Beban Rakyat Palestina Makin Berat

Kepulan Asap di Palestina saat tentara Israel menyerbu. foto: AFP

SERANGAN bom rudal yang digencarkan Israel terhadap bumi Palestina selama ini, menyakiti dan meningkatkan beban penderitaan Gaza, Palestina. Hal tersebut berdampak sangat pedih dan menyakitkan bagi masyarakat Palestina, terutama di wilayah Gaza.

Bangsa Palestina menderita karena tidak lepas dari tekanan Israel yang sudah lebih 1 abad yang lalu, sejak Perjanjian Balfour 1917 yang mendorong kemerdekaan Israel pada 1948, serta pencapoklan wilayah secara ilegal yang terus terjadi bertahun-tahun.

Gaza dibombardir, diblokade. Pasokan air, listrik dan gas diputus. Warga Palestina yang kerja di wilayah Israel dengan gaji 10 x lebih besar dibanding kerja di wilayah sendiri sudah tidak diizinkan lagi.

Serangan Hamas ke Israel pada Sabtu (7/10) lalu, diketahui dinilai sukses. Hal tersebut dikarenakan Pejuang Hamas sudah menyiapkan modus operandi tanpa terendus oleh dinas rahasia Israel Mossad dan Shinbet Israel yang kesohor di dunia dalam kegiatan spionase untuk negaranya.

Pejuang Hamas berhasil menyusup dengan perahu-perahu motor melalui laut, menerobos tembok perbatasan dengan memotong pagar-pagar kawat berduri dan meluncurkan pesawat paralayang bermotor dari perbukitan ke wilayah Israel setelah sebelumnya mengguyur wilayah Israel selatan dengan ribuan roket.

Sistem pertahanan udara Iron Dome atau Kubah Besi yang biasanya mampu menangkal roket-roket Hamas, saat ini kewalahan, karena Hamas meluncurkan roket secara serempak atau salvo dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat (20 menit).

Iron Dome yang dipasang sejak 2011 sebenarnya dirancang untuk menghadapi serangan udara mulai dari jarak pendek seperti lintasan peluru mortir atau meriam, roket dan menjatuhkan rudal jarak jauh pada jarak 70 Km sebelum menyasar targetnya.

Namun pertempuran yang masih berlangsung secara sporadis sampai hari ini dikecam internasonal karena kedua belah pihak lebih banyak menyasar warga sipil terutama perempuan dan anak-anak di antara lebih 1.200 orang yang tewas dari kedua belah pihak dan ratusan warga sipil yang disandera Hamas.

Respons Israel sendiri seperti serangan-serangan Hamas terdahulu, selalu membalasnya beberapa kali lipat, dan untuk serangan kali ini membombardir wilayah Jalur Gaza dari darat dan udara, menghancurkan sejumlah bangunan dan fasilitas sipil lainnya.

Kemerdekaan yang didambakan bangsa Palestina sejak lebih seabad lalu juga makin menjauh, mengingat sebagian negara-negara Arab yang mendukung perjuangan mereka satu persatu sudah “merapat” atau menjalin hubungan dengan Israel.

Mulai dari Mesir yang menormalisasi hubungan diplomatic dengan Isarel berdasarkan kesepakatan Camp David pada 1978, disusul Jordania (1994) dan Bahrain, Maroko, Sudan dan UEA berdasarkan kesepakatan Abraham pada 2021 dan kini Arab Saudi sedang melakukan lobi-lobi intensif.

RI dan negara-negara di dunia lainnya harus aktif cawe-cawe mengupayakan terwujudnya kemerdekaan dan menyelamatkan bangsa Palestina menghadapi kekuatan-kekuatan raksasa yang menghalanginya. (NS/berbagai sumber).

Advertisement