Banjir Tiba-tiba Buat Warga Konawe Trauma dan Enggan Pulang dari Pengungsian

Ilustrasi Ribuan rumah terendam banjir di Konawe/ Sindonews

KONAWE – Sebagian korban yang terdampak banjir di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra) mengatakan enggan pulang ke rumah dan masih memilih bertahan di tempat pengungsian.

Sekertaris Desa Puwanggudu, Suhardin (50), yang juga ikut menjadi korban terdampak banjir dan mengungsi di Desa Wanggudu Raya mengatakan dirinya bersama keluarga dan pengungsi lainnya masih ragu untuk kembali ke rumah masing-masing meskipun banjir sudah mulai surut karena tinggi lumpur hingga pinggang orang dewasa.

“Kami belum berani ke rumah, karena masih trauma, karena saat itu tiba-tiba air naik sampe di atas loteng, padahal sejak saya kecil sampai umur saya sekarang 50 tahun, saya belum pernah melihat banjir yang separah ini,” kata dia di Konawe Utara, Sabtu malam.

Hartian (50) warga Desa Puwanggudu, pengungsi lainnya,  menyebutkan dirinya sangat trauma terhadap banjir karena saat banjir mereka bersama keluarga sempat berada di loteng rumah selama 3 hari.

“Sampai hari ini, saya belum pernah melihat kondisi rumah se menjak kami dijemput pake katinting (perahu yang menggunakan mesin) untuk mengungsi, tapi saya dengar lumpurnya banyak sekali,” jelasnya.

Bupati Konawe Utara, Ruksamin mengatakan saat ini Pemkab Konawe Utaratelah melakukan trauma healing untuk memberikan bantuan pemulihan trauma psikologis bagi para korban banjir.

“Saat ini kami lakukan trauma healing, ada tim kesehatan dari UMI Makassar, tim Kesehatan UHO, Tim ACT Jakarta yang sedang melakukan trauma healing itu,” ujar dia, dilansir Antara.

Selain itu, Ruksamin juga mengatakan belum mengizinkan warganya untuk kembali ke rumah dengan alasan keamanan.

Advertisement