uang pengemis itu tak mau, justru minta Dewi Erawati istri Prabu Baladewa. Ini kan kurang ajar, istri hanya satu kok mau diambil. Pelecehan! Raja Mandura ini kan dikenal sebagai raja pengidap darah tinggi tapi males minum Captopril. Maka saking emosinya, Prabu Baladewa langsung mencabut pusaka andalan Nengggala, dan dilempar ke arah pengemis.

”Ambil tuh bini para aktivis poligami.!” ujar Baladewa sambil melempar senjata Nenggala.

“Eittt, nggak kena!” ledek si pengemis KW-2.

Lemparan senjata Nenggala itu meleset, dan pusaka andalan itu tertancap bumi tanpa bisa dicabut. Ketika Prabu Baladewa ungkag-ungkeg (susah payah)  hendak mencabutnya, justru tubuh Prabu Baladewa kejeblos sampai dada. Sudah dicoba digali dengan mengerahkan eskavator segala,  tapi gagal.

”Sudah tua, jangan suka bludreg. Ingat, BPJS Kesehatan tekor melulu,” sindir Prabu Kresna yang sudah kembali ke wujud aslinya, bukan lagi pengemis.

“Aduh dimas Kresna, tolonglah aku!” ratap Prabu Baladewa.

Untuk bisa mencabut kembali Nenggala dan Prabu Baladewa terbebas dari pasungan bumi, raja Mandura ini harus berjanji, siap diasingkan di Grojogan Sewu, dekat Tawangmangu sana. Dia boleh kembali ke istana Mandura asal dijemput. Syarat lain, tak boleh bawa HP dan stel TV. Segala persyaratan berat itupun dipenuhi. Oleh karenanya setelah terbebas dari pasungan bumi, Prabu Baladewa dikirim ke Grojogan Sewu ditemani Setyaka sebagai ajudan. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement