AH, itu kan cuma isyu omongan Cawapres No. 02 Samsul (asam sulfat) yang sedang rame digoreng ke sana kemari. Tetapi bayi anak Kunthi-Pandu ini memang luar biasa sekali. Akan kalahkah dirinya melawan dia? Gengsi dong! Masak Gajah Seno kalah oleh bayi abang? Dalang Seno saja kalah melawan dirinya, bahkan sekarang sudah meninggal. Meninggal karena kalah bertempur dengan Gajah Seno? Nggak jugalah, kemungkinan dia meninggal karena tenaga diforsir pentas bisa berbulan-bulan tiap malam nonstop.
“Amu Ajah Eno amilinya pablik salung Ajah Uduk ya?” ujar si bayi abang dengan bahasa masih cadel.
“Bukan, aku Gajah Seno putra Bethara Endro dari kahyangan.”
“Aya kila Ethala Indlo Walkop DKI.” Kata si bayi abang lagi.
“Bukan juga! Itu sih Indro temannya Kasino dan Dono.”
Gajah Seno optimis bisa mengalahkan si bayi abang, tetapi sekedar mengalahkan, bukan untuk membinasakan. Sebab tak ada petunjuk atau perintah dari Jonggring Salaka. Dari awal misinya sekedar membedah pembungkus nan keras itu, agar bayi tumbuh normal sebagaimana lazimnya bayi. Karena itulah, merasa tugasnya telah selesai Gajah Seno segera pergi meninggalkan si bayi.
Tapi tahu-tahu pletakkk……ada batu segenggaman mendarat di kepalanya. Ee, masih kecil sudah iseng ini bayi. Sakitnya tak seberapa, tetapi jidat Gajah Seno mendadak mencono segeda bakpao isi kacang ijo, mirip Setya Novanto Ketua DPR/Ketum Golkar dulu. Maka Gajah Seno balik bakul, ingin kasih pelajaran bayi yang tak tahu adat, tak tahu berterima kasih. Namanya juga bayi abang!
“Ngehek lo! Sudah ditolongin, bukannya berterima kasih, malah nimpuk pakai batu. Sini lu, gua bikin bergedel….!” tantang Gajah Seno.
“Ciapa akut!” jawab si bayi merah.
“Serius nih?”
“Ya celius lah, macak uman main-main…..!”
Keduanyapun lalu berantem. Namun sungguh di luar dugaan. Setiap pukulan dan serudukan Gajah Seno justru membuat tubuh bayi abang itu bertambah gede, bagaikan dimandikan banyu gege. Hitung-hitunganya, sekali seruduk membuat tubuh si bayi bertumbuh usia setahun. Total jendral Gajah Seno telah memukul dan menyeruduk si bayi 20 kali, sehingga tubuhnya tumbuh pesat bagaikan ABG usia 20 tahun. Jika nyoblos Pilpres pun sudah boleh, karena termasuk Gen-Z. Tapi untuk Nyapres tidak bisa, karena tak punya Paman di MK.
Perubahan juga terjadi pada mulut si bayi abang secara drastis. Tadinya ngomong cadel, kini sudah mampu ngomong jelas dan suara pun sudah ngagor-agori (mendekati suara orang dewasa). Ngomongnya juga langsung banyak, tidak seperti Walikota Solo Samsul yang baru pinter ngomong setelah debat Cawapes 22 Desember 2023 lalu. Apakah bayi Kunthi-Pandu ini juga sekedar menghafal hasil briefing kilat? Lalu siapa yang membriefing, kok sempat-sempatnya.
“Hayo Gajah Seno, lawanlah aku.” Tantang si bayi yang kini telah jadi ABG.
“Busyet, sombong amat!” jawab Gajah Seno kembali.
Bayi yang telah menjelma jadi ABG itu lalu merangsek maju, hendak menghajar Gajah Seno. Ingat pesan kahyangan, putra Bethara Endro itu mencoba pergi menghindar. Eh, ternyata bayi ABG itu terus menghajarnya. Ya sakitlah! Ketika Gajah Seno kembali hendak menyeruduk dengan kedua gadingnya, tahu-tahu malah dipatahkan dua-duanya. Gajah tanpa gading, mana bisa hidup. Dengan sendirinya Gajah Seno kemudian kejet-kejet menjemput ajal.
Namun aneh bin ajaib, kedua gading di tangan bayi ABG itu mendadak masuk ke jempol kanan dan jempol kiri. Jadilah mereka kuku Pancanaka yang menjadi andalannya kelak. Kuku tersebut tajam luar bisa, pitung penyukur kata kidalang alias tajam sekali. Sedangkan jasad Gajah Seno juga menghilang, jangan-jangan dia merasuk ke dalam tubuh bayi mendadak ABG tersebut.
“Telah menjadi pepesthening (ketentuan) dewa, arwah dan jazad Gajah Seno menyatu dalam dirimu. Maka kau kuberi nama Brataseno, ya.” Kata Bethara Endra yang muncul tiba-tiba.
“Tapi ulun juga titip nama Bayu Putra, karena Brataseno ini titisan ulun juga.” Potong Bethara Bayu yang juga hadir tiba-tiba.
Nama Brataseno memang sangat pas untuk eks bayi bungkus itu, sebab brata itu mengandung makna bertapa. Faktanya, bayi Brataseno telah bertapa selama 5 tahun dalam bungkusan penuh misteri. Selanjutnya Bethara Bayu pula yang mengantarkan Bratasena ke istana Gajahoya. Maklum Brataseno belum tahu siapa kedua orangtuanya dan di mana pula rumah tinggalnya.
Tiba di Istana Gajahoya Dewi Kunthi dan Pandu pangling sama sekali, siapa gerangan anak muda tinggi besar yang datang bersama Bethara Bayu. Dewi Kunthi sendiri kala itu tengah ngemban (menggendong) bayi lelaki bernama Kangka. Bayi tersebut berusia kira-kira 6 bulan, merupakan anak kedua pasangan Kunthi-Pandu. Maklum, selama bayi bungkusnya dibuang di hutan Mandalasara, Pandu-Kunthi terus kerja, kerja, kerja…..demi mengembangkan keturunan.
“Anak muda tampan itu siapa pukulun?” Pandu pun bertanya pada Bethara Bayu.
“Ya anakmu sendiri dong. Masa kamu lupa? Itu lho bayi bungkus yang dibuang di hutan Mandalasara 5 tahun lalu.” Jawab Bethata Bayu menjelaskan.
Pandu dan Dewi Kunthi terbelalak matanya. Kok anaknya menjadi begitu gede, tinggi besar pindha prabata (bagaikan gunung). Mereka mencoba merangkul Brataseno sebagai bukti kasih sayangnya, tetapi tak nyampe. Dikasih asupan apa selama dalam perawatan Bethara Bayu. Tiap hari dimandikan larutan asam sulfat ngkali!
(Ki Guna Watoncarita).



