Berani kah China Serbu Hong Kong?

Dunia dan rakyat Hong Kong cemas atas kemungkinan campur tangan militer China mengatasi gejolak yang terjadi di wilayah administrasi China ini. Dikabarkan satua paramiliter China sudah disiapkan di provinsi tetangga Hong Kong, Shenzen.

PASUKAN para militer China dilaporkan sedang menggelar latihan besar-besaran di provinsi Shenzen, tetanggga wilayah administrasi Hong Kong yang sedang bergolak seja 2,5 bulan terakhir ini.

AFP dan Reuters melaporkan, ratusan anggota satuan militer, mirip pasukan Anti Huru-hara (PHH) TNI yang di-BKO-kan menangani tugas-tugas kepolisian, berlatih menghadapi aksi massa di salah satu stadion di Shenzen, Kamis (15/8).

Saat mereka berlatih simulasi mengatasi aksi unjukrasa, di luar stadion tampak berjejer ratusan kendaraan taktis pengangkut personil, mobil meriam air dan pengangkut amunisi.

Media pemerintah Global Times juga menyiarkan latihan pengendalian huru-hara dalam skala besar oleh militer China di kota Shenzen yang disebut sebagai “pesan yang jelas” terhadap para perusuh.

Bahkan Editor Global Times HU Xijin di akun medsos mengingatkan, latihan yang digelar satuan PAP di Shenzen merupakan signal bahwa Beijing siap menyerbu Hong Kong kapan saja jika menilai, pendemo tidak mau mundur dan mendorong situasi ke “tubir jurang” krisis.

Eskalasi aksi unjukrasa terus meluas, bahkan selama dua hari, Senin dan Selasa lalu (12 dan 13 Agustus) massa sempat menduduki ruang kedatangan Bandara Hong Kong sehingga melumpuhkan ratusan penerbangan di bandara paling sibuk di dunia itu.

Aksi massa yang semula menyasar tuntutan pembatalan pengajuan RUU Ekstradisi yang memungkinkan pelakunya diadili di daratan China kemudian beralih pada upaya untuk melengserkan penguasa Hong Kong pro-China, Carrie Lam.

Dilematis
Bagi penguasa China daratan, pilihan langkah yang dipilih untuk mengatasi gejolak di Hong Kong sangat dilematis, bagai menghadapi buah “si malakama”.

Mengabulkan tuntutan massa, berarti tamparan atau kekalahan, sedangkan menggunakan kekuatan militer berarti menentang slogan “Satu Negara Dua Sistem” yang didengang-dengungkan mereka sendiri.

Lagi pula, aksi militer tentu bakal menuai reaksi keras berbagai pihak sehingga pada gilirannya bakal merusak reputasi negara tirai bambu itu yang sedang berupaya membangun hegemoni.

Pengamat Institut Studi Strategis Internasional (IISS) berbasis di Singapura, Alexande Neil juga menilai, pengerahan dan latihan milter China di Shenzen hanya lah propaganda atau sekedar gertakan terhadap pendemo.

Semakin tingginya tekanan publik, tercermin dari pengunduran diri boss Cathay Pasific, maskapai penerbangan bereputasi internasional Hong Kong, Ruppert Hogg setelah dikecam pemerintah China karena karyawannya terlibat aksi unjuk rasa.

Kemlu AS menyampaikan keprihatinan atas kehadiran satuan paramiliter China di Shenzen, sedangkan Presiden AS Donald Trump meminta otoritas Beijing menangani demonstran dengan manusiawi.

Yang sedikit melegakan, media-media di daratan China meyakinkan publik, pemerintah China tidak akan mengulangi tragedi Tinanmen 30 lalu dimana tentara memberangus aksi unjukrasa dengan kekerasan sehingga menimbulkan korban jiwa yang sampai kini juga tidak diketahui jumlahnya.

Di penghujung pekan, Sabtu (17/8) pendemo tetap melakukan aksinya di pusat kota Hong Kong walau di tengah guyuran hujan.

Rakyat Hong Kong dan dunia cemas mengamati langkah apa yang akan diambil China selanjutnya.(AP/AFP/ns)

Advertisement