TANPA terasa Perang Baratayuda sudah sampai hari ke-15. Sejumlah tokoh nasional baik Pendawa maupun Kurawa berguguran di medan Tegal Kurusetra, dalam kapasitas sebagai senopati. Dari kubu Pendawa misalnya: Resi Seta, Abimanyu, Gatutkaca. Yang menjadi pertanyaan publik khususnya netizen, Resi Seta kan bukan darah Pendawa, kok mau-maunya tampil dalam kancah Baratayuda? Ternyata itu sekedar solidaritas dunia perwayangan saja, mengingat adik bungsunya si Utari telah dipersunting oleh Abimanyu. Di samping itu, pasokan gas bersubsidi Wiratha sangat tergantung kiriman dari Ngamarta.
Adapun dari kubu Kurawa, yang sudah gugur tercatat adalah: Resi Bisma, Adipati Karno, Bogadenta, Tirtanata dan Durmagati. Meski Durmagati bukanlah senopati, tapi kematiannya justru sangat disyukuri oleh Begawan Durna. Sebab ada dendam pribadi pada Fadli Zonnya Kurawa ini. Soalnya dia ini sering mengkritik melek-melekan (secara terbuka) pada Begawan Durna. Maka ketika Durna dengar kabar Durmagati tewas kejatuhan badan Gatutkaca, ingin rasanya dia slametan 7 hari 7 malam.
“Durmagati mampus, ilang klilipku sekepel (hilang sudah musuhku).” Komentar Begawan Durna saat mendengar berita tersebut lewat HP miliknya.
“Ah jangan-jangan itu hoaks rama.” Ujar Aswatama mengingatkan ayahnya.
“Nggak mungkin! Sudah saya cek di Detikcom, beritanya juga ada kok.”
“Oo, begitu.” Kata Aswatama, dia menyadari ayahnya memang bukan politisi.
Begawan Durna sejatinya hanya guru, guru kebatinan dan kanuragan (urusan kesaktian) yang berhasil nempel pada kekuasaan Ngastina. Dia menjadi konsultan Prabu Duryudana dalam bidang spiritual belaka, jika pinjam istilah sekarang bisa disebut: Dewan Pertimbangan Raja (Wantimra). Di lembaga tersebut terdapat pula Resi Bisma dan Resi Krepa, sedangkan Begawan Durna sebagai ketuanya. Begawan memang lebih tinggi posisinya ketimbang resi. Paling rendah adalah dukun atau paranormal. Dengan demikian hak keuangan Durna jauh lebih besar.
Karena bukan politisi itulah, bisa dimaklumi benci dan dendamnya pada Durmagati menjadi berurat-berakar. Politisi sejati itu sangat pragmatis dan transaksional. Benci pada seseorang takkan sampai mentok gardan. Sebab politik itu sangat dinamis, sehingga bisa saja sekali waktu saling membutuhkan. Makanya yang tadinya lawan bisa jadi kawan. Karenanya dalam politik tak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.
“Sudahlah rama, istirahat dulu. Putramu mau ikut rapat Pro-Ngas (Pro Ngastina) dulu ya…..” Kata Aswatama pamitan pada ayahnya.
“Jadi relawan harus pinter dan punya target. Contohlah Budiari Setiadi itu lho, biar tak jadi nyebrang ke Prabowo dijadikan menteri Kominfo. Kamu jadi anggota Pro-Ngas juga harus bisa cari peluang. Jika tidak, kamu nanti cuma prongas-prongos (baca: sial melulu) doang!” nasihat Begawan Durna begitu tajam menukik.
“Eh, saya dengar Aswatama hampir dihajar Prabu Salya gara-gara menuduh curang saat jadi kusir Adipati Karno…?” tegur Begawan Durna tiba-tiba.
“Bukan saya rama, itu Kartomarmo. Saya malah yang nahan Prabu Salyo, kalau nggak jadi bergedel Kartomarmo.” Jawab Aswatama meluruskan berita simpang siur.
Memang, pasca gugurnya Adipati Karno, dalam sidang di pesanggahan Bulupitu Kartomarmo menuduh Prabu Salyo berbuat curang. Ketika adipati Ngawangga tengah membidik Gatutkaca dengan panah Kunta, mendadak pijakan kereta digenjot oleh Prabu Salyo, sehingga arah panah sempat oleng karenanya. Prabu Salyo marah besar, Kartomarmo habis dimaki-makinya. Jika tidak kabur dari pesanggrahan, sudah ikutan gugur pula dia!
Sementara itu di kubu Pendawa juga tengah berduka. Putra-putra terbaik mereka banyak yang gugur di Tegal Kurusetra, seperti Abimanyu, Gatutkaca. Sedangkan Antaseno, Antarejo, Wisanggeni, justru sudah kapundhut (meninggal) sebelum Baratayuda berlangsung. Paling kasihan tentu saja Werkudara, karena ketiga anaknya semua mati di kancah Baratayuda. Lalu hartanya yang berjumlah Rp 162 miliar sesuai LHKPN mau diwariskan ke siapa? Werkudara mau niru ayahnya Menpora Bimo Ariodito, tetapi dewa menentukan lain.
Kubu Pendawa pagi itu menggelar sidang di pesanggaran Randu Watangan, kira-kira dekat Randublatung (Kab. Blora-Jateng) sana. Rapat dipimpin oleh Prabu Kresna mewakili Prabu Puntadewa yang sedang tidak enak badan. Yang jadi pokok pembahasan justru Begawan Durna, gurunya Pendawa juga gurunya Kurawa. Prabu Kresna melempar usulan, agar pendita Sokalima itu menjadi target operasional, yakni dibinasakan. Sebab dia penasihat perang yang handal dari Kurawa. Strategi perang apa saja dia menguasai, termasuk perang urat syaraf.
“Saya harus membunuh bapa pendita Durna? Matur nuwun, nggak tega saya.” Kata Werkudara.
“Saya juga nggak tega, kaka prabu Kresna.” Jawab Harjuna pula.
Maklum, Bima-Permadi ini bekas murid Begawan Durna. Sebagai peserta didik –begitu menurut istilah sekarang– keduanya sudah banyak menyerap ilmu jaya kawijayan (kedigdayaan) dan guna kasantikan (ilmu kesaktian) dari Begawan Durna. Masak guru yang begitu berjasa harus dibunuhnya. Karenanya, setelah ada UU Perlindungan Anak, mestinya ada juga UU Perlindungan Guru. Sebab kini banyak murid berani menganiaya gurunya. Bahkan orangtua si murid juga banyak yang ikut-ikutan.
Tetapi Prabu Kresna sebagai botoh (timses) Pendawa segera memberikan pencerahan bahwa Begawan Durna bukan manusia hitam putih macam kostum tim Capres Ganjar Pranowo. Memang banyak sisi baiknya, tapi lebih banyak sisi jahatnya. Bila diprosentasikan, kebaikan Durna hanya 30 persen, keburukannya 60 persen, sedangan margin erornya saja sampai 10 persen.
“Hemmm….! Sampeyan ini Saiful Mujani apa Adi Prayitno tukang survei?” potong Werkudara sambil mendesis. (Ki Guna Watoncarita)



