
WILAYAH perkotaan terutama Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek makin panas akibat alih fungsi lahan yang dilakukan secara massif dibandingkan di kawasan pedesaan yang masih asri.
Fenomenan Urban Heat Island (UHI, pulau panas) tersebut diungkapkan oleh Peneliti iklim BMKG Siswanto dan timnya bersama tim gabungan Universitas Indonesia dalam jurnal Aplikasi Penginderaan Dini: Komunitas dan Lingkungan Terbaru (Kompas, 10/10).
Dalam penelitian itu terungkap, terdapat perbedaan suhu muka tanah antara tiga sampai enam derajat celsius antara wilayah Jabodetabek yang sudah disesaki bangunan dibandingkan kawasan hunian yang masih hijau di pedesaan.
Selain mengakibatkan kenaikan suhu udara, peralihan fungsi lahan di kota-kota besar juga mempengaruhi kondisi iklim dan lingkungan, kekeruhan Sn kualitas udara dan curah hujan.
“Berkurangnya luas vegetasi dan ruang terbuka yang dijadikan beton dan aspal, berkontribusi menaikkan suhu di perkotaan, “ kata Siswanto.
Fenomena UHI sepanjang 1980 – 2012 menunjukkan sinyal menguat dan paling signifikan yakni peningkatan suhu minimal di empat stasiun pengamatan meteorologi di Kemayoran, Tag Priok dan Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta dengan tren 0,3 sampai 0,75 derajat celsius per dekade.
Penyebab utama kenaikan suhu di wilayah ibukota dan sekitarnya, menurut Siswanto adalah alih fungsi lahan vegetasi menjadi properti perkotaan ditambah lagi dengan terjadinya pemanasan global dan perubahan tutupan lahan.
Sedangkan terkait suhu panas pada September dan Oktober, menurut Siswanto, terutama terjadi akibat gerak semu matahari yang berada di selatan Khatulistiwa selain knaikan suhu akibat pemanasan global.
Untuk menghindari dehidrasi, warga diminta sering minum air, menyeka badan dengan air dan menghindari paparan langsung sinar matahari dengan mengenakan kacamata hitam dan payung jika berada di luar rumah pada siang hari.




