BEGAWAN CIPTONING

Harjuna berhasil menewaskan Niwatakawaca dengan senjata panah lewat mulut.

SEMUA itu sudah ada jatah dan jodohnya masing-masing. Dalam dunia perwayangan juga seperti itu. Raksasa kawin dengan raksasa, dewa ka­win dengan dewa dan wayang kelas bawah kawin juga ka­win dengan wayang kelas bawah. Ibaratnya harimau, mana mungkin dikawinkan dengan kucing Angora?

Tapi sebagai konglomerat di Manikmantoko, Pra­bu Niwatakawaca lain lagi seleranya. Dia tak mau mencari pasangan dari wayang kelas biasa. Meskipun bentuk tubuhnya simpang siur bak gajah bengkak, Prabu Niwatakawaca memaksakan diri ingin berjodoh dengan Dewi Supraba, dan langsung melamar ke ka­hyangan lewat WA Istana.

Tentu saja Batara Guru menolak mentah-mentah. Betul, konglomerat Manikmantoko itu kaya raya dan masih bujangan sesuai dengan keterangan di KTP-nya. Tapi mana mungkin tokoh raksasa kawin melawan bidadari yang cantik? Apa tidak kebanting?

“Kalau dia unjukrasa May Day ke Kahyangan, siapa yang tanggung?” kata Narada was-was.

“Enak saja, kahyangan tak pernah impor TKA, tahu!” ujar Betara Guru sepertinya salah paham.

Batara Narada pun segera melaksanakan instruksi boss di Kahyangan itu. Berita penolakan itu disampaikan kepada Niwatakawaca melalui WA pula. “Dengan sangat menyesal lamaran Saudara ditolak. Di samping tidak memenuhi syarat, formasi yang ada sangat terbatas,” begitu jawaban Narada singkat, padat, penuh basa-basi.

Menerima jawaban mengecewakan itu Prabu Niwatakawaca mencak-mencak. Raksasa satu ini kalau marah memang agak lain. Bukannya banting ini itu, tapi langsung masuk restoran Padang, hidangan satu meja dihabiskan sendiri!

“Patih Mamangmurko, serbu Kahyangan. Kalau perlu Betara Guru dan Narada brentiin jadi dewa…!” perintah Niwatakawaca garang kepada patihnya.

Dengan mencarter truk sampah PD Pasar Jaya, Prabu Niwatakawaca, patih Mamangmurko dan segenap hulubalang berangkat ke Kahyangan. Di sana mereka soroh amuk (ngamuk) dan mengganggu stabilitas perdewaan. Dewa-dewa aselon II macam Betara Wisnu dan Betara Bayu, tak ada yang mampu mengalahkan Prabu Niwatakawaca yang nyaris kalis ing pati (anti maut) itu. Semua kabur menyelamatkan diri, sehingga dengan leluasa Prabu Niwatakawaca berhasil memasuki daerah tempat tinggal Dewi Supraba di Pondok Indah. Ketika berjumpa dengan bidadari primadona Kahyangan itu, langsung saja dada Niwatakawaca senut senut. Dewi Supraba memang secantik artis Dewi Sandra!

Setelah tengok kanan tengok kiri ternyata bebas Satpol PP, langsung saja konglomerat Manikmantoko itu menempel Dewi Supraba. Sambil senyum-senyum dia memperkenalkan diri, memberikan kartu nama plus nomer WA segala. Sebenarnya Dewi Supraba tak menyukai Prabu Niwatakawaca ini. Tapi kalau terus terang apa adanya, bisa panjang nih urusan. Karenanya demi kepentingan nasional dunia per wayangan, bidadari berwajah seperti selangit itu pura-pura menanggapi gejolak asmara Niwatakawaca.

“Kangmas Niwatakawaca kok bisa sakti dan rosa-rosa kayak Mbah Marijan, apa sih rahasianya?” tanya Supraba sambil cubit paha boss Manikmantoko itu.

“Ha, ha, ha… Pokoknya Dik, senjata apa saja boleh ditusukkan ke tubuhku asalkan jangan di telak (anak tekak) ku. Kalau itu yang dihajar, mati deh gue…” jawab Niwatakawa­ca pongah, karena merasa cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

Prabu Niwatakawaca baru sadar bila masuk dalam jebakan, ketika Dewi Supraba kabur begitu memperoleh informasi yang berharga itu. Untuk mengejar wanita yang mbebidung ati (mengganggu perasaan) tak ada waktu lagi, karena serta merta ada telepon dari Batara Guru bahwa Dewi Supra­ba akan diserahkan barang 2 – 3 hari lagi.

Sementara Kahyangan Jonggringsalaka dilanda krisis. Ba­tara Guru mendengar informasi dari Batara Endra bahwa di kaki Gunung Indrakila ada begawan bertapa. Pendeta yang mengaku sebagai Begawan Ciptoning itu konon bisa pula mengobati berbagai jenis penyakit karena ilmu hitam atau kelainan seks.

Cemas sekali Batara Guru, sebab hal ini bisa merongrong kewibawaan perwayangannya. Serta merta dia memerintahkana sejumlah bidadari untuk membatalkan pertapaan Begawan Cipto­ning yang jelas jelas tanpa izin itu.

Tujuh bidadari masing-masing: Dewi Supraba, Dewi Irim-Irim, Dewi Warsiki, Dewi Prabasini, Dewi Gagarmayang, De­wi Tanjungbiru dan Dewi Surendra (Dewi Persik tidak ikut kare­na ditilang polisi gara-gara mobilnya masuk jalur busway) segera menggoda ketekunan bertapa Begawan Ciptoning. Tapi tokoh yang punya nama serep Begawan Mintaraga itu memang pendeta pilihan. Meskipun di antara bidadari itu ada yang nekad bertelanjang dada dan pakai rok mini 30 cm di atas lutut, tergiur juga kagak.

“Maaf deh, gue hari ini baru cuti wanita….!” jawab Bega­wan Ciptoning bisik-bisik.

“Payah Ciptoning, sampeyan perlu konsultasi sama dokter Boyke Dian Nugroho…!” kata para bidadari serempak sambil pulang ke Kahyangan.

Kegagalan misi 7 bidadari di Indrakila, membuat kegelisahan Betara Guru makin memuncak. Tapi kegelisahan yang sama ternyata terjadi pula di Ngamarta, sebab sudah beberapa minggu ini Harjuna menghilang dari Kesatrian Madukara. Prabu Yudistira menduga, adiknya ini paling-paling nonton sepakbola di luar negeri. Tapi benarkah Harjuna langsung nonton bola di luar negri?  Karena tidak ada kepastian di mana Harjuna berada, keluarga Ngamarta minta tolong Prabu Kresna di Dwarawati untuk mencari kesatria yang terkenal doyan kawin itu. Kasihan kan, di rumah kebetulan Abimanyu baru sakit panas.

Sementara Prabu Kresna berangkat mencari Harjuna, di gua Witaraga tempat Begawan Ciptoning bertapa terjadi keributan kecil. Bukan protes penduduk minta ganti rugi proyek bandara, tapi ada babi hutan mengganggu pertapaan. Maka pistol miliknya yang konon tanpa izin itu langsung dikeluarkan dan dibidik-kan ke babi hutan yang sesungguhnya penjelmaan Patih Mamangmurko pejabat dari Manikmantoko itu.

“Dor..dor…!” suara tembakan itu dua kali, menghajar tubuh si babi hutan.

Babi hutan tersebut tewas seketika dan menjelma menjadi patih Mamangmurko.

Yang membuat Begawan Ciptoning terkejut, seingatnya dia cuma sekali melepaskan tembakan, tapi kenapa ini ada dua luka di perut Patih Mamangmurko? Wayang mana lagi nih yang suka usil?

“Tembakanmu meleset, Ciptoning. Nih lihat gue, calon juara panahan Asian Games Jakarta-Pelembang Agustus mendatang.” kata Resi Padya, wayang asing yang tiba-tiba muncul.

Begawan Ciptoning jadi emosi melihat ada pendatang baru yang meremehkan dirinya. Cekcok pun terjadi, keduanya mengaku sebagai pembunuh babi hutan penjelmaan Patih Mamangmurko itu. Klimaksnya, dua wayang itu berantem untuk menunjukkan siapa yang menelanjangi musuh-nya, sehingga kemudian mereka badar (salin wujud), Resi Padya berubah sebagai Betara Endra dan Bagawan Cipto­ning sebagai Harjuna.

“E, elu. Mau nggak nih, ada obyekan di Kahyangan. Kalau bisa membunuh Prabu Niwatakawaca, Dewi Supraba yang seksi itu buat kamu deh!” kata Betara Endra bisik-bisik.

“Bener nih? Janji ya…!”

Harjuna segera berangkat ke Manikmantoko pakai taksi online, sebagai penunjuk jalan dan penambah semangat adalah De­wi Supraba sendiri. Tiba di Manikmantoko, Harjuna segera menyerbu istana Prabu Niwatakawaca, sementara Dewi Supraba ditinggal di taksi. Sesuai dengan petunjuk bidadari nan cantik itu, Harju­na selalu memancing musuhnya agar tertawa lebar. Karena-nya, dia bukan menggunakan kesaktian ilmunya, tapi malah ndagel (melawak) macam Cak Lontong.

“Ha, ha, ha, baru kali ini ada Harjuna membadut. Entar kalau gue kawin sama Supraba, gue undang deh…!” jawab Niwatakawaca sambil tertawa ngakak.

Kesempatan emas itu tak disia-siakan Harjuna. Begitu musuhnya tertawa sehingga kelihatan anak tekaknya, langsung ditembak tepat pada bagian yang mematikan itu. Serta merta Niwatakawaca jadi almarhum. Tanpa memperdulikan mayat musuhnya. Harjuna dan Supraba kembali ke Kahyangan un­tuk menagih janji dewa. Karena dewa tak pernah bohong, hari itu juga Harjuna dikawinkan melawan Dewi Supraba. Selain memperoleh hadiah bidadari, kesatria Madukara ini masih diberi hadiah panah Pasopati Madukara dan diberi nama baru Prabu Kariti. (Ki Guna Watoncarita)

 

Advertisement