Banjir dan Longsor Jeda, Paceklik Tiba

Ilustrasi kekeringan

USAI bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kawasan di puncak musim penghujan sekitar tiga bulan lalu, kini warga harus bersiap-siap lagi menghadapi puncak musim kemarau yang biasanya diwarnai kekeringan dan kebakaran hutan serta paceklik atau rawan pangan di sentra-sentra pertanian.

BMKG memprakirakan, kemarau saat ini bakalan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya, mengingat walau kini belum mencapai puncaknya, hujan sudah tidak turun lagi sejak tiga bulan terakhir ini, sementara dilaporkan sejumlah daerah juga sudah mengalami kekurangan pasokan air untuk pertanian.

Menurut Kepala Subbidang Produksi, Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, sejumlah kawasan di P. Jawa seperti di Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta ada yang sudah 45 hari tidak turun hujan, sementara di sebagian wilayah Provinsi NTB dan NTT, Bali dan Jawa Timur hujan tidak turun lebih dari 30 hari.

BMKG juga telah menerbitkan data tentang wilayah yang bakal mengalami defisit pasokan air untuk kegiatan pertanian seperti Bima, Kupang, Larantuka, Maumere, Sumba Timur, Ndao, Rote, Sumba Timur, Sumbawa, Surabaya dan Yogyakarta.

Siswanto mengingatkan, wilayah yang mengalami kekeringan meteorologis biasanya juga bakal mengalami defisit air untuk pertanian yang diprediksi meluas dampaknya, mengingat musim puncak kemarau baru sekitar Agustus dan September mendatang.

Lebih dari itu, kekeringan juga berdampak pada pasokan air bersih seperti yang terjadi di tujuh kecamatan di Kab. Ponorogo, Jatim dan sejumlah desa di Kec. Karangkancana, Kab. Kuningan, Jabar.

Kekeringan dan krisis air dilaporkan pula terjadi di Kab. Magelang dan Temanggung, Jateng, dan yang terparah dialami warga di sejumlah desa di enam kecamatan di Kab. Boyolali karena mereka terpaksa membeli air bersih untuk keperluan sehari-hari Rp120.000 per tangki (5.000 liter).

Lebih jauh Siswanto mengemukakan, kekeringan saat ini belum dipengaruhi fenomena El Nino yang diperkirakan baru aktif September nanti walau kekuatannya tidak seperti yang terjadi pada 2015.

Kebakaran lahan gambut sebagai dampak kekeringan dilaporkan terjadi di Desa Cinta Jaya, Kec. Pedamaran, Ogan Komering Ilir, Sumsel sehingga menimbulkan asap tebal (Kamis, 19/7).

Di Riau selama dua hari saja (16 – 18 Juli) areal hutan yang terbakar bertambah sampai 200 Ha dari seluruhnya 2.200 Ha lahan hutan yang terbakar sejak Januari lalu. Jumlah titik panas di wilayah Sumatera dan Kalimantan juga dilaporkan meningkat dari 600 menjadi 800 titik panas.

Kapolda Sumsel Irjen Pol.Zukarnaen Adinegara mengingatkan semua pihak bahwa aparatnya akan bertindak tegas termasuk tembak di tempat bagi yang sengaja membakar lahan. Hal itu tentu berkaitan dengan helat olahraga terakbar se-Asia, Asian Games ke-18 yang a digelar di Palembang selain Jakarta, 18 Agustus sampai 2 September.

Harga diri Indonesia sebagai tuan rumah dipertaruhkan dalam event yang diikuti 11.000 atlit dari 45 negara, 4.400 ofisial dan 170.000 suporter itu.

Indonesia, salah satu negeri yang memiliki khazanah hutan hujan tropis terbesar di dunia memang belum mampu secara efektif menangani kebakaran hutan yang juga berkontribusi terjadinya kekeringan, terutama akibat rendahnya kesadaran penduduk dan minimnya SDM dan peralatan yang tersedia.

Advertisement