Begawan Sukmaseta

Begawan Sukmaseta dikalahkan Lurah Semar dibantu Harjuna.

MESKI sudah tua dan jarang berolahraga, Ki Lurah Semar tak pernah sakit serius. Paling-paling hanya batuk pilek dan masuk angin, diobati dengan obat warungan sudahlah sembuh. Jika ada penyakit permanen, hanyalah mata rembes sejak dulu kala. Pernah dibawa ke RS Aini Kuningan, namun tak ada kemajuan. Semua yang dilihatnya jadi kabur. Tapi uniknya, asal melihat tumpukan duit atau ketemu randa kempling, semuanya menjadi jelas dan cetha wela-wela.

Entah apa dosanya, mendadak Ki Lurah Badranaya kini terkena penyakit serius. Sehari-harian telentang di kamarnya yang sempit. Pernah dibawa ke RS Mitra Keluarga Kaya, tapi dua-duanya angkat tangan. Dokter menyerah karena tak juga menemukan penyakitnya. Keluarga Semar juga angkat tangan karena tak mampu bayar biayanya.

“Sudahlah Ma, kita pulang saja. Rumah sakit ini memang hanya untuk pasien keluarga kaya,” kata Petruk sendu.

“Tapi aku belum siap didatangi Yamadipati, wahai anak-anakku….”

“Lho, katanya Yamadipati dulu teman kuliah di kahyangan. Masak nggak ada dispensasi?”

“Dia hanya pelaksana, Reng, Truk, Gong…..” suara Semar semakin lemah saja.

Punakawan Gareng – Petruk – Bagong hanya bisa menangis. Meski lurah, Semar ini memang bukan anggota Korpri dan tak punya kartu BPJS Kesehatan. Sungguh nelangsa kehidupan punakawan sekaligus penasihat kerajaan Ngamarta ini. Masa muda tak bahagia, setelah tua banyak biaya.

Lebih dari dua minggu Semar terkapar di ranjang, setelah minta pulang paksa dari RS. Anehnya, penyakit Semar demikian parah,  Raden Harjuna datang membezuknya meski terlambat. Tapi bisa juga dimaklumi, karena kesatria Madukara ini juga sedang dilanda problem multi dimensi. Nggak ada angin nggak ada hujan, mendadak dua istri tercinta dwi tunggal Sembadra – Srikandi menghilang dari kesatrian. Praktis Harjuna menjadi jomblo. Soalnya nggak ada lagi yang ngurus atas dan bawah.

“Rama Semar, kalau sampeyan mati, Monas itu nanti punya siapa?” Bagong bertanya penuh harap.

“Ya jelas punya Pemda DKI. Kok doamu jelek amat sih?” sergah Gareng. Dia marah sekali, karena si bungsu ini belum-belum sudah berharap warisan.

Bukannya berharap warisan, hanya Bagong ini khawatir nantinya kawasan Monas bakal dikapling-kapling. Soalnya gubernur baru bertekad akan membangun tanpa menggusur. Walhasil, jika nantinya penduduk menduduki kawasan Monas, tak bakalan digusur. Justru di situ akan dibangun rumah deret atau rumah murah dengan DP nol rupiah. Soalnya yang penting rakyat bahagia.

Harjuna sesungguhnya sudah mendengar perihal sakitnya Ki Lurah Semar. Tapi karena dia sendiri sedang pusing, cotho kehilangan dua istri, dia memilih pergi ke pertapan Candisaptaharga tempat berdomisili Behawan Abiyasa, sekaligus penasihat spiritual Ngamarta. Di sini dia berkeluh kesah tentang berbagai probelum yang begitu multi dimensi. Ya soal poligami, ya ekonomi.

“BBM kan belum naik Eyang, tapi kenapa harga-harga tak mau turun?” kata Harjuna.

“Aduh cucuku ngger Arjuna, itu urusan Faisal Basri. Eyang begitu blank soal teori ekonomi,” jawab Abiyasa blak-blakan saja.

Tapi soal problem poligaminya, Begawan Abiyasa menyerahkannya untuk berkonsultasi pada Begawan Sukmaseta di padepokan Bangunkerta. Demikian juga masalah sakit Semar yang madal tamba (susah diobati), semuanya bakal beres di tangan pendita tiban yang tak ketahuan dari mana asal muasalnya.

“Dia memang paranormal baru, yang baru pula lulus uji kelayakan di DPR. Dia wayangnya jujur, anti upeti dan gratifikasi.” Saran Begawan Abiyasa.

“Semoga saja nggak ikut Pilkada. Kalau ikut bisa digempur isyu SARA dan masuk penjara dia.” Harjuna bergumam.

Begawan Abiyasa mengangguk. Dia segera pamitan dan langsung ke Gambir naik KA Bangunkarta (Jombang  – Jakarta). Tiba di sana ternyata Begawan Sukmaseta tengah bertapa dengan ditunggui kedua cantriknya, masing-masing Bambang Pramusinta dan Bambang Sintawaka. Bambang Susatyo absen, karena ikut sibuk di DPR untuk menangkal isyu korupsi e-KTP di Senayan.

Agar urusan cepat selesai, Harjuna maunya jemput paksa Sang Begawan. Tapi dilarang keras oleh kedua cantriknya. Meski sudah diiming-imingi cek masing-masing senilai Rp 5 juta, tak juga berkenan. Bahkan mereka balik mengancam,

“Payah, Harjuna nggak sportif! Kami bukan pasukan nasi bungkus, tahu!” protes  Pramusinta-Sintawaka.

“Sorry, aku harus gerak cepat. Ruangan terbatas, coi….!”

Begawan Sukmaseta saat itu masih tertidur pules mirip anggota DPR. Dia bertampang raksasa, tapi berjubah putih  dan jenggotan macam wayang radikalis. Namun demikian dia tetap berazaskan Pancasila, sehingga tak khawatir dibubarkan negara. Harjuna yang berpacu dengan waktu, langsung menggoyang-goyang tubuhnya, berusaha membangunkan secara paksa. Tapi tak juga bergeming.

“Bangun, bangun! Sudah mau imsak nih…..,” ujar Harjuna kesal.

“Nggrgghhh, nggrghhh, nggrrghhh……pyekk!” hanya begitu dia bereaksi.

Harjuna lalu ingat gaya tidur Arya Kumbokarno dalam kisah  Perang Ngalengka.  Makanya dia segera mencabut wulu cumbu (rambut di jempol kaki), brull….! Ee, betul juga. Begawan Sukmaseta mendadak bangun, tapi sambil marah. Harjuna segera digetak (dikejutkan) bbbah…..! Harjuna pun terbang melayang-layang, sampai akhirnya mak gedebug terdampar di Karang Kebolotan, padhepokane Ki Lurah Semar. Ini justru menguntungkan bagi Harjuna, karena bisa bezuk Ki Lurah Semar tanpa biaya transportasi.

Dia segera masuk tanpa malu-malu. Pede lagi, bezuk orang sakit tanpa membawa apa-apa. Tapi keluarga punakawan yang sudah tahu watak asli Harjuna, sangat memaklumi. Kesatria Madukara ini memang banyak ide dan pemikirannya, tapi giliran harus keluar ongkos merealisikan ide-idenya, pasti menghindar.

“Kakang Semar maaf ya, aku terlambat bezuk kamu. Karena dua istriku sendiri sedang minggat bareng, hu hu hu………..,” ujar Harjuna malah nangis.

“Ah biasa! Nggak pejabat wayang nggak pejabat orang, suka banyak alasan….,” sindir Semar, tanpa ekspresi.

Tapi sungguh aneh, tetesan air mata itu ketika menetes di tubuh Semar menjelma jadi obat mujarab. Serta merta Semar bangkit, rosa-rosa bagaikan Mbah Maridjan dari Merapi. Punakawan jompo ini langsung berjingkrakan, karena batal dikunjungi Betara Yamadipati alias dewa pancabut nyawa.

Belum juga puas menikmati kegembiraan itu, mendadak Prabu Kresna datang, mewartakan bahwa kerajaan Ngamarta bedhah (lumpuh) diserang pasukan kera dipimpin Begawan Sukmaseta. Mereka main bacok, main kompas. Bahkan Werkudara, Gatutkaca sapukawat Ngamarta, kini ditangkepi, katanya untuk pembuktian terbalik, sehubungan rekeningnya yang mencurigakan di bank.

“Sesuai petunjuk Kaca Paesan, yang bisa menyelesaikan cuma kakang Semar, ini.” titah Prabu Kresna sambil membuka Kaca Paesan versi baru, mirip smartphone. Bisa juga untuk nge-WA.

“Eee, eee, blegedhuweg ugeg-ugeg. Baru saja sembuh sudah dipaksa berjuang lagi….,” Semar berlagak protes.

Semar segera berangkat ke Ngamarta. Benar juga, Begawan Sukmaseta bersama Bambang Pramusinta-Sintawaka kini tengah menguasai roda pemerintahan Ngamarta. Semar segera bagi tugas. Dua Bambang tersebut diserahkan Harjuna sementara Semar menghajar Begawan Sukmaseta. Mengingat ruangan semakin kritis, tanpa dialog tanpa ba bi bu, mereka langsung berantem antara hidup dan mati.

Di tangan Harjuna, ternyata Bambang Pramusinta – Sintawaka berubah menjadi Sembadra dan Srikandi. Sedangkan Begawan Sukmaseta setelah dikentuti Semar dengan “bom atom”-nya, kontan berubah menjadi Resi Anoman dari Kendalisada.

“Eee, ternyata dalangnya pensiunan perwira Pancawati. Tanggal begini kelayapan, memangnya nggak ambil uang pensiun?

“Kan sudah bisa lewat ATM……” jawab  Anoman. (Ki Guna Watocarita)

Advertisement