Krisis Air Bersih, Warga Kampung Cijagra Terpaksa Keluarkan Uang

Ilustrasi/ liputan6

BANDUNG – Krisis air bersih membuat warga Kampung Cijagra, RT 06, RW 11, Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung terpakasa mengeluarkan uang untuk mendapat air bersih.

Neni, salah seorang warga Kampung Cijagra mengatakan harus mengeluarkan uang untuk jasa pengantar air bersih dari salah astu pabrik yang memberikan fasilita air bersih gratis.

Biasanya, satu jerigen dihargai sebesar Rp 1.000 dan kebutuhannya sebanyak 10 jerigen sehingga biasa satu hari mengeluarkan uang Rp 10.000. “Uang itu untuk orang yang mengantarkannya, kalau air mah gratis dari pabrik 24 jam,” ungkapnya, Selasa (21/3/2017, kepada Republika.co.id.

Hal terebut haru dilakukan karena air yang ada di rumahnya berwarna kuning sehingga hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Itu pun harus memakai filter. Dirinya memperkirakan hal tersebut terjadi karena dampak adanya pabrik di sekitar pemukiman warga.

Ia mengaku sejak berada di Kampung Cijagra 4 tahun silam, kondisi air di sumur atau jetpump milik warga sudah berwarna kuning.  Ia berharap bisa mendapat air bersih yang terjangkau. Sehingga tidak perlu mengambil dari pabrik dan juga tidak perlu merogoh kocek untuk membayar biaya pengiriman air bersih tersebut dari pabrik.

Terpisah, Kasi Pembangunan Air Bersih Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan, Kabupaten Bandung, Erpi Suwandi mengakui jika masih terdapat daerah di Kabupaten Bandung yang rawan kekeringan seperti Pameungpeuk Banjaran, Bojongsoang dan Ciparay.

Dirinya mengklaim berdasarkan data akhir 2016, akses masyarakat terhadap air bersih sudah mencapai 76,04 persen. Di mana instansi yang melayani langsung kebutuhan air bersih masyarakat di antaranya PDAM. Sementara, akses tidak langsung dilakukan dengan cara yang lain.

Advertisement