DENGAN berat hati dibalut rasa kurang percaya diri, Jakapitono terpaksa menerima tugas dari Begawan Durna. Sebelum benar-benar menyerbu Pancala, prajurit Kurawa 100 minus Dursilawati yang cewek, mereka latihan perang-perangan dulu. Kalaupun Dursilawati dilibatkan, dia hanya di bagian seksi konsumsi saja. Yakni menyiapkan nasi bungkus dan teh manis untuk mengusir rasa lapar dan haus ketika latihan. Meski jumlah murid Kurawa hanya 99 orang, tapi nasi bungkus harus disiapkan sekitar 150 bungkus. Maklum, wayang Ngastina ini suka ndobel jatah!
Wayang Ngastina memang susah diajak berdisiplin. Baru 3 hari latihan sudah banyak yang gagal fokus, karena terpengaruh kabar gelaran Formula-E di Ancol. Justru guru mereka Begawan Durna dikejar-kejar dimintai tiket gratisan. Alasannya, Begawan Durna kan baru saja sukses menggelar MotoGP di Mandalika, NTB pasti banyak duit. Jangan-jangan dia juga panita inti di sirkuit Ancol, paling tidak dekat sama Ahmad Sahroni.
“Bagi tiket gratisnya dong, bapa guru kan anggota panitia.” Kata Durmagati.
“Ngawur saja kamu. Saya Begawan Durna, bukan Carmelo Ezpeleta pemilik Dorna Sport, tahu!” jawab Begawan Durna kesal.
Begitulah prajurit Kurawa 100, mudah termakan isyu karena kurang literasi tapi hobinya sambel trasi! Tapi faktanya di hari H Formula-E di Ancol murid Kurawa banyak yang bolos karena nonton langsung arena balap mobil listrik itu. Kabarnya mereka dapat tiket gratisan dari Haryo Suman yang punya koneksi orang partai. Tugas Kurawa hanya satu, untuk membirukan tribun yang telah diborongnya. Karenanya Durmagati dan Kartomarmo Cs ke sirkuit sambil membawa kuas dan cat minyak Glotex nomer 442 (biru).
Lantaran saat latihan perang saja banyak yang mlincur (bolos), di hari penyeranga yang sebenarnya prajurit Ngastina benar-benar keteteran. Hanya enam jam di Pancala, mereka sudah lari terbirit-birit dihalau Patih Gandamana. Dengan ajian Wungkal Bener yang diambil dari gunung batu di Wadas Kecamatan Bener Purworejo, serangan ke Pancala berhasil digagalkan oleh Patih Gandamana.
“Bilang sama gurumu, Begawan Durna, suruh saja dia datang ke sini biar saya bikin tambah bengkok hidungnya dan saya pincangin kakinya agar seimbang dengan tangannya yang ceko.” Kata Patih Gandamana pada Jakapitono pemimpin serangan.
“Ya Oom, terima kasih atas pembebasannya.” Jawab Jakapitono sambil menyembah.
“Oom, Oom…., memangnya saya kawin sama bulikmu, apa?” omel Patih Gandamana kesal.
Tentu saja Begawan Durna kecewa betul ketika menyaksikan prajurit Kurawa 100 kembali ke padepokan dengan tubuh babak belur, bercak-bercak betadin ada di mana-mana pertanda banyak luka. Masak 99 orang kalah melawan satu orang Patih Gandamana, sehingga gagal membawa Prabu Drupada sebagai tawanan. Ternyata Jakapitono, Dursasono, Durmagati; semua hanya menang badan gede doang. Kemlinthi nggak bisa kerja, tapi getol main medsos.
Jika mereka pejabat, pasti dimutasi dan ditaruh di tempat kering. Tapi karena statusnya siswa, hanya bisa memberi nilai C untuk indeks prestasinya. Dari sini menjadi semakin jelas bahwa darah Kurawa itu hanya omdo, tak bisa kerja, apa lagi mengemban misi negara, termasuk ketika dimanfaatkan Begawan Durna demi ambisi dan kepentingan pribadi.
“Maaf bapa Durna, kami sudah berusaha sekuat dan semampunya, tapi Patih Gandamana memang oye….!” kata Jakapitona sambil mencium dengkul Begawan Durna.
“Dan kalian memang oyek (sejenis tiwul)….!” potong Begawan Durna kesal.
Meski bala Kurawa 100 telah mengaku kalah, tapi Begawan Durna bukan berarti kehilangan asa. Dia masih punya murid lain, Pendawa Lima, yang diyakini mampu menjawab obsesi pribadinya. Dia ingin segera bisa melampiaskan dendam kesumatnya pada Prabu Drupada. Dan tinggal kepada Pendawa Lima Begawan Durna bisa berharap.
Setelah pembelajaran rutin, Pendawa Lima dilarang pulang dulu. Di aula perguruan Begawan Durna menyampaikan uneg-unegnya, di antaranya mengungkapkan rasa kecewanya pada Kurawa 100 yang gagal mengemban misi Begawan Durna, gurunya. Di depan Bima Cs kembali Begawan Durna menyampaikan ambisinya untuk bisa membalas mempermalukan Prabu Drupada.
“Minta tolong Kurawa 100 ternyata gagal total. Saya harap kalian mampu mengemban Ampegur (amanat penderitaan guru). Ingat, murid yang baik selalu berbakti pada gurunya.” Kata begawan Durna memberi wejangan.
“Kami siap bapa begawan. Tokoh andalan Pancala itu siapa? Kami berlima siap melibasnya.” Jawab Bima.
“Sapukawat Pancala namanya Patih Gandamana, itu sakti mandraguna luar biasa. Dia punya ajian Wungkal Bener, Bandung Bandawasa. Hati-hati lawan dia…..” Begawan Durna mengingatkan.
“Halah, gandamana. Itu makanan gue tiap pagi.” Ujar Bima, dia mengira itu jenis makanan dari singkong.
Demikianlah, mengemban Ampegur keluarga Pendawa Lima berangkat ke Pancala. Targetnya ingin menangkap Prabu Drupada, dengan tuduhan pelanggaran HAM berat. Kesalahan raja Pancala adalah, dia membiarkan saja ketika Patih Gandamana menghajar tamu kerajaan secara tak semena-mena. Dulu sudah pernah dilaporkan Begawan Durna ke Amnesti Internasional, tapi tak direspon. Walhasil Begawa Durna terpaksa memperjuangkan sendiri lewat murid-muridnya di perguruan.
Tentu saja Patih Gandamana tak merelakan ratu sesembahannya akan diesktradisi pihak lain. Dia menghalang-halangi niat Bima Cs. Kata warangka dalem (patih) Pancala itu, boleh memboyong Prabu Drupada asal mampu melangkahi mayatnya dulu. Jika tidak bisa, resiko ditanggung sendiri. Jangankan hanya Pendawa yang berjumlah 5 orang, sedangkan tempo hari Kurawa 99 saja habis dilibasnya.
“Sombong amat!” gerutu Bima, nada dan tekan suaranya mirip Mandra si lenong Betawi.
“Nggak percaya, ya buktikan saja.” Jawab Patih Gandamana sambil pasang kuda-kuda.
Pertama kali menyerang Pinten-Tangsen, tapi dengan mudah bisa dihempaskan. Wijakangka maju, sama saja sekali gebrak dia sudah KO. Yang serius melawan Patih Gandamana hanyalah Bima dan Permadi. Kadang aplusan menyerang kadang menyerang secara bersama-sama. Meski Gandamana sakti mandraguna, karena dikeroyok dua orang tanpa kenal istirahat, padha akhirnya pingsan juga kena swing tinju Bima. Bletak….. (Ki Guna Watoncarita)



