BEGAWAN Durna meski sudah masuk gen-ABCD (sudah manula), tak mau kalah dengan gen-Z. Dia juga pantang ketinggalan mode. Meski hanya lungsuran dari Aswatama dia punya pula HP android. Cara mengoperasikannya memang belum lancar, sehingga sering salah pencet dan salah kirim WA. Pernah pendita Sokalima ini tengah malam diomeli orang, gara-gara salah telpon ke seorang janda. Pernah pula chatingan nagih utang justru masuk ke nomer lain.
Belakangan Begawan Durna suka nonton Youtube termasuk Tiktok. Jika nonton Tiktok sukanya lipsing dagelan lewat chanel Endun-SW78 dan Radio Bodol. Kebetulan pemerannya cantik dan seksi mirip kekasihnya dulu Dewi Wilutama, sehingga ukuran celananya berubah karena penghuninya sudah lama non aktif. Tapi Begawan Durna beberapa kali keki dan emosi karena suara dalam sambutan dan gagasannya di berbagai acara dicaplok si gingsul Radio Bodol.
“Aswatama, kalau klaim minta royalty pada yang bikin lipsing ke mana ini?” tanya Begawan Durna emosi.
“Sudahlah rama, nggak mungkin ketemu. Mendingan iklaskan saja, anggap saja sebagai amal dan sodakoh…..” jawab Aswatama menghibur sang ayah.
Tapi pada Tiktok yang ditontonnya siang tadi, sungguh bikin kaget. Di situ diberitakan lengkap dengan gambarnya, Aswatama tewas dalam Perang Baratayuda oleh Haryo Setyaki. Sosok pembunuhnya tidak jelas, tapi dalam video itu jelas sekali; seorang lelaki terkapar mandi darah. Meski wajah tak terlihat jelas, tapi dari baju dan celana panjang yang dikenakan, jelas itu milik Aswatama.
Begawan Durna cemas sekali. Dia mencoba menelpon Aswatama lewat HP-nya, ada nada masuk tetapi tak diangkat-angkat. Ini semakin menguatkan bahwa korban memang anaknya. Sebab orang sudah mati mana mungkin bisa mengangkat telepon. Begawan Durna segera keluar dari Pesanggrahan Bulupitu, ingin mencari langsung setiap orang yang ditemui.
“Di Cuni, sampeyan lihat Aswatama nggak?” tanya Begawan Durna pada patih Ngastina.
“Nggak tuh, dari pagi saya nggak lihat paman Durna. Tapi absennya ada kok, mungkin sedang bantu-bantu senopati Ngastina dalam kancah pertempuran.” Jawab Patih Sengkuni, rupanya suka lihat absen prajurit Ngastina.
Jawaban Patih Sengkuni melegakan sekaligus mencemaskan. Dilihat dari adanya dalam absen, berarti dia sempat hadir di pesanggrahan Bulupitu. Tapi prajurit Ngastina kan terkenal senang jadi Tekab (Teken dan Kabur) mirip anggota DPR era Orde Baru. Setelah era reformasi lebih parah, soalnya ada yang jarang masuk ke Senayan tapi gaji dan tunjangan selalu diterima utuh.
Setiap tanya prajurit Ngastina, jawabnya selalu tidak tahu. Kalau lihat di Tiktok, memang Aswatama sudah tewas dalam laga. Kini Begawan Durna menyeberang ke pesanggrahan Randu Watangan. Ketemu Harjuna, jawabnya juga menguatkan apa yang tayang di medsos. Werkudara idem dito, malah dia minta mengikhaskan saja. Anak-anak Pendawa juga banyak yang mati di PBJB. Mau bagaimana lagi, jika jatah umurnya memang segitu.
“Maaf nakmas Haryo Setyaki, apa benar Aswatama tewas, dan kamu yang membunuhnya?” tanya Begawan Durna ketika tanpa sengaja amprok dengannya.
“Memang iya! Paman Durna nggak terima, apa? Sini saya matiin sekalian….!” jawab Haryo Setyaki songong sekali, dan tangannya sudah siap-siap untuk menghajarnya.
Begawan Durna buruan pergi dan menghindar. Dalam kondisi normal, dia ogah ketemu sapukawat Dwarawati ini, karena dipastikan jadi masalah. Apa lagi ini Haryo Setyaki masih diliputi emosi, Begawan Durna bisa habis digecek-gecek (dihancurkan). Sedangkan Begawan Durna masih ingin terus menghirup segernya hawa dan udara ngercapada. Andaikan saja punya duit banyak, meski sudah tua dia pengin juga kok Nyapres seperti Prabowo. Sama-sama ngejomblo, tapi rejeki memang beda. Dia sekaya konglomerat, sedangkan Begawan Durna, sudah jadi engkong masih juga melarat!
Mau tanya kepada wayang Ngamarta lainnya, Begawan Durna sudah ragu dan males. Selama Perang Baratayuda ini, mereka jadi politikus semua, sehingga omongannya tak bisa dipegang. Sikap dan kata-katanya sering mbolak-mbalik tidak keruan. Hari ini bilang A, besuk sudah bilang B. Misalnya Ade Armando PSI, dulu bilang ada 6 alasan menolak Prabowo. Tapi kini malah mendukungnya.
“Paman Durna mau ke mana?” tiba-tiba sepotong suara menyapanya, ternyata itu Prabu Puntadewa.
“Lho, anak prabu Puntadewa! Kebetulan sekali…..” jawab Begawan Durna, yang kala itu sedang minum es dawet ireng di bawah pohon. Rupanya haus sekali setelah muter-muter ke sana kemari tak memperoleh jawaban memuaskan.
Satu-satunya wayang Ngamarta yang masih punya kejujuran di era apapun, hanyalah Prabu Puntadewa ini. Maka peluang ini akan dijadikan ajang klarifikasi atas kematian Aswatama. Apapun jawabnya raja Ngamarta ini, pastilah sahih dan benar. Karena dia pemimpin yang tak mau berbohong, karena paling takut hidungnya jadi panjang seperti Pinokio, sepupunya Petruk.
“Anak Prabu Puntadewa, benarkah anakku Aswatama tewas dalam perang Baratayuda? Benarkah itu…..?” ujar Begawan Durna dengan bibir bergetar.
“Yang mati Hesti…….tama.!” jawab Prabu Puntadewa lirih dan pelan.
Beliaunya menjawab seperti itu karena sesuai dengan petunjuk Prabu Kresna. Ucapan yang mati dibuat keras, Hesti-nya dengan kalimat lirih dan Tama-nya kembali dibuat keras. Taktik bicara seperti itu memang demi menyiasati sikap Prabu Puntadewa yang selama hidupnya tak pernah dan pantang berbohong. Dengan jalan tengah semacam itu Prabu Puntadewa diyakini terbebas dari sanksi dewa jadi Pinokio.
Mendengar jawaban tersebut, Bagawan Durna langsung lemes bagaikan orang puasa telat berbuka. Ternyata Aswatama putra tunggalnya telah mendahuluinya tewas dalam perang. Putus sudah dinasti Kumbayana dari Ngatasangin. Dialah satu-satunya anak kekudangan (kebanggaan) Begawan Durna. Tanpa dia, hidup Begawan Durna terasa hampa.
“Oalah ngger, kok hanya segitu umurmu. Huu, huu, huuu….” tangis Begawan Durna seperti anak TK tanpa diiringi gending Tlutur.
Di langit sap tujuh, arwah Bambang Ekalaya yang dulu dibunuh Begawan Durna, tengah gentayangan bagaikan warga negara sedang di luar negeri dicabut paspornya. Dia sudah lama menunggu kapan pengapesan Begawan Durna, untuk bisa menuntut balas kematiannya. Utang nyawa saur nyawa, utang gethuk bayar tela, begitu prinsipnya.
Bersamaan dengan itu Trusthajumena putra Prabu Drupada nampak sedang bengong di cakruk (gubuk), gara-gara HP-nya kehabisan kuota. Lokasinya kebetulan berdekatan dengan Begawan Durna yang berduka. Mendadak sontak arwah Bambang Ekalaya masuk ke jiwa dan raga Trusthajumena yang sedang kosong. Wush…… Seperti ada yang menggerakkan, tahu-tahu dia mendekati Begawan Durna dan menggorok lehernya pakai keris. Prabu Puntadewa melihat, tapi tak mampu mencegah.
“Matilah kau, begawan bajingan tolol…!” kata Trusthajumena tiba-tiba, ini kerasukan Bambang Ekalaya apa Bambang Rocky Gerung.
Berita kematian Begawan Durna segera sampai ke kubu Kurawa dan Pendawa. Ngastina berduka, begitu juga Ngamarta. Tapi dengan kematian Begawan Durna, kemenangan Pendawa dalam Perang Baratayuda semakin nyata. Hari itu juga jazad Begawan Durna dimakamkan di San Diego Hills cabang Ngastina. Bambang Aswatama juga hadir dalam pemakaman dengan baju item-item. Menjawab pertanyaan pers, ketika ditelepon Begawan Durna, ternyata HP-nya sedang ketinggalan di toilet SPBU dan hingga sekarang tidak ditemukan. (Tamat – Ki Guna Watoncarita)



