Begini Potret Kehidupan Keluarga Abil, Bocah yang Viral di Medsos

Keluarga Abil, bocah viral di Sosmed. Foto: Jun Aditya/KBK

JAKARTA (KBK) – Sejak fotonya beredar viral di berbagai akun media sosial, Abil menjadi sorotan netizen. Foto Abil menjadi viral karena bocah tersebut tertidur pulas saat menunggui dagangannya di depan Universitas Indraprasta, Jaksel lengkap dengan menggunakan seragam sekolah pramuka.

Namun apakah bocah yang memiliki nama lengkap Abil Alifudin (13) memang diperbolehkan berdagang oleh kedua orang tuanya dan bagimana kebiasaan serta prestasi Abil di Sekolah Dasar Negri 09 Tanjung Barat?

Menurut Wakil Kepala Sekolah SDN 09 Tanjung Barat, Dede Rohana, Abil merupakan bocah pindahan dari Bandung sejak 2 tahun lalu. Namun proses kepindahan sekolah Abil tak diikuti dengan berkas-berkas seperti KK dan dokumen penunjang.

“Abil pindah kesini tidak bawa dokumen apa-apa. Setiap orang tuanya ditegur jawabannya KK lagi diurus. Karena kami sekolah negri dan tidak boleh menolak anak untuk sekolah jadi Abil dipersilahkan sekolah di sini,” ujar Dede kepada KBK, Selasa (21/3).

Dede melanjutkan hal tersebut masih terus berlanjut hingga Abil duduk di bangku kelas 4. Sepengetahuan Dede dokumen berupa KK baru diserahkan ke pihak sekolah pada Novemver 2016 silam. Viralnya Abil di media sosial dikatakan Dede mesti diteliti lebih jauh.

“Apakah karena masalah ekonomi Abil jadi berdagang atau ada faktor lain. Padahal dari pihak sekolah tidak memungut biaya sepeser pun kepada siswa. Orang tua Abil selalu menunggak kontrakan padahal mereka berkerja, apakah ini karakter orang tuanya atau memang himpitan ekonomi. Ini semua mesti di teliti,” jelas Dede.

Wali Kelas Abil, Aditya Koco Pratama mengatakan Abil merupakan siswa dengan kepribadian yang emosional. Di kelas pun kata Aditya, Abil kerap tertidur, suka bercanda, sering tidak fokus mengikuti kegitan belajar mengajar dan pernah terlibat perkelahian dengan kelas lain. Di luar itu tak jarang juga Abil terlambat masuk sekolah mengingat jarak rumahnya ke sekolah terpaut cukup jauh. Di bidang prestasi Abil terbilang bukan siswa yang pandai.

“Kehadiran di semester satu ada 26 hari Abil tidak masuk tanpa keterangan. Kalau ambil rapor yang ambil pasti ibunya dan itu juga datangnya paling akhir,” ujar Aditya.

Kendati Abil merupakan siswa yang suka berdagang saat pulang sekolah, namun dikatakan Aditya Abil tidak pernah membawa dagangannya masuk ke dalam kelas.

“Kami tidak melarang siswa berdagang asalkan tidak mengganggu kegiatan belajar,” ungkapnya.

Ditanya keberadaan Abil, baik Aditya maupun Dede satu suara bahwa Abil sudah pulang sekolah.Ditemui di rumah kontrakannya yang terletak di gang tongcit 1 RT 04/ RW 06, Tanjung Barat, Jaksel, Lina Herlinawati (36) ibunda Abil mengatakan bahwa anak kempatnya itu belum pulang sekolah.

“Biasanya Abil kalau pulang sekolah berjualan tapi hari ini katanya abis pulang sekolah mau shooting sama tv oleh karena itu belum pulang,” Kata Lina.

Lina menuturkan Abil sudah terbiasa berdagang tisu, minuman botol dan camilan kecil sejak 1 tahun lalu. Sejatinya Lina sebagai ibu melarang Abil untuk berjualan namun Abil balik menuntut Lina supaya bisa memenuhi kebutuhan jajan Abil dan keluarga.

“Kalau Abil nggak boleh jualan ibu harus kasih uang jajan ke Abil,” ujar Lina menirukan ucapan Abil ketika melarangnya berjualan.

Atas dasar itu Lina yang hanya pedagang minuman ringan di SDN 05 Tanjung Barat tak bisa berbuat banyak selain memperbolehkan Abil berjualan. Aep Saepudin (45) bapak Abil yang berprofesi sebagai penjual cilok dan seblak pun penghasilan-nya tak bisa diandalkan.

Lina mengatakan setiap pulang sekolah Abil selalu berjualan di sekitar Universitas Indraprasta hingga pukul 3 sore. Setelah itu Abil lantas beristirahat di warung internet sabil memaninkan game online dengan menggunakan uang hasil jualan sampai pukul 4 sore. Setelah itu Abil lanjut jualan sampai pukul 21.00

Di rumah kontrakan berukuran 3 X 8 meter,setiap malam Abil mesti berbagai ruang untuk tidur bersama 9 orang anggota keluarganya.

“Anak saya lima, yang pertama putus sekolah kelas 2 SMK, yang kedua sudah nikah dan punya anak 1, ketiga masih kelas 1 SMP, keempat Abil dan kelima Alifa Jibrina yang masih berusia 3 bulan. Kalau ditotal ada 9 kepala yang tidur di sini karena mantu ikut saya,” tambah Lina.

Di kontrakan itu pun Lina baru tinggal 3 bulan menetap, sebelumnya Lina, Abil beserta keluarga tinggal di RT 04/ RW 06 namun karena tak mampu membayar mereka diusir oleh si empunya kontrakan. Di kontrakan yang saat ini pun Lina mengaku masih menunggak sejak pertama ia pindah.

“Abis bagaimana lagi penghasilan saya per hari sama suami kalau ditotal cuma Rp 80 ribu. Itu juga penghasilan kotor. Mantu saya yang nyampur di sini masih nganggur. Belum juga dipotong beli susu untuk cucu. Itu anak pertama saya putus sekolah juga karena tidak punya biaya lagi,” keluh Lina.

Viralnya Abil di media sosial ternyata berdampak positif kepada keluarga. Pada senin lalu biaya kontrakan yang sempat menunggak selama 3 bulan dilunasi oleh para relawan. Selain itu menurut Lina anak pertamanya pun mendapat janji dari salah seorang donatur akan disekolahkan kembali.

“Biaya kontrakan yang dibayarin Rp 2,7 juta alhamdulillah ada yang mau bantu saya,” kata Lina

Advertisement