TAKLUKNYA Tim Nasional PSSI Garuda dari tim Gajah Petarung, Thailand (0 – 2 ) pada leg tandang di final piala AFF Suzuki 2016 sangat menyesakkan bagi para pecandu dan pecinta sepakbola di tanah air.
Mimpi untuk menyaksikan kemenangan laskar Garuda langsung buyar saat wasit meniup peluit panjang, menandai usainya laga final AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu malam. Thailand menang dengan skor agregat (3 – 2).
Terseok-seok sejak babak penyisihan yakni takluk 2 – 4 melawan Thailand, imbang dengan Filipina, 2 -2 dan baru menang 2 – 1 lawan Singapura, skuad Garuda melaju ke semi final dengan kemenangan di laga kandang ( 2- 1) dan hasil seri di laga tandang (2 – 2) melawan Vietnam.
Pintu juara terbuka lebar, setelah para punggawa Garuda menaklukkan Thailand dengan skor (2 – 1) di leg pertama (laga kandang) di Stadion Pakansari, Bogor Rabu lalu (14/12). Indonesia tinggal melenggang menuju podium juara, cukup dengan hasil seri, atau kalah dengan selisih satu gol dengan memasukkan minimal dua gol ke gawang Thailand. (misalnya 2-3, 3 – 4 dst).
Publik sebenarnya tidak berharap banyak pada timnas dalam laga AFF 2016 ini, mengingat sepakbola Indonesia (ranking FIFA ke-179) memang miskin prestasi sejak sekitar dua dasawarsa terakhir ini, ditambah lagi, PSSI absen di laga internasional akibat larangan FIFA selama sekitar satu setengah tahun.
Masa persiapan yang pendek, hanya tiga bulan, belum lagi batasan dua pemain klub yang dipinjamkan untuk memperkuat timnas, membuat tidak banyak pilihan bagi Alfred Riedl untuk membentuk tim sesuai pilihannya.
Indonesia di ajang turnamen AFF, dijuluki spesialis runner-up, lima kali pencapaian tertinggi (pada 2000, 1 – 4 lawan Thailand, pada 2002, skor 2 – 4 juga lawan Thailand, pada 2004 kalah (2 – 5) melawan Singapura dan 2010 skor (2 – 4) lawan Malaysia.
Asa dan tekad bisa dilambungkan setinggi mungkin, namun kenyataan bisa juga menentukan lain. Sejak menit-menit awal, gawang tim Garuda tak henti-hentinya digeruduk Thailand. Alih-alih balik menyerang, barisan belakang timnas keteteran menghadapi gempuran lawan, sehingga kebobolan gol tinggal menunggu waktu.
Strategi sang pelatih Garuda, Alfred Riedl agaknya tidak keliru. Thailand pasti lah akan berusaha mencetak gol secepat mungkin karena jika pertandingan berakhir seri, Indonesialah yang akan keluar sebagai pemenangnya.
Mimpi rakyat dan penggawa Garuda kandas lagi, karena permainan tim Gajah Petarung Thailand memang sekelas diatas Garuda.
Kekalahan bukan akhir segala-galanya. Banyak hikmah yang bisa dipetik mengenai persepakbolaan, misalnya membuat rencana pembinaan jangka panjang dan berjenjang, karena terbukti mustahil mencetak tim tangguh secara “instant”
Di luar persepakbolaan, hikmahnya a.l. pembelajaran untuk menerima kekalahan dengan legawa dan fair misalnya dalam merespons hasil sidang dakwaan penistaan agama terhadap Ahok yang menuai pro-kontra publik.





