Rusia Kembali Serang Kiev

Kota-kota di Ukraina porak poranda dihajar rudal jelajah, artileri berat dan roket-roket Rusia. Sampai hari ke-102, Senin 5 Juni, Rusia belum berhasil menaklukkan Kiev.

PENDUDUK  Ukraina yang mulai tenang pasca awal-awal invasi Rusia ke negara itu (sejak 24 Feb.) kembali ke mimpi buruk, Minggu (5/6) digucang bombardemen rudal-rudal jelajah yang mengancam nyawa mereka.

Semula mesin perang raksasa Rusia langsung mengarah Kiev, ibukota berpenduduk sekitar 2,8 juta jiwa, mungkin dengan perkiraan, bombardemen yang dilakukan dari darat, laut dan udara, membuat pasukan Ukraina tidak akan mampu bertahan.

Namun perkiraan itu meleset, ternyata walau tentara Ukraina yang jumlah dan persenjataannya kalah jauh dan harus bertempur sendiri setelah NATO menolak terjun langsung,  mampu menahan gerak maju ratusan tank-tank Rusia.

Taktik perang kota yang dilancarkan pasukan Ukraina, juga berkat efektivitas rudal-rudal anti tank Javelin (buatan AS) dan Senjata Anti Tank Ringan Generasi Mendatang (NG LAW) buatan Inggeris-Swedia, serta rudal panggul Stinger.

Rusia mengalami kerugian besar, kehilangan ribuan personil, ratusan tank-tank utamanya (a.l. T-90 dan T-14 Armata oleh sengatan Javelin dan NG LAW serta helikopter tempur andalannya Kamov KA-52 oleh rudal Stinger.

Walau sudah berada “sepelemparan batu” di luar kota Kiev, pasukan Rusia sejak medio April mengalihkan serangan ke bagian lain terutama ke wilayah Ukraina seperti kota Mariupol dan wilayah  Donbas di Donetsk dan Luhanks, bergabung dengan kelompok etnis Rusia yang hendak melepaskan diri dari Ukraina.

Gunakan Rudal Jelajah

Kemhan Rusia di unggahan aplikasi Telegram (5/6) menyebutkan, pihaknya mengoperasikan pengebom TU-95 Bear dari Laut Kaspia untuk meluncurkan rudal-rudal jelajah akurasi tinggi ke sasaran di sekitar Kiev berjarak 2.000 Km.

Rudal-rudal tersebut menyasar tank-tank tempur utama T-72 yang dipasok negara-negara Eropa Timur (Bulgaria, Ceko, Hongaria, Polandia)  yang disembunyikan di instalasi perbaikan gerbong KA di timur kota Kiev.

Pihak Ukraina sendiri membantah, fasilitas perbaikan gerbong KA yang diserang digunakan menampung tank-tank yang dipasok negara-negara sahabat Ukraina untuk diterjunkan melawan Rusia.

Pihak Ukraina melaporkan, pertempuran sengit jarak dekat berlangsung, Minggu saat pasukannya berupaya mempertahankan kota Sieverodonetsk dan Lysychanks di wilayah Luhansk yang digempur Rusia.

Presiden Ukrana Volodymyr Zelensky juga mengakui, bombardemen dari udara, serangan rudal dan artileri berat Rusia tak henti-hentinya menghantam kedua kota tesebut, namun pasukannya masih tetap bertahan walau 70 persen wilayah itu sudah dikuasai Rusia.

Di tengah tekanan int’l termasuk embargo produk ekspor Rusia terutama energi (minyak mentah dan gas alam) serta pengucilan negara terseut dari sistem perbankan internasional (SWIFT), belum ada tanda-tanda Rusia akan menghentikan perang terhadap Ukraina.

Tidak hanya Rusia yang menanggung beban ekonomi, negara-negara Uni Eropa yang bergantung pada pasokan energi Rusia juga akan mengalami distorsi ekonomi, bahkan Perang Rusia vs Ukraina juga mengimbas perekonomian global termasuk RI.

Perang tidak bisa menyelesaikan permasalahan, karena akhirnya nanti juga pihak-pihak yang terlibat bakal kembali dipaksa ke meja perundingan.

Kenapa tidak sekarang saja kembali ke meja perundingan, sebelum korban, manusia, peralatan perang serta sarana dan prasarana publik hancur berantakan. (AP/AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement